Mengenalkan Bahasa asing sejak dini, yay or nay? [part -1]

DEK’s 9th Open Discussion

Tanggal Diskusi  : 9 Februari 2017, 20:00 WIB
Tema Diskusi       : Mengenalkan Bahasa asing sejak dini

Narasumber           : Noridha Wningsari M.Psi
Moderator              :  Asih
Notulen                   : Siwi dan Silvi

 

Materi Awal : mengajarkan-bahasa-asing


🎙 *Momod Asih*
Selamat maalaaam

😍

Alhamdulillaah ada 80an pertanyaan yg masuk dg gembiraaa ixixix… terimakasiiiiih kalian memang tiada duanyaa…. 😆

Alhamdulillah ga ada yg nyasar. Semua bertanya pada tim admin/narsum, bukan bertanya kepada bapak Presiden dan kapolri, eh……

🙈
Kami sudah mengelompokkan pertanyaan2 yg masuk. Jadi hanya akan dibahas sebagian yg representatif yaa 😀
Kalau pertanyaan ada yg ga terjawab, dilarang keras pundung hehehehe. Harus senantiasa gembira hahahaha😅👻
Sebelum kita masuk ke pembahasan, kita akan bersenang-senang dulu main tebak-tebakan ixixixixix
Dipersilakan kpd mpok Nori untuk menguarkan jurus2 teka tekinya yg misteriuuusss dan tak terduga ixixxixiix. Mangga mpok Nori 💃🤗😍

👱🏻‍♀ *Mpok Nori*
halo semua, saya Noridha. boleh dipanggil Nori atau siapa lah boleh 😁
jadi ceritanya, saya akan memberikan suatu pernyataan. Dijawabnya dengan dua pilihan jawaban, FAKTA (kalo itu terbukti atau memang benar adanya) dan MITOS (kalo itu cuma asumsi dan belum terbukti). boleh sambil dikasih alasan

nah, hadiah tanya moderator ni emang
pernyataan pertama, MITOS atau FAKTA

‍♀ *mpok Nori*
1⃣. Anak yang terpapar dengan dua bahasa atau memasukkan anak usia dini ke sekolah bilingual dapat menyebabkan keterlambatan bicara atau gangguan bahasa
ayo ayo mitos apa fakta?

👱🏻‍♀ *Mpok Nori*
jadi jawabannya adalaaahhhh… MITOOOSSSS

Perbendaharaan kata pada anak bilingual di kedua Bahasa mungkin lebih sedikit dari rata-rata anak seusianya yang hanya berbicara satu Bahasa (misalnya anak bilingual hanya menguasai 30 vocab Bahasa Indonesia sementara anak yang hanya berbicara Bahasa Indonesi sudah menguasai 50 vocab). Namun jika ditotal, jumlah vocabulary dari dua Bahasa yang dikuasai anak bilingual kurang lebih sama dengan anak yang monolingual.

👱🏻‍♀ *mpok Nori*
Fakta lainnya, Anak bilingual mungkin saja mengucapkan kalimat pertama dengan lebih lambat dibanding anak monolingual, namun hal tersebut belum masuk gangguan karena masih menggunakan bahasa fungsional dan masih masuk dalam kategori sesuai perkembangannya. Anak yang memang terpapar dua Bahasa dan mengalami keterlambatan bicara bisa jadi tidak disebabkan oleh penggunaan dua Bahasa namun kurangnya interaksi (hanya dipaparkan melalui tv tanpa ada interaksi dengan orang lain) ataupun karena anak memang memiliki gangguan bicara sehingga memerlukan penanganan professional.
pada anak, perkembangan bahasa dimulai dari perbendaharaan kata dan penggunaan bahasa fungsional (meski belum jelas)

👩🏻 *Momod Risfi*
Mba Noridha Weningsari, mungkin bs dijelaskan bedanya bahasa fungsional dan transaksional utk peserta yg mungkin belum paham

👱🏻‍♀ *mpok Nori*
fungsional itu maksudnya berfungsi dan ada maknanya. Misalnya anak bilang mamam, itu udah masuk 1 vocab dan berfungsi (terutama kalo dia bilang pas laper) meskipun sebenarnya bukan kata yang tepat

👱🏻‍♀ *mpok Nori*
nah, transaksional intinya mementingkan isinya
nah, ini sebenarnya masih panjang ni.
kita mulai lagi ya mitos atau fakta yang selanjutnya:
Anak harus belajar sejak dini (terutama dalam periode kritis/periode emas) agar dapat menguasai Bahasa kedua dengan baik dan menjadi bilingual.

kira2 itu mitos atau fakta?

Lanjuuut pertanyaan berikutnyaa tuuh dari mpok nori🤗

👱🏻‍♀ *Mpok Nori*
langsung aja ya jawabannya
Berdasarkan penelitian, ternyata itu adalah MITOS
Memang belajar Bahasa kedua sejak dini dapat membuat cara pengucapan (pronunciation) anak terdengar lebih fasih dalam melakukan percakapan sehari-hari dan native-like (alias kayak bule) karena anaknya sudah lebih terbiasa.
Namun nyatanya, anak yang belajar Bahasa kedua ketika sudah masuk usia SD atau SMP dapat menguasai perbendaharaan kata, tata Bahasa, dan Bahasa akademis dengan lebih baik karena kemampuan berpikirnya lebih matang dan memang anak sudah masuk usia siap belajar.

👱🏻‍♀ *Mpok Nori*
Memang belajar Bahasa kedua sejak dini dapat membuat cara pengucapan (pronunciation) anak terdengar lebih fasih dalam melakukan percakapan sehari-hari dan native-like (alias kayak bule) karena anaknya sudah lebih terbiasa.

Namun nyatanya, anak yang belajar Bahasa kedua ketika sudah masuk usia SD atau SMP dapat menguasai perbendaharaan kata, tata Bahasa, dan Bahasa akademis dengan lebih baik karena kemampuan berpikirnya lebih matang dan memang anak sudah masuk usia siap belajar.
Pernyataan selanjutnya ya, Mitos atau fakta
Saat berada di rumah, Orang tua tidak harus menggunakan Bahasa kedua yang dipelajari anak agar anak dapat menguasai Bahasa tersebut.
lebih terbiasa tepatnya
biar lebih gampang, ortu nggak harus ngomong bahasa inggris di rumah supaya anaknya jago bahasa inggris
Nah mitos/fakta?

👱🏻‍♀ *mpok Nori*
berhubunga keburu dipriwitin Asih, langsung jawabannya aja ya. Jadi sebenarnya itu adalah FAKTA

👱🏻‍♀ *mpok Nori*
Ketika orang tua menggunakan Bahasa kedua juga saat berada di rumah padahal orang tua tidak terbiasa dan tidak menguasai, hal tersebut malah membuat percakapan antara orang tua dan anak menjadi tidak natural dan kaku sehingga akan mempengaruhi interaksi orang tua – anak. Penelitian justru menyebutkan bahwa pondasi Bahasa pertama yang kuat justru akan membuat anak lebih mudah mempelajari Bahasa kedua. Anak juga beresiko melupakan Bahasa pertamanya jika orang tua dan anak tidak menggunakannya di rumah.

👱🏻‍♀ *mpok Nori*
Terakhir ya, Mitos atau fakta:
Saat anak bilingual mencampuradukkan Bahasa, artinya anak tersebut bingung dan memiliki masalah dalam menggunakan Bahasa.

👱🏻‍♀ *mpok Nori*
Jawabannya adalah MITOS
Saat anak mengucapkan satu kalimat dengan Bahasa yang dicampur, yang sebenarnya terjadi adalah ‘code mixing’ atau pencampuran dan biasanya terjadi saat anak dihadapkan pada lawan bicara yang juga melakukan ‘code mixing’ atau dianggap memahami apa yang mereka ucapkan. Selain itu, terkadang anak mencampur Bahasa dalam satu kalimat karena tidak ada padanan kata yang tepat untuk mengekspresikan maksudnya.
Misalnya, saya yang juga bilingual (dengan Bahasa Jawa tapi) jadinya suka mencampur Bahasa Indonesia dengan Bahasa jawa misalnya ‘iya ni, gw kalo parkir suka nunak-nunuk’. Nah loh, nunak-nunuk Bahasa Indonesianya apa coba? Ada yang tau?
itu yang sebenarnya terjadi pada anak bilingual
👱🏻‍♀ *mpok Nori*
demikian sesi mitos atau fakta, semoga bisa jadi gambaran awal ya

silahkan mba momod dieksekusi yang selanjutnya

🎙 *momod Asih*
Udah yaa bersenang2nyaaaa
Kita kudu masuk ke sesi yg sok serius 🤓

Pertaanyaan 1
1⃣. A.n. Ratih, Jakarta

1. Dalam slide2 awal dijelaskan bahwa banyak keuntungan untuk anak yang bilingual, tetapi di bagian akhir dijelaskan bahwa banyak juga masalah yang bisa muncul dalam perkembangan bilingual. Yang ingin saya tanyakan, kategori “anak” yang dimaksud dalam slide2 awal itu usia berapa sampai berapa ya? Apakah usia SMP masih dikategorikan sebagai anak?
2. Jika kondisinya, tidak ada kebutuhan khusus untuk belajar bahasa asing, tapi mengingat manfaat2 yang disampaikan di slide slide awal, rata rata di usia berapa sebaiknya dikenalkan bahasa asing? Apalabila tergantung kondisi anak, kondisi yang bagaimana yang bisa dijadikan patokan untuk anak memulai mengenal bahasa asing?
3. Apakah mengenalkan Al Quran sejak dini, juga dikategorikan sebagai mengenal bahasa asing?4. Saya mengenal anak yang terkena delay speech karena pengenalan bahasa asing terlalu dini. Alhasil dia mengalami keterlambatan sosialisasi juga. Nah, apakah ada warning condition untuk orang tua, agar hal seperti ini tidak terjadi kepada anak2 yang tengah diajarkan bahasa asing semenjak dini? Misal.. “mengajarkan bilingual terlalu dini pada anak tidak disarankan apabila…”
5. Apakah sudah ada penelitian secara komprehensif dengan responden anak2 Indonesia, mengenai dampak pengenalan bahasa asing terlalu dini? Jika ada, apakah kami bisa mendapatkan informasi jurnalnya?
Terima kasih sebelumnya.
pertanyaan dr bu Ratih ini mewakili banyak pertanyaan lain..

👱🏻‍♀ *mpok Nori*
ada yang bisa memberi gambaran dulu mungkin dari pertanyaan bu Ratih? bisa berdasarkan pengalaman sendiri, pengalaman orang atau baca2?

🎙 *momod Asih*
ini ada pengalaman dr ibu Zigoventi mpok…
 Zegoventi, Jakarta
Perkenalkan sy kerja sbg Fisioterapis di klinik tumbuh kembang anak JKT Barat. Menanggapi dengan adanya fenomena bilingual ini pada anak” kami benar-benar menjadi suatu momok. Baik simultaneous maupun sequential acquisition itu akan sangat berpengaruh pada perkembangan tumbuh kembang di area bicara (pastinya) dan sosialisasi. Bahkan untuk mengungkapkan sesuatu terkadang mereka juga akan merasa kebingungan karena campuran tata bahasanya. Oleh karena itu besar kemungkinan side effectnya adalah anak mudah tersulut emosi cz misunderstanding dg lawan berbicaranya. Side effect lainnya adalah akan berpengaruh juga dengan pergerakan tubuhnya. Sehingga ia akan lebih baik melakukan apa-apa sendiri tanpa menghiraukan orang lain. 🙂

👱🏻‍♀ *mpok Nori*
Mungkin yg pertama saya jelaskan dulu bahwa slide awal itu didasarkan pada penelitian yang dilakukan di Kanada pada anak dan individu dewasa yang bilingual. Kanada sendiri bilingual yang paling umumnya adalah Inggris dan Perancis
penelitian di Indonesia gimana? sejauh ini belum ada, atau sayanya mungkin yang nggak tau 😬.
Tapi dalam penelitian itu ditekankan bahwa bilingualnya bersifat universal atau berlaku pada individu dengan bilingual bahasa yang lain, misalnya India yang pake bahasa Hindi dan Inggris.
1. Menjawab pertanyaan bu Ratih, anak yang dimaksud sebenarnya anak secara umum, jadi usianya sampai sekitar 17/18 tahun. Usia SMP sebenarnya masih masuk kategori anak.
2. Pada usia berapa anak sebaiknya belajar bahasa asing? jujur, dalam literasi tidak disebutkan secara pasti usia yang tepat untuk memulai belajar bahasa asing. Penelitian mengenai bilingual sendiri termasuk ranah baru. Dan selalu disebutkan bahwa harus disesuaikan dengan kebutuhan kondisi dan situasi.
Kondisi yang seperti apa? dilihat dari perkembangan anak. Misalnya, anak berusia 3 tahun belum bisa mengucapkan kalimat 3-5 kata dengan bahasa ibunya. Kalo situasi seperti ini, maka pemberian bahasa asing pun jadi tidak tepat karena anak ini kemungkinan punya masalah bahasa.
Atau kalau orang tua merasa bahwa anaknya sepertinya bisa mulai dikenalkan bahasa asing, maka mungkin bisa saja mulai dikenalkan. Dikenalkan bukan berarti langsung di masukkan ke lingkungan ebrbahasa asing ya, memperdengarkan lagu berbahasa asing atau ngasih tau nama-nama warna dalam bahasa asing aja sebenarnya sudah termasuk pemaparan.
3. Mengenalkan AL Quran termasuk bahasa asing kah?

Itu sudah termasuk karena penggunaan kode, tata bahasa, dll sudah berbeda dengan bahasa Indonesia. Apalagi huruf-hurufnya berbeda pula. Hanya saja terkadang tidak sampai aktif karena hanya sampai identifikasi huruf dan membaca, tidak sampai mengetahui arti kata, struktur kalimat, atau percakapan.
4. Saya mengenal anak yang terkena delay speech karena pengenalan bahasa asing terlalu dini. Alhasil dia mengalami keterlambatan sosialisasi juga. Nah, apakah ada warning condition untuk orang tua, agar hal seperti ini tidak terjadi kepada anak2 yang tengah diajarkan bahasa asing semenjak dini? Misal.. “mengajarkan bilingual terlalu dini pada anak tidak disarankan apabila…”
Saya pernah menemui kelien dengan masalah yang sama dan bu Zegoventi juga sebenarnya menemukan sendiri kasusnya. Biasanya, saat dibawa ke tenang profesional, terapis psikolog psikiater, jawabannya akan sama. disarankan untuk menggunakan satu bahasa terlebih dahulu.
tapi yang mengejutkan justru penelitian di Kanada itu disebutkan bahwa sebenarnya pada saat itu anak mengalami fase diam atau silent dan pada fase ini anak memang sedang kebingungan dan sebenarnya sedang mengatur strategi penyelesaian masalah sendiri. Ada yang dilampiaskan lewat perilaku agresif, menarik diri dair lingkungan, atau bahkan nggak mau sekolah.
nah, versi penelitian itu sih, disarankan justru anaknya tetap dipaparkan dengan kedua bahasa kalau memang ke depan dua bahasa itu diperlukan.
Sejujurnya saya sendiri bekerja sebagai Guidance Counselor di Sekolah Nasional Plus. Setiap tahun, pasti menemui anak yang sulit menyesuaikan diri dengan bahasa yang berbeda dan jadi agresif, mudah marah, nggak mau sekolah, bahkan yang lebih parah dia sampe mencuri di sekolah.
Masalah anaknya sebenarnya di adapatasi, adaptasi dengan bahasa dan lingkungan baru. tapi adaptasi ini mempangruhi sosial dan emosi karna temen2nya berbahasa inggris dan di anggak bisa akhirnya dia jadi malu dan nggak mau temanan. Waktu itu saya sendiri menyampaikan kepada ortunya bahwa ada 2 pilihan. dPindah sekolah ke yang cocok dengan dan MUNGKIN masalahnya akan selesai, atau tetap di sekolah itu dengan resiko dia butuh waktu yang cukup lama untuk menyesuaikan diri dengan bahasa dan lingkungan. Resiko pilihan pertama adalah, ortu support dan tidak mendorong anak berlebihan, guru dan teman diberi penegrtian untuk menerima saat dia kesulitan berbahasa Inggris.
Ortu ambil pilihan kedua dan ternyata memang yang anak butuhkan sebenarnya adalah waktu. Sekarang sudah 1 tahun dan anak itu sudah biasa aja. Komunikasi bisa bahasa inggris dan masalah emosi sama sosialnya sudah sangat berkurang.
Ngomong2 ortunya ini maksa pilihan kedua karna bapaknya mau dipindahin kerja dalam 3 tahun ke luar jadi bahasa Inggris memang perlu.
untuk pertanyaan kelima dr bu ratih, jujur saya belum menemukan jurnal mengenai bilingual di Indonesia.
penelitian mengenai dampak bilingual itu sifatnya jangka panjang karena mengetahui dampaknya tidak bisa dilihat dalam waktu 1 – 2 bulan. Mungkin kalo ada peneliti atau psikolog disini ada yang berminat meneliti?

🎙 *momod Asih*
OK, akhirnyaaa kelar juga bahasan bagian pertama fiiiuuhhh
Ibarat belajar psikolinguistik 2 SKS 😂

🎙  *momod Asih*
2. Hafizhah, Depok

What, When, Where, Why, Who, How

1. Apa saja Bahasa yang harus diajarkan kepada anak,

sebagai penunjang kemajuan teknologi & dunia pendidikan di 5 tahun kedepan ?

2. Kapan waktu yang efektif mengenalkan berbagai macam bahasa?

apakah saat anak sedang belajar bicara atau kapan?

3. Dimana sebaiknya anak mulai diajarkan belajar bahasa asing?

4. Bagaimana cara mengajarkan yang efektif agar anak mudah mencerna berbagai bahasa?

5. Bagaimana jika anak mulai malas untuk belajar bahasa asing, krn lawan bicaranya tidak ada?

👱🏻‍♀ *mpok Nori*
Ini pertanyaan sebenarnya kurang lebih sama ya? Mungkin kalo ditanya bahasa apa saja yang bisa menunjang kemajuan jaman dan teknologi saya bukan ahlinya ya. temen2 mungkin ada yang tau?

🎙 *momod Asih*
Mungkin maksudnya selain bhs inggris mpok

👱🏻‍♀ *mpok Nori*
Kalo saya sih prioritas pribadi ni: Bahasa Bahasa Jawa (karena ortu saya orang jawa), Inggris (kayaknya smeua orang sepakat ni bakalan), Perancis (karena negara kolonialismenya Perancis banyak ,bahkan negara di afrika banyak yang menggunakan bahasa Perancis), bahasa Arab (karena bahasa para penghuni surga 😬)

👩🏻 *momod Risfi*
Klo utk bahasa, ga akan efektif kalau ga dipakai. Mau bisa ya dipakai bahasanya. Saya kalau libur ngajar terutama libur panjang, begitu waktu masuk tiba jd kikuk. Krn di rumah ga dipakai.

👱🏻‍♀ *mpok Nori*
setuju banget sama mba @risfi aditya

👱🏻‍♀ *mpok Nori*
setuju banget sama mba @risfi aditya
Dimana anak mulai belajar bahasa? Ini juga nggak ada patokan pastinya, ada yang memilih memasukkan anaknya langsung ke sekolah nasional plus atau sekolah internasional. Ada yang diles2in aja. Ada juga yang cuma lewat video2. trus yang mana ya sebaiknya? ya tergantung kesanggupan orang tua masalah pembiayaan dan kebutuhan untuk menguasainya. Ini jawaban saya pribadi ya, kalo saya sih pencinta sekolah umum dan memilih mengenalkan bahasa asing lewat les atau kursus2 aja.
untuk jawaban keempat, mungkin cara belajar tergantung gaya belajar tiap orang. Tapi kunci dari penguasaan bahasa kan sebenarnya adalah praktek. Jadi ya harus dipraktekkan.
contoh paling simple, dari jaman SD sampe kuliah diajarin masalah grammer tapi begitu ngomong bingung kapan itu dipake atau gimana cara makenya. Jadi memang intinya dipraktekkan
Gimana kalau anak malas belajar bahasa asing? malas ini harus digali lagi sebenarnya. Kenapa malas? karena susah? karena memang tidak ada tempat praktek? atau karena sebenarnya anaknya nggak minat?
kalo susah, jelas proses belajar itu semua susah, jadi kalau anak sudah bilang dia mau belajar kita pun harus mengingatkan dia untuk komitmen. Dan kita sendiri dalam membuat target  harus disesuaikan dengan kemampuan anak. Kalau karena nggak ada teman ngomong? wajar banget sebenarnya, karena perkembangan kognitif atau berpikir anak itu (yang usia SD) masuk dalam tahapan berpikir operasional dan konkrit. jadi kalo bahasa itu nggak dipake ya nggak akan dikuasai anaknya. ortunya yang kemudian harus mengupayakan hal-hal konkrit untuk melatih kemampuan bahasa, misalnya dengerin lagu berbahasa asing, nonton film berbahasa asing, mengajukan pertanyaan sederhana, dll.

🎙 *momod Asih*
Nah, sudah clear yaaa
Masuk pertanyaan no 3

🎙 *momod Asih*
3. Nina, Ciledug
Bagaimana contoh penerapan bahasa asing di rumah (jika ada), yg tidak merusak nilai2 kebahasaibuan dan nilai leluhur?

👱🏻‍♀ *mpok Nori*
Sebenarnya contoh penerapannya masih bisa dikaitkan dengan aktivitas sehari-hari anak. Misalnya memberikan bacaan berbahasa Inggris, bermain tebak-tebakan kata bahasa Inggris (macam ABC lima dasar tapi itu diganti bahasa Inggris), menulis kart ucapan dalam bahasa Inggris, membuat hari bahasa Inggris khusus dan bisa juga memberikan tontonan bahasa Inggris (saya menyarankan tidak terlalu sering dan tetap ada pendampingan agar anak dapat langsung memperoleh umpan balik saat kebingungan atau tidak mengerti). Sebenarnya aktivitas tersbeut kan proporsinya tetap lebih sedikit dari bahasa Indonesi, jadi tidak akan sampai merusak bahasa ibu. Yang jadi perhatian saya adalah kita biasa melarang anak ebrbicara kasar atau mengumpat dalam bahasa Indonesia. Namun anak liat youtube atau film berbahasa Inggris yang para tokohnya mengumpat. Bahkan kemarin saya menemui murid di sekolah saya ngomong son of a bit*ch, F*ck, dll karena mereka menganggap itu hal yang biasa. Jadi kembali lagi, pengawasan juga jangan lupa ya kalo memberikan pelatihan bhs inggris metode audio-vis banget. ini saya kasih contoh bahasa inggris biar lebih gampang dan karena lagi kekinian banget

🎙 *momod Asih*
wah iya, apalagi kalo sering ke situs 9gag 😂

cuussss no 4 ya mpok
4⃣. *Lidya, semarang*
1. Bagaimana cara melakukan metode Simultaneous Acquisition pada anak? Apakah ortu di rmh/yg ada dlm satu rumah hrs konsisten menggunakan 2 bahasa?

2. Bagaimana step melakukan Sequential Acquisition pada anak usia 3 thn yg tidak bersekolah di sekolah bilingual? Bagaimana porsi pemaparan bahasa ke2? Apakah cukup dg melihat video2 berbahasa asing atau hrs lbh intens lg?

3. Apakah metode Sequential Acquisition yg dilakukan pada anak usia 3 tahun yg blm bisa membaca/menulis akan mengganggu proses belajar membaca/menulis? Apakah akan membuat anak jd bingung dan makin sulit dalam belajar membaca?

Terimakasih banyak y mbak. Mudah2an qt semua mendapat banyak manfaat dari diskusi ini.

👱🏻‍♀ *mpok Nori*
1. Biasanya yang make Simultaneous (singkat SimA aa ya biar gampang) ini ortu  yang multiracial atau multietnis yang bahasa ibu dan bapaknya berbeda. Apakah harus konsisten? intinya hanya disebutkan bahwa anak dipaparkan dengan ekduanya secara terus menerus.
2. Yang disebut dengan Sequential Acquisition (SeqA) itu jika anak dipaparkan setelah bahasa pertama memiliki pondasi yang kuat, memang sebenarnya it umerujuk pemaparan yang lebih intensif, misalnya dimasukkan ke sekolah berbahasa asing atau mulai melakukan percakapan berbahasa asing. Tapi pada prinsipnya , pemaparan dalam bentuk video atau lagu pun sudah termasuk di dalamnya.
3. Untuk yang ketiga ini, saya belum bisa menjawab dengan yakin karena saya belum menemukan penelitian pastinya. Ini yang saya lihat di sekolah saya aja ya, bahasa inggris dan Indonesia kan diberikan sejak usia 2-3 tahun. Saat usia TK, mereka sama-sama diajarkan abjad Inggris dan Indonesia dan sama-sama menggunakan tulisan latin kan. Dalam satu kelas, ada 1 – 2 anak yang akhirnya memang mengalami kebingungan dan sulit dalam membaca dan menulis karena hurufnya sama tapi cara membacanya beda. tapi anak yang bisa mengikuti juga lebih banyak jumlahnya. Apakah kemudian mempengaruhi? saya melihat ada faktor lain yang lebih mempengaruhi, yakni inteligensi dan persepsi visual karena anak yan gtelambat ini memang inteligensinya di bawah rata-rata (ini topik baru ni, kesiapan sekolah anak, mungkin bisa dibikin sesi diskusi sendiri).

🎙 *momod Asih*
yuuuppp… variabelnya ternyata banyak ya 😅
mpok, kita udah 2 jam nih, masih ada pertanyaan no 5 dan sesi diskusi bebas yg akan dipandu mba Risfi Aditya yaa,,

5⃣. *Naela, Kebumen*
Sekarang saya lancar berbahasa Jawa, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. (Trilingual)
Saya lahir dan dibesarkan dengan bahasa Jawa.

Saat kuliah s1 sampai sekarang saya lebih sering menggunakan Bahasa Indonesia karena sering berpindah2 dan berada di lingkungan heterogen.
Saya baru saja selesai kuliah dr Melbourne. Namun Sebelumnya saya merasakan perjuangan belajar bahasa Inggris sangatlah tidak mudah.
Disatu sisi saya tidak ingin anak saya tidak bisa bahasa Jawa karena itu bahasa ibu saya dan saya tdk ingin bahasa Jawa itu punab. Disisi lain, saya juga tidak ingin anak saya mengalami kesulitan belajar bahasa Inggris. Selain itu, ada anggapan bahwa Bahasa Indonesia mudah dipelajari di sekolah.
a. Kalau dr ketiga bahasa itu, manakah ya bisa di skip dahulu supaya anak saya tidak bingung tapi jg mudah saat mempelajari bahasa baru lg?
b. Bagaimanakah metode pengenalan lebih dr satu bahasa yang direkomendasikan? Berdasarkan hari (misal senin Jawa, selasa bahasa Indonesia, rabu bahasa Inggris, dsl) atau berdasarkan org yg mengajarkan (Bapak: bahasa Indonesia, Ibu: Bahasa Inggris)?
Terima Kasih. 👌🏻

👱🏻‍♀ *mpok Nori*

Mbak Naela, coba sekarang yang kita pikirkan perspektif anaknya dulu. Ortu jelas maunya yang terbaik untuk anak, tapi apakah yang terbaik buat anak itu benar-benar terbaik bagi well being dan kesejahteraan anak atau terbaik bagi anak menurut ortu. Ini yang bisa menjawab hanya ortu masing-masing dan coba dilihat apa yang jadi kebutuhan anak saat ini dan dalam waktu dekat. jadi jawaban saya:
a. Mana yang perlu dipelajari? ya mana yang dibutuhkan. Anaknya sudah butuh bahasa yang mana? nah, saya nggak bisa jawab ni kalau yang ini
b. bagaimana yang direkomendasikan? sejujurnya aja saya akan menjawab dengan jawaban yang disebelin orang tua: nggak ada satu metode yang pasti dan paling tepat, karena anak beda-beda, ortu beda-beda, situasi beda-beda.

Saya memaparkan tentang SimA SeqA dan dampaknya karena akhirnya ortu yang akan memutuskan bagaimana melakukannya. Dalam penelitian itu, yang disebut dengan bilingual ada berbagai tipe: yaitu anak terpapar di rumah (keluarga) dengan bahasa ibu sementara di sekolah dan luar rumah menggunakan bahasa kedua, Ayah dan ibu menggunakan bahasa yang berbeda secara konsisten, dan anak dikenalkan bahasa asing sebagai bahasa tambahan. Yang perlu diingat bahwa dalam penelitian tersebut (terutama kasus 1 dan 2), anak terpapar bilingual karena kondisi (ortu imigran sementara sekolah menggunakan bahasa setempat).

intinya, mengajarkan bahasa asing pada anak harus dilihat kondisi anak, tujuan, dan manfaatnya. Akhirnya, dikembalikan lagi ke visi misi orang tua dalam mendidik anak. Bahasa itu sesuatu yang bisa dipelajari. Mba Naela misalnya, biarpun bersusah2 belajar bahasa Inggris tapi akhirnya bisa sampe kuliah di luar segala. Artinya untuk belajar bahasa tidak harus dilakukan dari anak masih usia dini yang sebenarnya ada kerentanan akan adanya masalah (biarpun sebenarnya bisa diatasi juga), tapi balik lagi itu pilihan. Maaf ya jawabannya banyak yang gantung, sejujurnya penelitian tentang bilingual ini literasinya tidak terlau banyak karena termasuk cukup baru.

🎙 *momod Asih*
Alhamdulillaah, kita cukup kan sampai di sini yaaa
Terimakasih mpok Nori sudah menyediakan waktu dan ilmu nya berbagi kesenangan berupa jawaban dan tebak2an hehehe 😍😘

👱🏻‍♀ *Mpok Nori*
Makasih semuanya, maaf kalo ada salah2 kata atau informasi yang kurang tepat. memang akhirnya banyak hasil penelitian yang cukup membantah asumsi kita selama ini, tapi balik lagi, kita pelaku dan yang paling tahu kondisi jadi bisa disesuaikan 🙂

🎙 *momod Asih*
Selanjutnya besok adl sesi diskusi bebas yaaa
Bersama mba Risfi Aditya sbg momod diskusi bebas, in syaa Allaah besok :mrgreen:
Sy Asih, undur diri. Mohon maaf atas pelayanan yg blm optimal 😁

Advertisements

2 thoughts on “Mengenalkan Bahasa asing sejak dini, yay or nay? [part -1]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s