Membaca senikmat makan coklat

DEK’s 10th Open Discussion

Tanggal Diskusi    : 22 Februari 2017, 20:00 WIB
Tema Diskusi         : MEMBUAT ANAK MEMBACA SENIKMAT MAKAN COKELAT!
Narasumber           : Jayaning Hartami
Moderator               :  Asih
Notulen                    : Siwi dan Silvi

Momod Asih
Haaaiii semuaaa 👨‍👩‍👧‍👦👨‍👩‍👧‍👦
Selamat jam sebelasan di hari rabu menggebbbuuu 😍💪
Perkenalkan sy Asih, momod girang, halah, ixixixix 👻

Terimakasih banyak sudah bersedia bergabung di mari dg gembira 😍😘
📒📒📒📒📒

Sudah baca apa hari ini? isi WAG? koran? Kitab suci? berita? artikel? marathon baca status medsos? atau malah hoax? ixixixix 🙈

Sudah ada yg khatam baca buku hari ini? 📚 🤔

Atau minimal, dlm seminggu ini, dlm sebulan ini? 📖

Adakah yg mengalami baca buku malah ngantuk dan rasanya lamaaa, tp baca medsos malah semangat? ixixixix 😅
Naaah, dari pertanyaan2 reflektif yg cukup dijawab dalam hati saja tsb, barangkali bisa sedikit “mengukur” setinggi apa minat baca (buku) kita ya…👩‍🎓👨‍🎓🙇‍♀🙇🏻📖📚

Tema diskusi yang diselenggarakan komunitas DEK belakangan ini memang bertema ttg literasi. Setelah sebelumnya bersama mba Ines membahas literasi lingkungan dan bareng mas Aji membedah literasi medsos dan hoax, tema diskusi kita kali ini akan membahas persoalan minat baca anak 👨‍👩‍👦‍👦📚
Kalo bahas ttg anak, tentu ga bisa dilepaskan dr peran ortunya donk yaaa…. Menumbuhkan minat baca anak, pasti membutuhkan pembiasaan dr ortunya. Mau ga mau ortunya juga kudu sering2 beraktivitas membaca 🤓📖
👫👫👫
Maka, silakan para ortu dan calon ortu di sini untuk MEMBACA terlebih dahulu peraturan, biodata, dan materi diskusi kita yaa :D📖 Silakan membaca dg gembiraa ixixix. Baca sambil senyum2 juga boleh banget :mrgreen: Dilarang membaca dg terpaksa krn itu sangat menyiksa, harus gembira yaaa ixixixixix 😍❤

BIODATA NARASUMBER

Biodata
Nama lengkap     : Jayaning Hartami
Nama panggilan : Tami
Domisili                : Bandung

Riwayat pendidikan :

S1 Psikologi Universitas Indonesia
S2 Magister Terapan Psikologi Intervensi Sosial Universitas Indonesia
Aktivitas saat ini :

💜IRT
💜Best Book Advisor 2016
💜Mengelola tim berisi lebih dari 500 Book Advisor terbaik negeri ini ^^
Akun sosmed :
Fb : Jayaning Hartami
Ig : @jayaninghartami

Untuk mendapatkan lebih banyak sharing info dan tips terkait program literasi keluarga, bisa join channel telegram : @jayaninghartami90

PENGANTAR

MEMBUAT ANAK MEMBACA SENIKMAT MAKAN COKELAT!

Oleh Jayaning Hartami, M.Psi Ter.
msc2Best Book Advisor 2016 PT MDS
Izinkan saya mengawali diskusi kali ini dengan berbagi kegelisahan, agar hal ini menjadi kegelisahan kita bersama :
Jauhnya masyarakat kita dari budaya membaca.
Soal ini, mungkin skor Programme for International Student Assessment (PISA) akan cukup menghentak kita saat ia menempatkan Indonesia di posisi 60 dari 65 negara dalam urusan literasi.
Kelima. Dari bawah. Bahkan ketika pembandingnya “hanyalah” negara negara tetangga kita di kawasan Asia Tenggara.
Tapi angka hanyalah angka.

Dia akan diam menjadi data tak berdaya yang mungkin membuat kita kaget sejenak. Tapi kemudian berlalu begitu saja.
Tapi jauh menembus itu semua,

Ini soal kegelisahan.
Tentang kerinduan melihat buku buku muncul sebagai pusat gravitasi di rumah kita. Posisi yang selama ini mungkin sudah terlalu lama tergantikan oleh tv, gadget, play station, dan kawan kawannya..
Semoga hari ini kita berkumpul pun atas dasar kegelisahan yang sama.. ^^
***
Membuat anak membaca senikmat makan cokelat.
Percaya gak? Semua anak itu sebetulnya terlahir untuk bisa dibuat suka membaca loh 😉
Tapi jauh sebelum berusaha membentuk anak, ada pertanyaan yang perlu kita ajukan ke diri kita sebagai orang tua :
Sudah sebesar apa porsi yang kita berikan pada aktivitas membaca di rumah kita? Sudah sejauh mana ia menjadi prioritas di agenda keseharian keluarga?
Kenapa ini penting?

Karena tidak sekali dua ada Ayah Ibu yang datang bercerita.. anak anak sudah dibelikan buku ini itu, kok tetep gak tertarik juga ya?
Tapi ketika diselidik lebih jauh, ternyata anak “dibiarkan” begitu saja dengan buku bukunya. Lalu orang tua berharap ada keajaiban dari langit yang tiba tiba membuat anaknya gila membaca.
To tell you the truth, GAK ada satupun buku yang bisa membuat anak suka membaca. Gak ada.
Karena kunci ada di kita, orang tuanya. Sejauh mana kita menghadirkan buku bukan hanya sebagai benda tak bernyawa, tetapi mampu dimaknai anak sebagai sumber ilmu yang tiada putusnya.
Ah, itu sih kelewat filosofis.. mungkin sebagian kita berkata begitu dalam hati. Wah justru! Hal hal filosofis ini adalah energi yang akan menggerakkan kita untuk gigih melakukan hal hal teknis lainnya. Agar anak merasakan bahwa membaca buku jauh lebih lezat dari sekedar makan cokelat!
Jika ingin dijabarkan menjadi langkah rinci, ada beberapa golden rules yang saya dan suami coba diterapkan di rumah kami terkait menumbuhkan budaya baca di rumah.
Bisa jadi berbeda sesuai dengan value masing masing keluarga. Bisa jadi sama. Silahkan diambil yang baik baiknya saja yaa.. ^^
💜 Membiasakan anak berinteraksi dengan buku sejak dini.

Ketika menyebutkan “dini”, mungkin banyak yang bertanya : sedini apa? Sedini mungkin! Sejak belum lahir kalau perlu. Hehehe.. tentu Ayah Bunda disini sudah paham kan bahwa sejak dalam kandungan pun bayi sudah bisa mendengar? Nah, momen itu jangan disia siakan!

Jujur aja mungkin banyak dari kita yang merasa “garing” ketika baca buku buat anak yang lahir aja belom.. atau bacain buku ke bayi bayi yang ngerti aja belom.. Sama. Saya juga. Hihihi..  tapi just do it! Lakukan!

Karena “tembakan” pertama kita adalah PEMBIASAAN. Mengajak anak berinteraksi dengan buku sejak dini adalah soal pembiasaan. Pertama, membuat anak terbiasa dengan aktivitas membaca di siklus kesehariannya. Kedua, membiasakan diri kita -iyap, orang tuanya- menyisihkan waktu khusus untuk aktivitas membaca dalam agenda di rumah kita.
💜 Children see, children do.

Jadilah panutan utama mereka dalam hal membaca! Akan sangaaat susah mengharapkan anak suka baca jika kitanya aja jarang terlihat melakukannya.

Ah ya, buat ibu ibu yang dulu suka bacanya sambil curi curi waktu saat anak udah bobok, coba deh bacanya dibikin terang terangan. Hehehe.. biarkan anak melihat bahwa ibuknya kok keliatan asik banget yaa kalo lagi pegang buku. Lama-lama, dia akan ikut penasaran 😀

Satu lagi yang kami coba lakukan, ketika anak bertanya suatu hal dan kami tahu jawabannya. Anak biasanya akan nanya, “Ami/Abi tau dari mana?” Biasanya akan kami jawab dengan, “Tau dari baca buku, dong Kaak..” lambat laun anak akan mempersepsi bahwa ada banyak ilmu yang bisa ia dapati dari buku buku 🙂
💜 Memberikan buku FISIK. bukan e-book, kindle, dan kawan kawannya.

Beberapa kali ada yang bertanya pada saya, “Lo jualan buku hari gini? Jaman udah modern kali. Sekarang tuh baca bisa di e-book!”

Duh, mungkin mereka tak pernah menikmati masa deg degan tiap Kamis pagi menunggu datangnya Majalah Bobo edisi terbaru di masa kecilnya dulu, hehehe..

Kenapa saya jauh lebih memilih buku fisik daripada elektronik? (FYI, di rumah kami anak anak belum dikenalkan dengan e-book sama sekali) karena jelas, soal pencahayaan. Buku fisik jauh lebih menyehatkan dibanding elektronik. Layar gadget itu mudah membuat mata lelah. Nah kalau udah lelah, mana mungkin bikin anak jadi betah?

Kemudian pernah ada satu penelitian yang saya baca (dan belakangan saya cari ada jauh lebih banyak lagi penelitiannya akhir akhir ini), bahwa saat membaca buku non fisik, ada satu hal yang hilang : memori taktil.

Ternyata, ketika anak membaca buku fisik ia memperoleh sensasi taktil (sentuhan) dengan lembaran yang dipegangnya. Bahwa ternyata pada aktivitas “sekedar” membolak balik halaman buku pun, terjadi pola ritmik yang kemudian lebih memudahkan otak kita untuk memahami isi bacaan.

Dan tentu, buat anak anak kesayangan kita, menggenggam, membuka, lalu membolak balik halaman akan memberikan benefit tersendiri dalam melatih motorik halusnya 😀
💜 Membatasi penggunaan benda yang berpotensi mengurangi rentang fokus anak.

Aktivitas membaca itu butuh konsentrasi, setuju gak?

Membaca itu butuh sabar. Sabar mengeja setiap kata. Sabar memahami setiap kalimat. Poin ini yang sebenarnya membuat aktivitas membaca jadi penting ditanamkan pada anak di usianya yang paaaling dini.

Karena kemampuan fokus pada suatu hal akan jadi kemampuan dasar yang akan membantunya survive di tugas perkembangan yang akan mereka hadapi di tahapan usia selanjutnya.

Tapi sayang, seringkali hal ini kita ganggu dengan memberikan benda benda yang bergerak terlampau cepat melebihi kemampuan cerna otak anak. Sebut saja tayangan tv tanpa henti.. kebebasan akses youtube (bahkan meski film anak anak sekalipun).. berbagai game di hp.. dan masih banyak lagi.

Semakin cepat adegan yang dilihat anak, semakin terdistraksi otaknya, dan semakin sulit baginya untuk berkonsentrasi. Untuk bisa fokus membaca? Apalagi! Otaknya tidak lagi mampu “bersabar” membaca baris baris kalimat dibandingkan menonton ratusan tayangan bergerak.

Kami tidak mensterilkan anak anak dari semua itu, tetapi cukup strict sesuai dengan tahapan usianya. Misalnya akses tv baru diberikan buat si Kakak yang sudah berusia 6th, itupun dengan pengaturan waktu yang disepakati, gak tiap hari. Dan jaaauuh, sebelum anak anak berkenalan dengan tv, mereka sudah lebih dulu berulang diajak berinteraksi dengan buku. Sehingga bagi anak, tv itu cuma SALAH SATU sumber hiburan. Salah satu aja. Jadi nyala ya ditonton, gak nyala ya gak papa. Karena masih banyak buku yang bisa dibaca 😀
💜 Menyediakan buku sesuai tahap usianya.

Saya pernah iseng membandingkan konten buku anak lokal yang biasa saya temui di toko buku, dengan konten buku impor yang dijual di BBW beberapa waktu lalu.

Perbedaan teeerbesar yang saya dapati dari keduanya adalah, betapa buku buku anak impor itu terasa jauuuh lebih sabar dibandingkan dengan buku buku lokal kita.

Misalnya, buku impor bisa hanya membahas huruf “A” saja di diseluruh halamannya. Iya, cuma mengenalkan huruf “A” aja dibikinin satu buku sendiri sama mereka. Coba kita? Pengennya beli satu buku yang diharap udah berisi semua hal. Kalopun isinya ngajarin huruf, jangan cuma A dong! Sayang amat. Sampe Z kalo perlu! wkwkw..

Padahal tiap anak punya tahap perkembangannya. Punya tahap pemahaman bacaannya. Anak yang masih bayi, pastinya jauh lebih pas diberikan buku yang lebih banyak gambar daripada kata kata. Yang ilustrasi bukunya sudah bisa mewakili isi ceritanya. Mau awet juga? Beliiin lah yang bentuknya boardbook. Jadi aman mau dieksplor pake iler juga, hehehe..

Tapi soal pemahaman bacaan ini, saya punya beberapa pengalaman menarik. Cerita dari kawan kawan Book Advisor di komunitas saya yang bercerita bahwa anak anak mereka yang memulai dibiasakan membaca sejak kecil, terlihat punya pemahaman bacaan yang lebih jauh dibanding anak anak seusianya.

Misalnya si anak yang sejak bayi sudah dibiasakan dengan buku cerita sederhana, ternyata ketika dicoba diajak “membaca” buku berbentuk ensiklopedi di usia 4 tahun, ia sudah bisa ikut menikmatinya.

Belakangan saya membaca di beberapa studi, bahwa ternyata bayi yang rutin dibacakan buku oleh orang tuanya ternyata cenderung memiliki 300 kosa kata yang jauh lebih banyak dibanding anak seusianya. See? Aktivitas “garing” yang kita rasakan kayak gak ada responnya, ternyata punya efek luar biasa buat anak anak kita di masa depannya!
Duh jadi kepanjangan. Hehehe.. begini nih kalo udah nulis soal buku dan membaca. Rasanya gaaak ada abisnya 😂
Tapi dicukupkan disini aja yaa.. bisa lebih banyak dieksplor di sesi tanya jawab dan diskusi.
Sebagai penutup, ada satu kutipan dari Napoleon Bonaparte yang amat saya sukai,
“Show me a family of readers. And I will show you the people who move the world!”

🕵🏻‍♀ Momod Asih
Selamat malam kamiiiisss 😍
Terimakasih sudah membaca materi dan mengajukan pertanyaan 🤗👨‍👩‍👦‍👦
Alhamdulillaah, narsum gembira kita, teh Tami, sudah Berada di tengah2 kita :mrgreen:
Assalaamu’alaykum teh Tami 🤗😍😘

👱🏻‍♀ teh Tami
Wa’alaykumussalam ^^
Salam kenal teman2 semua 😍😍😍

🕵🏻‍♀ Momod Asih
Teteh, kita langsung masuk sesi tanya jawab ya 😆 soale banyak bgt nih pertanyaan yg masuk 😋😋
Yuk, masuk ke pertanyaan 1
1⃣. Fatimah, Padang
kan sudah dijabarkan, children see, children do.

nah, klo saya pribadi emg suka baca buku. tp suami kurang suka..

a. bagaimana strategi untuk mengajak paksuami yg kurang suka baca buku (lebih suka yuotube) agar mau mencontohkan anak rajin baca buku

b. saya klo lg baca buku, seperti org terhipnotis, seakan raga terbebas, menjauh dari dunia sekitar.. jd kdg kena tegur paksuami krn lg baca, ga denger (atau ga peduli (?) 😂😅) anaknya nangis.. atau klo lg sama anak, saya baca bukunya gausah serius² aja?

c. boleh ga sih, klo kita bacain buku² yg bukan buku anak² gitu ke anak? misal, buku prophetic leadership. krn ada bagan warna warninya, jd anaknya suka liat² gitu 😅😅

d. apakah komik termasuk buku yg boleh diperkenalkan sejak dini?

👱🏻‍♀ teh Tami
Bismillah.. nuhun mba fatimah atas pertanyaannya.
saya coba jawab satu persatu yaa..
a. Suami gak suka buku?

Hehehe.. pasti berat ya rasanya saat yang terjadi seperti itu.
Dan dari curhatan banyak kawan, kasus ini yang paling jamak terjadi. Istrinya suka buku, suaminya gak. Atau kebalikannya suaminya yang suka, istrinya enggak hehehe..
Kebetulan itu juga yang saya alami di rumah. Suami dulu gak begitu concern soal buku dan aktivitas membaca.
Tapiii… saya percaya bahwa pernikahan itu semestinya *saling memberdayakan*.
Saat ada hal2 tertentu yang kalau nunggu suami mungkin gak jadi2, ya udah kita yg take the lead aja 😁
Gempur anak2 dengan buku buku. Toh mayoritas anak memang lebih banyak berinteraksi dengan ibunya kan ketimbang ayahnya? ^^
Ketika lambat laun pola di anak sudah terbentuk,
Akan lebih mudah mengajak si Ayah untuk terlibat di pusaran yang sama.
Kalau yang terjadi di rumah kami, tanpa si ibu perlu banyak buka pembicaraan soal pentingnya bacain buku ke anak.. eh anaknya sendiri kok yang nagih2 minta dibacain buku sama Ayahnya. Hehehe..
Tapi tetap buka ruang2 diskusi antara suami istri yaa.. misalnya kesepakatan kalau ayah mau youtube-an boleh aja. Tapi jangan di dalem rumah. Di teras aja 😂 atau pas bocah2 bobok aja.
Harus mau ngalah dikit laah. Kan udah jadi orang tua 😀
b. Mba fatimah mirip sama saya. Saya kalo udah baca buku bisa gak nengok2 saat dipanggil. Hihihi..
Tapi segala sesuatu yang berlebihan pasti gak baik ya?
Pas lagi sama anak2, baiknya baca yang ringan ringan aja. Jadi atensi sama anak tetap ada hehe..
Sebenernya terkait baca buku di depan anak ini goalsnya cuma pembiasaan aja kok. Membuat anak terbiasa melihat ayah dan ibunya berinteraksi dengan buku.
Sama seperti dirinya ^^
C. Sebenernya buku apapun (selama kontennya positif yaa..) bisa aja dibacain ke anak.
Ini cuma perkara gimana kita *membahasakannya* aja supaya mudah dipahami anak.
👆🏻 itu khusus untuk buku yang memang dibacain sama Ayah ibunya yaa.
Tapi buat yang memang dibaca sendiri oleh anak, paling bagus memang yang sesuai dengan tahapan usianya. 😀
d. Komik apa dulu mbak? Lalu sedini apa?
Hehe.. agak terlalu general pertanyaannya sih ini..
Tp kalo saya tangkep mungkin maksudnya buku yang gambarnya banyak ya kayak komik?
Kalau saya pribadi prefer menyimpan komik dulu untuk usia awal anak.
Karena menurut saya pribadi, buku berbentuk komik yang gambar dan tulisannya terlalu banyak dalam satu grid, membuat anak lebih kesulitan mencerna isi bacaan.
Selain itu, konten komik yang saya tau selama ini belum ada yang pas untuk dikasih ke anak usia dini.. cmiiw yaa..
Oke. Done 👌🏻

🕵🏻‍♀ momod Asih
Soal komik ini,terutama komik jepang, sy jg kadang bingung teh bagian mana duluan yg harus dibaca 😅😂

🕵🏻‍♀ momod Asih
Sekat2 dan bola2 dialognya kok kayak nya urutan nya membingungkan 😂
*jangan ditiru 😬

🕵🏻‍♀ momod Asih
Demikian ya mba Fatimah, di Padang. Smg bs mendapat pencerahan dr Teh Tami 😍

🕵🏻‍♀ *Momod Asih*
Kita lanjut ke pertanyaan kedua seputar kriteria bahan bacaan yg sesuai dg Usia/perkembangan anak
2⃣. Agres
tahapan jenis buku yg baik untuk dbacakan oleh org tua sesuai dgn pertumbuhan anakny dari bayi – toddler?

Anak saya skrg usia 13 bln apakah sudah bisa dibacakan buku seperti “mengapa begini mengapa begitu”?
** Pertanyaan dr bu Agres ini mewakili pertanyaan2 serupa yg diajukan peserta diskusi ya :mrgreen:

👱🏻‍♀ teh Tami
Okee bismillaah coba dijawab yaa
Makasih mbak Agres atas pertanyaannya..
Sebetulnya tahapan buku yang pas, biasanya secara umum dikelompokkan menjadi 4 :
1.  Di bawah 2 tahun

Untuk tahap usia ini tentunya ilustrasi/gambar berperan peenting buat mereka. Karena gambar itu lah yang dicerna otak mereka sebagai representasi dari cerita yang dibacakan oleh Ayah Ibunya. Jadi baiknya di usia ini, pilihkan buku dengan ilustrasi yang jauh lebih banyak dibandingkan tulisan, yaa..
2. Usia 3-5 th (pra sekolah)

Poin pentingnya masih sama dengan tahapan sebelumnya : ilustrasi menarik yang membuat anak lebih mudah terpancing buat ngintip isi bukunya 😆

Anak usia segini biasanya udah punya interestnya masing2 tuh..
Misalnya yang cowok suka nya buku yg ada gambar mobil.. nah berangkat dari situ Ayah Ibu bisa mulai *melibatkan* anak buat memilih sendiri buku2nya. Keterlibatan ini yang kelak akan jadi memori asyik tersendiri buat si anak

3. Awal sekolah (5-8th)

Di usia ini biasanya anak sudah mulai mengembangkan kemampuan membaca.

Jadi Ayah Ibu bisa mulai menyediakan buku buku dengan isi cerita yang pendek yang mudah dieja oleh anak.
Kalau teman2 perhatikan, rata2 buku impor dirancang berisi kalimat2 yang ritmik dengan akhiran yang sama. Mirip2 kayak pantun kalau di kita, hehe..
Ternyata pola seperti itu membantu anak lebih cepat mengingat kata ^^

4. 9 tahun ke atas

Di usia ini biasanya anak sudah mampu “dilepas” untuk bereksplorasi sendiri dengan buku2nya.
Tapii, peran ortu harus selalu ada yaa..
Tetap pastikan konten buku aman dan sesuai dengan value yang dianut oleh keluarga 😀
Kalau terkait 13 bln apakah sudah cocok dibacakan buku Mengapa Begini Mengapa Begitu,
Sejujurnya saya belum pernah liat buku yang satu itu hehe.. nampaknya seperti ensiklopedi anak ya?
Balik ke penjelasan sebelumnya, saya pribadi berpendapat semua buku selama konten positif sah sah aja dibacakan ke anak di usia apapun. Tapi tentuu, ada andil ortu disitu.
Makin jauh jarak antara konten buku dgn usia anak, makin besar pula effort yang perlu diberikan oleh ayah ibu untuk membahasakan ulang konten buku pada anak ^^
Done 👌🏻

🕵🏻‍♀ momod Asih
Sip. Boleh juga ya teh, sekali2 bicara ke anak ala gaya pantun 😅 biar dia lihat, rima ga cuma di buku, tp bisa dia nikmati langsung di dunia nyata :mrgreen:
Yup, smg penjelasan teh Tami td bs menjawab pertanyaan dr peserta2 lain seputar criteria buku bacaan berdasarkan Usia anak ya 😍
Lanjut ke pertanyaan 3
Ratri, Jogja

Pertanyaan: bagaimana mentreatment anak usia 3thn yg sudah terlanjur terpapar tv&/gadget utk bs tertarik membaca buku?
pertanyaan terkait masalah gadget dan media berlayar ini juga diajukan oleh Wiwit, Cikampek
Amy, Depok
Dini, Jember
Nindya, Depok
irma , jakarta
Yovita, Bengkulu
Yuli
Diyah
Yunita , Sidoarjo
miemil, lumajang
Dona, Jakarta
Fiqo, cibinong.
Ria, Sumedang
silakan disimak ya 😀

mangga teh Tami 😍

👱🏻‍♀ teh Tami
Nah ini pertanyaan yang paling sering masuk ke inbox saya 😂😂😂

Solusinya cuma satu :
HARUS TEGA!
ini beneran. Karena untuk urusan pemakaian gadget, tv, akses youtube dan sebagainya, *itu seharusnya ada di bawah kontrol orang tuanya*
Anak beluuum punya kemampuan regulasi diri yang matang jadi beluum bisa kita harapkan untuk mampu berhenti sendiri dari semua paparan tayangan itu.
Sulit? Pasti!

Anak ngamuk? Iya!

Nagih2 nyari tv dan hp? Passti..
Namanya juga kebiasaan. Dilakukan berulang ulang. Saat gak lagi dilakukan pasti ada yang kerasa hilang.
Dan satu lagi : tv, youtube dan kawan2nya itu sangaaat menyenangkan buat anak anak. Buat orang dewasa aja menarik kok. Ya kan? 😆
Jadi saat sudah terlanjut terpapar gadget, tv dkk dalam kadar yang kelewat batas, selesaikan dulu akar masalahnya.
Stop dulu gadgetnya.

Matikan dulu tvnya.

Hentikan dulu youtubenya.
Ini juga berlaku saat anak lagi nginep di rumah nenek atau sodara yang rulesnya beda dengan di rumah. Yang akses ke tvnya gak ada batas.
Pulang nginep, biasanya anak rungsing. Pengen bebas nonton kayak di rumah neneknya. Hehe..
Ya udah, jangan dikasih 😆
Biasanya kalo kami sih nyebutnya detoksifikasi, xixixi..
Anak2 dikasih banyaak alternatif kegiatan yang nyibukin dia seharian jadi gak ada waktu kosong yang bkin mereka inget soal nonton.
Gak lama kok sebenernya.

Dibiasain seminggu dua mingguuu aja, anak berinteraksi minim dengan tv, lama2 udah kebentuk sendiri kok insyaallah.
Gak nagih2 lagi kok, insyaallah. Yg penting kitanya konsisten. Bener2 pegang kontrol, dan mau berkorban “capek” ngasih aktivitas ini itu.
Kebanyakan dari kita menyerah di tengah jalan. Karna dibanding ngasih aktivitas, nyodorin tv itu jauh lebih enak. Disetelin, anteng.
Tapi yaa berbulan kemudian pusing sendiri karna anak udah kadung kecanduan, heheeh.. wallahu’alam..
Nah saat akar masalah sudah selesai, baca buku ini baru jd step selanjutnya yang dikenalkan ke anak sebagai salah satu alternatif kegiatan yang bs dia lakukan dalam kesehariannya.
PR baangeet buat ortu utk bisa menghadirkan buku yang menarik, dan disampaikan dengan menarik pula ke anak. Jadi bagi anak, buku gak sekedar kumpulan kertas. Tapi teman perjalanan yang menyenangkan ^^
Done 👌🏻

🕵🏻‍♀ momod Asih
wuiiihhh kudu tega 💪
punten teh, mau nambahin sedikit info ttg screen media utk anak ya :mrgreen:
AAP (american academy of pediatrics) tahun lalu mengeluarkan panduan ttg paparan media berlayar utk anak :mrgreen:
Bisa disimak di sini https://www.aap.org/en-us/about-the-aap/aap-press-room/pages/american-academy-of-pediatrics-announces-new-recommendations-for-childrens-media-use.aspx
di dalamnya ada link utk membuat family media plan dan media time calculator. silakan dicoba :mrgreen:
kalo bingung karena bahasanya medis banget, bisa di simak di situs media populer berikut: http://edition.cnn.com/2016/10/21/health/screen-time-media-rules-children-aap/ atau http://www.slate.com/articles/technology/future_tense/2016/10/the_american_academy_of_pediatrics_new_screen_time_guidelines.html atau  http://www.npr.org/sections/ed/2016/10/21/498550475/american-academy-of-pediatrics-lifts-no-screens-under-2-rule
enjoy 😋
mari kita beranjak ke pertanyaan berikut seputar pemahaman isi buku :mrgreen:

4⃣. linda dari depok

1. Bagaimana memunculkan minat anak untuk membaca buku sendiri. Selama ini anak sulung saya yang sudah bisa membaca inginnya dibacakan buku saja tapi tidak mau membaca bukunya sendiri
2. Bagaimana melatih pemahaman anak akan isi buku?

👱🏻‍♀ teh Tami
Oke aku coba jawab yaa..
Makasih mba linda atas pertanyannya ^^
1. Sejujurnya, ini yang sedang terjadi di Sulung kami 😂

Ia sudah bisa membaca pendek pendek tapi jauuuh lebih suka dibacain sama ayah atau ibunya dibanding baca sendiri 😂
Sebenenya kalo begini baiknya kita bergerak selalu dari akar permasalahan.
Kenapa yaa anak lbh seneng dibacain daripada baca sendiri.
Misalnyaa..
Setelah diselidik ohh ternyata anak greget pengen segera tau the whole story dari buku, yang jelas akan lebih cepet dia dapatkan saat dibacain dibanding

baca sendiri.
Kemudian solusi yang ngikutin permasalahan,

Ohh kalau gitu alesannya besok2 beli bukunya yang pendek2 dulu aja ceritanya. Jd gak bikin anak gremet pengen buru2 menyelesaikan sementara kemampuan bacanya belum sampai sana.
Begitu kira2 ^^

👱🏻‍♀ teh Tami
2. Soal pemahaman bacaan sebenernya bisa kita lakukan di obrolan obrolan sederhana sama anak.
Misalnya sehabis baca buku tentang kendaraan, pas anak lagi main mobil2an kita bisa tuh nyeletuk2 sederhana kayak,
“Bang, ini namanya mobil apa ya? Kayak yang tadi kita baca di buku ya Bang? Jenisnya apa ya dia?”
Atau buat anak2 yang lebih besar, sepanjang membaca, diskusi pun bs dilakukan.
Misalnya selesai baca 1 halaman, kita coba tanyakan ulang, hal hal baru apa aja ya yang tadi kita baca di halaman itu.. ada kata2 baru apa yaa yang kita dapetin setelah baca halaman itu.
Intinya, buat seasyiiik mungkin. Dan dekatkan isi bacaan dengan keseharian yang dialami anak, jadii pemahaman kontekstualnya pun dapet.
Done 👌🏻

🕵🏻‍♀ Momod Asih
Sy punya gambar terkait ini mudah2an bs membantu agar anak belajar paham isi buku :mrgreen:

whatsapp-image-2017-02-22-at-20-57-56

🕵🏻‍♀ momod Asih
Gambar di atas merupakan hal- hal  yang bisa diberikan oleh ortu untuk menambah pemahaman anak akan isi bacaan

🎙 Sari
Cuma mau nambahin yang pertanyaan nomor 2 tadi. Untuk pemahaman isi buku. Di pinterest atau bisa dicari di google dengan keyword reading response. Dan segi nilai, karakter, dll. Ketika saya menjadi guru kelas 5 sd, kita menggunakan logbook untuk reading response (1 minggu 1 buku, 1 reaing response) Dan sudah dapat digunakan dari TK. Bentuknya pun beraneka ragam.
👌

👱🏻‍♀ teh Tami
Wahh nuhun mbak sari dan mbak asih atas tambahan penjelasannya ^^

🕵🏻‍♀ momod Asih
Kita beralih ke pertanyaan selanjutnya ttg buku dan biaya 😬
ada tiga pertanyaan, silakan teh Tami tanggapi ya
5⃣.Ilya, bekasi
Saya punya 1 putri usia 1 tahun. Sejak hamil suka bacain anak buku, juga ketika dy bayi. Tp sejak sudah agak besar skitar 7 bulan smpai skrng, klo mau d bacain buku, malah buku yg saya pegang d rebut dan di gigitin jg d sobek2. d kasih buku sendiri, tetep maunya buku yg saya pegang, dan sangat suka gigitin buku, sehingga buku2 d rumah pd rusak. 😥 d belikan buku bantal, tetep maunya yg kertas, jd skrg2 saya agak sulit membacakan anak saya buku, sbnernya ada pikiran, nnti aja klo dy sudah paham, supaya gak d rusak2 bukunya, tp khwatir telat,  bagaimana ya solusinya ya bu? Kalo untuk beli buku2 yg tebal2, keuangannya msh d alihkan untuk kebutuhan yg lain bu… Jd saya baru bs menyediakan buku2 berbahan kertas2 biasa.
*6⃣Arifia, Serang*
byk sekali buku2 yg hardpaper dg content yg sangat menarik untuk anak2 namun harganya memang lumayan. Bagi yg menengah ke bawah,bagamna solusinya spy bs mmberikan buku2 yg sangat cocok dg anak2 (yg hard paper)?
*7⃣Putri*
Jika nanti ketika dewasa, generasi anak2 kita akan makin terpapar dengan eBook/electronic journal/online reference/apapun itu yang biasanya lebih update ketimbang buku, sebetulnya apakah masih relevan ya menumbuhkan minat baca BUKU pada anak? Sebab saat saya skripsi saja, referensi paling update justru dari eJournal (selain pertimbangan biaya ya kalau eJournal bisa gratis hehe) apalagi ketika anak kita kuliah nanti 😁

👱🏻‍♀ teh Tami
Wahh mantep ini pertanyaanya 😆
Coba dijawab satu2 yaa..

👱🏻‍♀ teh Tami
5⃣.Makasih pertanyaannya mbak ilyaa ^^
Anak usia 7 bln memang lagi fase sensorimotor ya? Jadi wajaaaar banget kalo di usia ituu, ayah ibunya harus sering2 ngelus dada menatap nanar buku2 yang berubah bentuknya wkwkw..
Tapii, tetap diberikan aja mbak. Untuk urusan budget tiap keluarga punya value dan prioritasnya sendiri.
Ada yang memilih beli buku berbahan kertas biasa tapi dengan konsekuensi harus sering2 belinya karna usia pemakaiannya yang gak lama
Ada yang memilih buku berbahan lebih awet, bisa tahan sampai anak masuk usia sekolah tapi dengan konsekuensi keluar uang lebih banyak di awal.
Tinggal dipilih aja mana yang lebih pas buat keluarga kita ^^
Yang penting, tetap dibacain yaa bukunya hehehe..
Lagipula, sebenernya anak merobek buku itu bagian dari perjalanan kemampuan motoriknya. Awal2 mungkin tiap balik halaman sobek terus, tp lama2 mereka mampu membalik halaman tanpa merobek buku ^^

penjelasan ini smg turut menjawab pertanyaan dr bunda2 yg anaknya suka geregetan/menarik/menyobek/menggigit/memakan buku ya hehe 😍😅 Cc para peserta a.n. Nastiti-Bekasi, Andriyani-Berau, Rismala-Pinrang, Kartika-Bogor, Ike-Jakarta, Anis-Serang, Suri-Jakarta

👱🏻‍♀ teh Tami
6. Mbak arifia, sebenernya untuk nyari buku dengan bahan yang kokoh (hardpaper/boardbook) bisa dimana aja hehe..
Maksud saya, buku dgn jenis itu udah cukup jamak dan well known di Indonesia. Suami saya kalau pulang jumatan di masjid suka nemu juga digelar di pinggir jalan. Harganya sangat terjangkau, karena biasanya barang second. Second tp sangat layak pakai.
Kalau untuk brand tertentu yang menjual buku boardbook dalam bentuk paketan, sepemahaman saya mereka juga mengadakan sistem arisan buat membantu ibu2 yang menyisihkan sebagian receh uang belanjanya buat menghadirkan buku di rumah mereka ^^
Ah iya, ttg buku second murmer, di lapak online pun banyaaaak banget asal kitanya rajin nyari hehe..
Bisa di instagram.. atau marketplace kaya caroussel. Disana bejibun buku2 second lokal maupun impor yang bs jadi alternatif buat emak emak pencinta diskon kayak kita 😂
7. Makasih mba putri atas pertanyaanya ^^
Kalau ditanya apakah masih relevan?
Saya akan jawab dengan pasti, *masih*.
Meskii di usia dewasa kayak kita. Di kampus2 ebook sudah begitu menggurita, dan buku fisik semakin langka..
Yang kita bicarakan disini adalah anak anak. Dengan usia yang berbeda dengan kita. Jadi gak apple to apple bandingannya hehe.
Balik lagi soal ke perlunya ada pembatasan screen time buat anak anak kita, pada akhirnya e-book gak bisa dijadikan solusi.
Buku fisik baiknya tetap jadi alternatif utama kita dalam menumbuhkan minat baca anak.
Seiring bertambahnya usia, perkembangan otak dan fisiknya, tentu di usia tertentu mereka sudah siap bertemu dengan e-book dan teman2nya.
Tapi tidak sekarang. Tidak di usia yang masih dini dan belum perlu terpapar screen time secara berlebihan ^^
Done 👌🏻

🕵🏻‍♀ momod Asih
Poinnya adl: waktu yg tepat ya teh :mrgreen:
👱🏻‍♀ *teh Tami*
Yess

🕵🏻‍♀ momod Asih
silakan disimak ya yg pertanyaannya seputar metode agar anak fokus dan tidak bosan dg aktivitas membaca, Cc peserta a.n, Fajri Zulia -Semarang,  Safira – Cibubur, Aya Shinta, Karolina – Bandarlampung, diah – sidoarjo,  Alisa – Cibubur, Yosi-Padang, Iid-Padang, Maharani-Batam :mrgreen:

👱🏻‍♀ teh Tami
8. A. Mbak munya
1. Kalau ditanya metode, ini akan sangaaat variatif tergantung anaknya. Hehehe..
Tapi secara umum, kalau dari hasil tanya2 saya sama beberapa kawan pendongeng,
Kunci dari membuat anak tertarik membaca adalah dengan *melibatkan sebanyak mungkin indra yang mereka punya*
Jadi bacain buku gak sekedar cerita.
Bisa pakai alat bantu, boneka tangan misalnya. Atau sambil gambar di papan tulis.
Atau dengan mengajak anak menirukan suara tokoh di buku yang dibaca.
Atau mengajak anak melompat2 saat ada adegan tertentu di buku yang menunjukkan ekspresi senang.
Intinya libatkan seeebanyak mungkin indra!
Sehingga baca buku pun gak lagi identik dengan duduk diam sampai selesai hehehe..
Baca buku itu juga bisa jejingkrakan kok ^^

👱🏻‍♀ teh Tami
2. Untuk anak yang aktif sebetulnya siasatnya ada pada metode penyampaian.
Seperti yang tadi dijawab di poin pertama.
Tapii kalau terkait jenis buku, berdasar pengalaman menangani ratusan customer selama ini, ibuk2 yang anaknya aktif biasanya lebih mudah kepancing untuk mau mantengin buku, saat bukunya gak sekedar berisi gambar dan tulisan.
Misalnya, bisa bunyi. Atau, ada gambar pop up-nya. Atau ada area tertentu yang kalau digeser bisa berubah warna. Dsb..
Untuk yang satu ini, jujur aja. Buku buku anak impor msh jd juaranya 😂
Saya begitu amaze melihat betapa mereka sangaaaat niaat sekali mengolah buku dengan tampilan yang menyenangkan buat dieksplor sama anak anak.

👱🏻‍♀ teh Tami
3. Terkait bilingual jujur aja aku gak punya kapasitas dalam hal ini jd gak berani kasih jawaban, hehehe..
Tapii jika sasaran utama dari anak hiperaktif adalah membangun kemampuan fokusnya, mungkin memulai dulu dari bahasa ibu sebagai stimulus tunggal akan lebih mudah dipahami anak dibanding dengan bilingual 😁

👱🏻‍♀ teh Tami
B. Ayu ,jogja
1. Terkait jenuh sebenernya setiap kegiatan apapun kalau dilakukan terus menerus tanpa jeda, muncul jenuh mah manusiawi ya? Hehehe..
Dan terkait membaca, ini akan sangaat berkaitan dgn pengalaman masa kecil yang kita berikan pada anak.
Misalnya kalau anak sekedar disuruh suruh baca aja, ya pasti lah gak ada kesannya hehe..
Kesan itu yang jadi sasaran tembak kita di masa kecilnya.
Buat agar ia memiliki kesan yang sangaaat menyenangkan saat berinteraksi dengan buku buku. Sehingga interestnya pun terbangun. Ini yang akan melekat kuat pada dirinya sampai dewasa.
Dan tenang aja,

Anak yang suka buku itu gak mesti di bayangkan sebagai anak yang kemana mana nenteng buku kok 😆

2. Terkait jadwal baca anak, yang rutinnya memang sesaat sebelum tidur.
Tapi untuk waktu waktu lainnya, random aja. Sesukanya mereka dan semampunya kita.
Yang pentiing, usahakan dalam sehari selalu terjadi interaksi antara anak dengan buku bukunya.
Interaksi disini gak berarti baca buku sampai habis, yaa..
Terkadang cuma sekedar anak mengajukan pertanyaaan, terus kita jawab dengan, “Eh kayaknya di buku Kakak ada deh jawabannya. Kita cari sama sama yuk!”
Sesederhana itu aja. ^^

Done 👌🏻

terkait topik tsb, kebetulan pernah ada diskusinya, resumenya bs disimak di sini https://diskusiemakkekinian.wordpress.com/2017/02/10/mengenalkan-bahasa-asing-sejak-dini-yay-or-nay/#more-1857 😀

🕵🏻‍♀ momod Asih
bahasan pertanyaan selanjutnya menyoal Keterlambatan pengenalan buku dan cara menumbuhkan minat baca kembali
9⃣A. Rahmi, padang.

Untuk yg sudah terlambat memperkenalkan buku pada anak gimana cara menanggulangi nya mbak..? soalnya sianak sejak bayi tidak pernah diperkenalkan dengan buku. Sedangkan sekarang si anak sudah usia sekolah dasar mbak. Saat mengerjakan tugas sekolah ank cendrung lebih suka bertanya saja pada ortu dr pada membaca bacaan yg ada pada buku..
B. Puspa, Jambi

Bagaimana bila kita telat mengenalkan buku kepada anak? Anak saya laki2 4y baru minat bolak balik buku. Padahal dia minta dibacain tapi pas dibacain, kalau tdk sesuai dengan kemauan dia isinya, dia cuek. Apa saya harus nurutin bacaan yg dia mau aja?
C. Reni Anggraeni – Depok.

Saat saya praktik mengajar lalu, saya meminta murid2 saya untuk membaca 1 buku selama 1 semester kemudian merangkum isi dari buku tersebut. Ternyata hasilnya nihil 😅 tak banyak yg mengerjakan.

Menurut mba. Bagaimana cara yang baik untuk memulai membiasakan membaca bagi anak-anak yang sudah beranjak remaja?

👱🏻‍♀ teh Tami
Nah, sejujurnya menumbuhkan minat baca untuk anak2 yg sudah masuk usia sekolah ini yang sangaat challenging buat ayah ibu.
Karena distraksi yang mereka terima dari lingkungan sekitarnya sudah jauuh lebih banyak daripada saat masih balita.
A. Rahmi, padang
Anak lebih suka bertanya daripada membaca buku.
Pada akhirnya kuncinya memang balik lagi ke soal pembiasaan.
Ketika anak bertanya, jangan lgs diberikan jalan instan dengan ngasih jawaban.
Tapi diajak,

“Di buku kakak kayakya ada deh! Yuk kita cari sama sama!”
Daan.. mungkin buat anak usia sekolah yang dari kecil jarang dikenalkan dengan buku, bertemu buku2 sekolah itu membosankaaan sekali..
Jadi ayah ibu jangan ragu buat menyediakan buku2 sekalin buku sekolah tapi bertema sama dgn apa yang ia pelajari di sekolah.
Misalnya buku pelajaran IPA; ayah ibu bisa sediakan juga buku selain buku sekolah yang menceritakan tema yang sama dengan format yang lebih menyenangkan.
Buku buku sains yang dikemas dalam bentuk dongeng misalnya ^^
B. Puspa, jambi
4 tahun wajar sih sebenernya kalau sudah punya preferensi pribadi, hehe..
Coba diikutin aja. Libatin anak mulai dari milih bukunya. Biarkan dia memilih buku yang ia suka (dengan lebih dulu kontennya kita pastikan aman tentunya..)
Dan jika saat dibacakan anak berhenti di tengah jalan gak sampe selesai, ya gak papa. Gak mesti sampai selesai kok. Baca buku itu mah intinya dibaca asyik aja ^^
C. Reni depok
Terkait usia remaja.. hehe.. lebih challenging lagi ini ya 😂
Karena sejujurnya makin dewasa usia anak, makin suliit bagi kita untuk menumbuhkan minat bacanya 😅
Terkait program sekolah, kalau dari yang saya tau beberapa daerah sudah mewajibkan adanya waktu khusus untuk pengembangan literasi siswa.
Misalnya di Bandung, satu jam pertama di pagi hari wajib disisihkan untuk jadi waktu khusus siswa melakukan silent reading.
Metode lain pun bisa digunakan. Misalnyaa, jika satu buku utk satu siswa ternyata tampak terlalu berat, siswa dikelompokkan aja.
Satu kelompok terdiri dari beberapa siswa yang masing2 mereka diberi tanggung jawab untuk membaca bagian buku yang ditugaskan.
Lalu minta mereka untuk saling share hasil bacaan masing2 di kelompok. Dan pasti guru guru punya banyak jurus rahasia lainnya nih yang bisa dikreasikan utk bkin siswanya jadi lebih bergairah soal bacaan 😁

Done 👌🏻

🕵🏻‍♀ momod Asih
sependek pengetahuan sy juga ada gerakan literasi sekolah yg dicanangkan oleh Kemdikbud. mudah2an berjalan dg baik :mrgreen:
Naah, sudah larut nih. kita sudahi sampai di sini dulu yaa diskusi nya 🤓
Hanupis teh Tami atas kesediaan berbagi ilmu, pengalaman, tenaga, dan waktu :mrgreen:😍😘❤
besok in syaa Allaah ada sambungannya lg yaaa. Sekarang kita silent sampai dibuka kembali oleh admin in syaa Allaah

👱🏻‍♀ teh Tami
Nuhun juga mbak asih atas kesempatannya ^^

🕵🏻‍♀ momod Asih
yuk, mari kita rehat dg gembiraaa 😍😴

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s