Hilangnya keberkahan di dunia

Suatu sore .. emak2 di DEK lagi asyik ngobrolin soal politik.. lalu masuklah ke tema soal keberkahan yang diusung oleh Mba Rita, lalu obrolan para emak pun beralih soal keberkahan. Kayak apa sih ? monggo pantengin insyaAllah moga barokah 😉

===========================

Rita :
Apapun pilihan di kehidupan dunia, kita musti ingat akan ada konsekuensinya. Ambilah konsekuensi yg mudharatnya paling sedikit meski meski nampak tidak menggiurkan. Sebab mudhorot diakherat indikasinya adalah hilangnya keberkahan di dunia.💕
Prinsip saya itu mah:)

keberkahanCoba bahas dari hal yg paling kerasa yuks.
Sepakat ya kalau ukuran sukses, bahagia, sejahtera dari kacamata Islam adalah: keberkahan?
Kena deh mulai dr kehidupan pribadi, keluarga sd bernegara.

Isilah titik” di bawah ini:
1. Keberkahan harta ada pada…..
2. Keberkahan ilmu ada pada….
3. Keberkahan anak ada pada….
4. Keberkahan kekuasaan ada pada….
Catatan: kekuasaan jangan dikonotasikan negative

Itu ilmu dasar bun. Dari sana kita bertolak untuk hal” teknis tapi menyelamatkan.

Athiyah : Jawabanny sama “Keridhaan Allah”. Eh salah y mba Rita 😬

Anindya ‬: Karena berkah bisa di dapat jika Allah Ridha 👍🏻 nais

Rita: Gak saya kasih tahu dulu ah;). Gak seru

Atiyah‬: Wkwkwk nyimak aja deh

Rita: Bagaimana biar Alloh Ridho?

Anindya ‬: Meniatkan segala sesuatunya semata2 hanya untuk beribadah pada Allah ☺☺

Rita: Cakeeep😍

Athiyah ‬: Ssegala apa yg kita lakuan sesuai dg ketentuannya dalam Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah

[01/02 14:16] Rita: Belum spesifik.

[01/02 14:16] ‪Athiyah‬: Wha iya betul… Niat dulu

[01/02 14:16] Rita: Ini baru bab niat

[01/02 14:16] ‪Anindya‬: Bikin skripsi, niatnya biar Allah ridha, skripsinya berkah
Punya anak niatnya biar bisa nambah investasi akhirat, Allah ridha.
Pemimpin , biar berkah, niatnya untuk menegakkan agama Allah, biar Allah ridha, kelak balasannya di akhirat .. ☺☺

[01/02 14:18] ‪Tutu‬: keberkahan ada pada ketaqwaan?

[01/02 14:18] ‪Athiyah‬: Lanjut mba Rita 🙇🏻‍♀

[01/02 14:19] ‪Tutu‬: kalau hal tsb makin mendekatkan kepada Allah, menambah keimanan. maka insya Allah berkah. gitu bukan? 😬

[01/02 14:28] ‪Ira‬: Isilah titik” di bawah ini:
1. Keberkahan harta ada pada manfaatnya bagi orang banyak n Islam
2. Keberkahan ilmu ada pada kemampuannya mencerahkan/menginspirasi n mencerdaskan orang lain
3. Keberkahan anak ada pada amalnya yg jadi penerus kebaikan orang tuanya n kebermanfaatannya bg dirinya sendiri, klg, ummat n Islam.
4. Keberkahan kekuasaan ada pada sejahtera n damainya kehidupan orang2 yg di pimpinnya, membuat orang2 yg dipimpinnya jd semakin sholih n mendekat pd Allah SWT
Catatan: kekuasaan jangan dikonotasikan negative

[01/02 15:35] Rita: No 1 dulu yaaaa:D

1. Keberkahan harta ada pada ditunaikannya hak pada fakir miskin dan anak yatim.
Baik skala pribadi atau negara besar kecil, jika hak untuk 3 golongan yg utama ini ditunaikan, maka InshaAlloh keberkahan akan hadir.
Ini setelah bab niat yg lurus tadi lho. Kita anggap sekesai bab niat mah. Toh niat itu adanya diawal, di tengah dan diakhir. Bisa terus dievaluasi dan diperbaharui.
2. Keberkahan ilmu ada pada memuliakan sumber dan pembawa ilmu.

[01/02 16:50] ‪Ira‬:

2. Keberkahan ilmu ada pada memuliakan sumber dan pembawa ilmu.

Adab berilmu😍😍😍

[01/02 16:51] Rita:
Singkatnya: adab sebelum ilmu.
Termasuk di dalamnya memuliakan para guru, ulama
Dipesantren tradisional tentang adab ini kadang membuat orang berpendidikan gaya modern sulit mengerti. Padahal itu bukan ttg tradisional atau modern ternyata. Bukan sekedar attitude, tapi memang Alloh sendiri meninggikan derajat orang yg berilmu.
Mau di komen dulu?
Monggo….

3. Keberkahan anak ada pada hak lahir bathin yg dia terima dari orangtuanya.
Orangtua yg menumbuhkan anak” nya dalam keridhoan Alloh dan ikhtiar pemenuhan hak, maka satu saat akan mendapati kesholehan anaknya bisa menyelamatkan mereka. Dunia dan akherat.
Itu yg berlaku standard lho.
Dalam skala rumah tangga, anak sholeh bisa membahagiakan ayah bundanya karena hasil asuh dan didik yg memenuhi sesuai hak lahir bathinnya.
Dalam skala makro, anak bangsa yg diasuh dan dididik ‘ayah bunda’ nya (penguasa) sesuai hak lahir bathinnya pula, akan memberi imbas ke sholehan pada bangsanya.
4. Keberkahan kekuasaan ada pada pemimpin yang adil.
Untuk Muslim faktor utamanya tentu sudah hrs terpenuhi.
Kalau ingin tahu hidup kita, keluarga kita, bangsa kita penuh berokah atau tidak, tinggal kita lihat indikatornya.

[01/02 17:16] ‪Lintang‬:

2. Keberkahan ilmu ada pada memuliakan sumber dan pembawa ilmu.

Memuliakan ini gimana ya mb contoh konkritnya? Hal2 apa saja yg bs dilakukan untuk memuliakan.. Tidak hanya bersikap sopan dan menghormati kan ya?

[01/02 17:20] Rita: Kalau kitab/ buku dianggap sumber ilmu, maka tidak digeletakan sembarangan. Disobek sengaja dsb, dst.
Jika sosoknya yg dimuliakan maka fatwanya kita perhatikan, kita ikuti.
Sebab orang berilmu mengeluarkan fatwa lewat kajian ilmiah. Termasuk ilmiah adalah ttg keshohihan sumber.

[01/02 17:22] ‪Lintang‬: Hooo.. 😯

[01/02 17:22] ‪Anindya‬: Ya Allah…

[01/02 17:24] Rita: Tidak menyela pembicaraan, mengungkap kekurangannya itu penghormatan standar ya.
Kalau melayani, menservice guru itu tergantung kemampuan kita. Di pesantren para santri punyanya tangan dan kaki serta pancaindera, maka mereka melayani guru dg memijatnya sampai puas, menimbakan air, mencari kayu bakar, mencangkul ladang.
Duluuu

[01/02 17:26] Rita: Mungkin sekarang dg menservice pembicara dg maximal. Patungan deh diluar budget EO😄

[01/02 17:27] ‪Athiyah‬:

[01/02 17:24] Rita: Tidak menyela pembicaraan, mengungkap kekurangannya itu penghormatan standar ya.
Kalau melayani, menservice guru itu tergantung kemampuan kita. Di pesantren para santri punyanya tangan dan kaki serta pancaindera, maka mereka melayani guru dg memijatnya sampai puas, menimbakan air, mencari kayu bakar, mencangkul ladang.
Duluuu

Kalau ini bagaimana Mba Rita?
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu wa ardhahu, “Bukanlah ilmu itu diukur dengan banyaknya riwayat. Akan tetapi pokok dari ilmu adalah khas-yah/rasa takut -kepada Allah-.” (lihat al-Fawa’id karya Ibnul Qayyimrahimahullah)
Dari sini saya berkesimpulan berkahnya sebuah ilmu adalah semakin besar rasa takut kita kepada Allah.
Apa beda sudut pandang yak? 🤔

[01/02 17:27] Rita: Enggak beda.

[01/02 17:28] Rita: Itu out put.

[01/02 17:28] ‪Lintang‬: Mb rita, ada case gni, klo misal kita ngga sreg dg guru privat karna kurang gt, boleh ngga sih kita berhentikan? Adab nya gmn ya?

[01/02 17:29] Rita:

[01/02 17:28] Rita: Itu out put.

Yg saya kemukakan justru modal awal.

[01/02 17:30] ‪Athiyah‬: Oh begitu… #nyimak lagi

[01/02 17:30] ‪Lintang‬:

Yg saya kemukakan justru modal awal.

👍🏻 cara mencapai keberkahan:)

[01/02 17:30] Rita: Rasa khouf dan roja’ itu indikatir adanya keberkahan
[01/02 17:31] Rita: Jika kita lempeng” aja perasaannya meski ilmu dah numpuk, artinya kehilangan makna dan belum mendatangkn keberkahan.
[01/02 17:32] Rita: Makanya ada orang pede, meski secuil ilmunya, gak punya ijazah mentereng, malah dikejar-kejar yg butuh ilmu.

[01/02 17:34] ‪Athiyah‬: Astaghfirullah

[01/02 17:34] ‪Lintang‬:

[01/02 17:32] Rita: Makanya ada orang pede, meski secuil ilmunya, gak punya ijazah mentereng, malah dikejar-kejar yg butuh ilmu.

Saya kok lemot, ga paham nih

[01/02 17:35] Rita:

[01/02 17:28] ‪Lintang‬: Mb rita, ada case gni, klo misal kita ngga sreg dg guru privat karna kurang gt, boleh ngga sih kita berhentikan? Adab nya gmn ya?

Ini mah gampang atuh. Tinggal bilang baik” jelang akhir bulan, gak ngedadak. Gak lewat perantara, kasih hadiah di luar honornya.

[01/02 17:35] ‪Lintang‬: Hahaha.. Saya kan sungkan dan ga enakan klo berentiin org

[01/02 17:37] ‪Tutu‬: 3 golongannya apa aja mbak? itu br 2 yg disebutin

[01/02 17:40] Rita: Fakir, miskin, anak yatim.
Kalau yg terhitung penerima zakat, ada 10 lengkapnya.

[01/02 17:40] Rita:

[01/02 17:35] ‪Lintang‬: Hahaha.. Saya kan sungkan dan ga enakan klo berentiin org

Bisalaaah, dari pada ngganjel, susah ikhlas😄

[01/02 17:48] Rita:

[01/02 17:34] ‪Lintang‬: 
Saya kok lemot, ga paham nih

Contoh nih mba, saya kenal mba jamu. Saat orang lain masih seksih gaya bajunya waktu jualan, mba langganan saya dah baju syar’i. Naik sepeda. Dia racik sendiri jamunya, jualan keliling dengan gaya beda, pede. Laris manis byk yg nungguin , libur seminggu byk yg kehilangan.
Itu yg ekstrim

[01/02 17:49] ‪Aris Wijiani‬:

[01/02 17:40] Rita: Fakir, miskin, anak yatim.
Kalau yg terhitung penerima zakat, ada 10 lengkapnya.

Itu stlah org tua kita y bun

[01/02 17:50] ‪Lintang‬:

[01/02 17:48] Rita: 
Contoh nih mba, saya kenal mba jamu. Saat orang lain masih seksih gaya bajunya waktu jualan, mba langganan saya dah baju syar'i. Naik sepeda. Dia racik sendiri jamunya, jualan keliling dengan gaya beda, pede. Laris manis byk yg nungguin , libur seminggu byk yg kehilangan.
Itu yg ekstrim

Kok jadi hilang keberkahan pada nya?

[01/02 17:51] Rita: Yg gak ektrim: guru” BTQ di sekolah” keren, jarang yg diminta ijasah S1, syukur” dah S1:mrgreen:

[01/02 17:52] Rita:

[01/02 17:49] ‪Aris Wijiani‬:
Itu stlah org tua kita y bun

Orangtua, itu adab tersendiri mba. Utama. Bawa keberkahan juga tentu.

[01/02 17:52] ‪Aini‬: Ooh…maksudnya, yang punya ilmu meski “sedikit” tapi “dikejar2 banyak orang” begitu ya bun..

[01/02 17:52] ‪Aris Wijiani‬: Maksudnya salah satu harta yg berkah itu sblm menafkahi anak yatim yg utama ortu y bun

[01/02 17:52] ‪Athiyah‬:

[01/02 17:50] ‪Lintang‬: 
Kok jadi hilang keberkahan pada nya?

Bukan hilang berkahnya kayaknya mba. Justru dg ilmu yg dia pelajari dan amalkan menjadi berkah tersendiri baginya. Orang2 banyak yg menanti2 kedatangannya *cmiiw gitu bukan mba Rita?

[01/02 17:54] Rita: Betul mba Ani, mba Athiyah.
Untuk itu niat menuntut ilmu juga harus di tautkan jauuuh. Gak sekedar dapat kerja.
*buat ke anak terutama nih.

[01/02 17:55] ‪Mama Nanik‬:

[01/02 17:28] ‪Lintang‬: Mb rita, ada case gni, klo misal kita ngga sreg dg guru privat karna kurang gt, boleh ngga sih kita berhentikan? Adab nya gmn ya?

Ikut komen, dlm islam itu murid yg mendatangi guru bukan sebaliknya

[01/02 17:55] Rita: Yg hilang keberkahan itu yg gak bermodal adab, meski ilmunya banyak

[01/02 17:55] Rita: 👍👍👍😍

[01/02 17:56] Rita:

[01/02 17:55] ‪Mama Nanik‬: 
Ikut komen, dlm islam itu murid yg mendatangi guru bukan sebaliknya

Tradisi Islam aslinya gitu.

[01/02 17:57] ‪Lintang‬:

[01/02 17:55] ‪Mama Nanik‬: 
Ikut komen, dlm islam itu murid yg mendatangi guru bukan sebaliknya

Hoo.. Gt ya mb..

[01/02 17:58] ‪Mama Nanik‬: Jum’at, 25 Januari 2013 06:40

Ditulis oleh Budi Ashari

Memahami Orangtua dan Guru💐💐

Dalam dunia pendidikan anak, baik di rumah ataupun di sekolah, pembahasan tentang memahami anak-anak sudah biasa.Itu yang dibahas di berbagai kajian parenting dan pendidikan. Dan memang Islam dengan dicontohkan langsung oleh Rasulullah memiliki kepedulian dan perhatian khusus terhadap anak-anak. Rasulullah langsung yang mengajarkan dan mencontohkan bagaimana memahami anak-anak.
Tetapi yang langka diajarkan di dunia parenting dan pendidikan hari ini adalah anak-anak harus diajari memahami orangtua dan guru. Hari ini, anak-anak selalu dalam posisi sebagai raja, yang harus dipahami. Efeknya, orangtua dan guru merasakan kelelahan dalam mendidik anak-anak. Sudah pasti lelah, karena hanya sepihak dari satu arah saja. Hanya ada pendorong tanpa penarik. Apa bisa berjalan? Bisa, tapi melelahkan dan pasti lebih lambat. Bayangkan ketika timbal balik telah tercipta. Antara orangtua dan anak. Antara guru dan murid. Jika guru memahami murid, maka harus mulai diajarkan murid memahami guru. Jika orangtua memahami anak, maka harus mulai diajarkan anak memahami orangtua. Dengna itu, maka aliran ilmu dan kebaikan pasti lebih cepat dan tak banyak masalah melintang.
Dan inilah hebatnya konsep pendidikan Islam. Tak hanya orangtua dan guru yang diminta memahami anak-anak. Tetapi anak-anak diajari memahami orangtua dan guru. Hal ini telah diajarkan oleh sejarah Rasulullah dan para shahabat. Bahkan sejak usia awal para shahabat. Rasul sangat memahami anak-anak. Tetapi anak-anak pun segera berproses untuk memahami Rasul sang guru.
Aisyah yang hidup bersama Nabi dan baru berusia 9-18 saat bersama beliau, telah memahami karakter sang guru; Rasulullah. Berikut kalimat Aisyah,

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah memukul dengan tangannya hanya karena urusan pribadi beliau, tidak pada wanita tidak pula pada pembantu, kecuali saat berjihad fi sabilillah. Dan tidaklah beliau membalas orang yang menyerang diri beliau kecuali jika ada aturan Allah yang dilanggar, maka beliau membalas untuk Allah.” (Misykat Al Mashabih, At Tibrizi, dishahihkan oleh Al Albani)
Kalimat ini merupakan kesimpulan Aisyah hasil berinteraksi dengan Rasul. Perjalanan yang dilalui bersama antara guru dan murid, harus mampu melahirkan kemampuan murid memahami guru. Apalagi antara orangtua dan anak yang berinteraksi lebih sering dan lebih lama di rumah mereka.
Di antara peristiwa yang dialami Aisyah saat berinteraksi dengan sang guru, sebagaimana yang kita baca pada riwayat berikut,
Dari Aisyah berkata: Rasulullah jika memerintahkan sesuatu kepada para shahabat, beliau memerintahkan amal sesuai dengan kemampuan mereka. Tapi mereka berkata: Kami tidak sepertimu Ya Rasulullah, karena sesungguhnya Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. Maka Rasul pun marah hingga terlihat marah itu pada wajah beliau kemudian beliau berkata (Sesungguhnya yang paling bertaqwa dan paling tahu tentang Allah adalah aku) (HR. Bukhari)
Perhatikanlah peristiwa yang disaksikan Aisyah tersebut di atas. Aisyah dan para shahabat bahkan hapal betul kapan Rasul marah. Rasul tidak marah dengan cara memukul orang atau benda. Tidak juga dengan berkata: Saya sedang marah! Tetapi mereka semua sangat paham kapan Rasul marah. Karena terlihat dari bahasa tubuh beliau. Wajah yang memerah, urat leher yang membesar dan seterusnya.
Andai anak-anak hari ini seperti Aisyah yang bisa memahami orangtua dan guru hanya dengan sekadar perubahan wajah orangtua dan guru?
Kemudian mereka tahu bagaimana harus bersikap saat keadaan tidak nyaman seperti itu terjadi?
Alangkah mudah dan ringannya tugas mendidik itu…
Kalau kisah tersebut terjadi pada anak perempuan yang lebih besar rasanya, maka kini saya nukilkan kisah yang terjadi pada shahabat laki-laki yang juga masih berusia belia.
Jabir bin Abdillah radhiallahu anhu, shahabat asli Madinah yang oleh Ibnu Abdil Barr disebut (dalam: Al Isti’ab),

“Dia ikut menyaksikan Bai’at Aqobah kedua bersama ayahnya saat masih kecil dan tidak ikut pada Aqobah yang pertama.”
Aqobah dua hanya berjarak beberapa bulan menuju hijrah Rasulullah dan para shahabat ke Madinah. Dan kemudian Jabir berinteraksi dengan sang guru; Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Jabir belajar memahami gurunya. Berikut ini penuturannya,
Dari Jabir: Bahwasanya Umar bin Khattab radhiallahu anhu mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan membawa Taurat dan berkata: Ya Rasulullah ini Taurat.
Rasul diam. Dan Umar membacanya. Wajah Rasulullah mulai berubah.
Abu Bakar segera berkata: Tidakkah kamu melihat wajah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam?
Umar pun melihat wajah Rasulullah dan kemudian berkata: Aku berlindung kepada Allah dari kemurkaan Allah dan Rasul Nya. Kami ridho kepada Allah sebagai Robb, Islam sebagai Ad Dien dan Muhammad sebagai Nabi.
Nabi kemudian bersabda: (Demi yang jiwa Muhammad berada di tangan Nya, andai Musa hadir untuk kalian, kemudian kalian mengikutinya dan meninggalkanku, kalian semua tersesat dari jalan yang lurus. Andai ia hidup dan menemui kenabianku, pasti ia mengikutiku) (HR. Ad Darimi, lihat Misykat Al Mashabih karya At Tibrizi dan dihasankan oleh Al Albani)
Peristiwa ini dihadiri oleh Jabir yang masih belia. Peristiwa ini hadir hidup dalam kenangan Jabir. Di sinilah ia belajar bagaimana memahami guru yang sedang marah. Abu Bakar yang melihat perubahan wajah Rasul segera memberitahu Umar. Abu Bakar hanya berkata: Tidakkah kamu melihat wajah Rasulullah? Umar yang mendengar itu, hanya menatapkan matanya ke wajah Rasul. Dan seketika itu, Umar langsung paham bahwa beliau sedang marah. Dan Umar segera tahu sumber kemarahan Rasul, yaitu keberadaan Taurat yang dibawanya dan dibacanya di hadapan beliau. Umar pun segera bertindak untuk mencari keridhoan guru dan berupaya meredam kemarahan beliau. Dan guru yang bijak itupun menjelaskan mengapa beliau marah.
Ini berjadi dengan gamblang di hadapan Jabir. Pantaslah para shahabat Nabi sejak dini tak hanya dipahami tetapi juga belajar memahami guru.
Begitulah kita belajar dari pendidikan terbaik Rasulullah. Sebagai orangtua dan guru, kita harus memahami anak-anak kita. Tetapi kita pun harus mulai mengajarkan kepada anak-anak untuk memahami orangtua dan guru.

# pendidikan kuttab

# pendidikan cara nabi

# anak memahami ortu dan guru

[01/02 17:58] ‪Lintang‬:

[01/02 17:52] ‪Athiyah‬: 
Bukan hilang berkahnya kayaknya mba. Justru dg ilmu yg dia pelajari dan amalkan menjadi berkah tersendiri baginya. Orang2 banyak yg menanti2 kedatangannya *cmiiw gitu bukan mba Rita?

Hoo.. Baru paham..

[01/02 17:59] Rita: Dalam kitab Tazkiyatunnafsi ( menyucikan jiwa), bahasan adab murid dan guru ini di bab awal
Nah kalau dikaitkan dg kehidupan berbangsa dan bernegara, maka berhati-hatilah memperlakukan guru” simbol al haq. 🎯
Saya byk diajari suami ttg bab murid dan guru. Dipesantren salaf (konservatif), ini ditekankan sekali.

[01/02 18:06] ‪Athiyah‬: “ngena” banget. Seperti apa mereka memperlakukan para Ulama yg mewarisi ilmu para nabi? 😣

[01/02 18:09] Rita: Paksu sempet kaget sama kelakuan saya, dipesantren kalau die ngangkat alis aja, semua mengkeret.Saya nyantai cengengesan. Pas saya nyela saat diterangkan ilmu sorof, paksu ninggalin saya. Dan gak pernah mau ngajarin lagi😅🙈

[01/02 18:10] risfi: Apa kabarnya murid2 di sekolah jaman skrg ya, teh..

[01/02 18:11] Rita: Iya, degradasi anak bangsa ini dimana-mana.

[01/02 18:12] Rita: Di rumah dg ortunya, di sekolah, di ruang publik bahkan diruang (katanya) peradilan.

[01/02 18:15] risfi: Di sekolahki dulu serempak deh kalimatnya, “kami kan bayar di sini.”

[01/02 18:15] ‪Athiyah‬: Saya ingat, ketika dulu ayah saya kena tilang karena memang tidak sengaja (tidak melihat tanda), distop sama pak Polisi. Tapi setelah tau Ayah saya guru pak polisi jadi agak sungkan dan mempersilakan utk melanjutkan perjalanan. Kalau dulu penghargaan dan penghormatan thd guru masih besar ya. Kalau sekarang polisi masih gink gak ya?

[01/02 18:15] risfi: Bahkan klo bermasalah sm guru trus bisa berhasil keluarin gurunya rasanya bangga sekali.

[01/02 18:16] Rita:

[01/02 18:15] risfi: Di sekolahki dulu serempak deh kalimatnya, "kami kan bayar di sini."

Efek kapitalisme pendidikan

[01/02 18:17] ‪Athiyah‬:

[01/02 18:15] risfi: Bahkan klo bermasalah sm guru trus bisa berhasil keluarin gurunya rasanya bangga sekali.

Saya juga sempat mengalami masa ini mba. Eh tapi ini gurunya bener2 “berulah” ya. Kalau gini harusnya adabnya gimana ya?

[01/02 18:18] risfi: Yah klo krn ulah guru sih mungkin wajar, mba.

[01/02 18:19] ‪Lintang‬: Iya.. ☹

[01/02 18:19] ‪Aris Wijiani‬: Bagaimana menyikapi anak yg suka mengeluh tentang sikap guru di sekolah y Bun..akhir2 ini setiap plg skul anak suka mengeluh dgn sikap guru yg menurut ceritanya nyebelin

[01/02 18:19] ‪Silvia Nov‬: Seru nih.. Kajian bada magrib :).. # ikut nyimak ya mba rita..
Oiya, mau tny juga ‘ batas memuliakan guru/ sumber ilmu dg pengkultusan, bagaimana ya mba?

[01/02 18:20] ‪Lintang‬: Magriban dlu😄

[01/02 18:20] risfi: Aku termasuk yg suka bawel. Dijulukin si setan sm satu angkatan

[01/02 18:21] risfi: Pdhl bawelnya ya buat mereka juga. Duh klo lihat sikap anak2 sekarang. Sedihh..
Itu salah satu alasan aku resign. Lebih baik kekepin anak sendiri dulu deh di rumah.

[01/02 18:34] ‪Maryam‬: Rasanya pas sekali obrolan magrib ini dgn keadaan di sekolah yg saya ajar.. supaya anak2 mau hormat dan memahami guru itu gmn caranya ya?

[01/02 18:35] ‪Sun Asih‬:

 Saya byk diajari suami ttg bab murid dan guru. Dipesantren salaf (konservatif), ini ditekankan sekali.

Betul. Utk soal adab thd guru sy banyak belajar dr kawan2 santri traditional NU. Salut

[01/02 18:45] ‪Ira‬:

[01/02 18:16] Rita: 
Efek kapitalisme pendidikan

😫

[01/02 18:52] ‪Sita Elanda‬:

[01/02 17:24] Rita: Tidak menyela pembicaraan, mengungkap kekurangannya itu penghormatan standar ya. 
Kalau melayani, menservice guru itu tergantung kemampuan kita. Di pesantren para santri punyanya tangan dan kaki serta pancaindera, maka mereka melayani guru dg memijatnya sampai puas, menimbakan air, mencari kayu bakar, mencangkul ladang.
Duluuu

Mamaku masih ngalamin berkhidmat sama guru ngajinya pas kecil itu bebersih rumahnya, nimba air, Ya Allah kalo anak skrg digituin emaknya nyapnyap kali yak

[01/02 18:55] Rita: Saya lg haidoh nih, biasanya jam segini masih di Masjid ma anak”.
Kita lanjut nyook.😄

[01/02 18:57] Rita:

[01/02 18:17] ‪Athiyah‬: 
Saya juga sempat mengalami masa ini mba. Eh tapi ini gurunya bener2 "berulah" ya. Kalau gini harusnya adabnya gimana ya?

Guru berulah ada mekanismenya mba.
Dan memang gak semua org mencintai profesinya setulus hati . Terlepas dr diberi honor atau di gaji.

[01/02 18:58] ‪Mama Nanik‬: Agar guru dimuliakan maka guru jg hrs punya ilmu dan adab sbgai guru….jadi seimbang

[01/02 19:01] Rita: Inget saat seminar beberapa tahun lalu. Dapet narsum keren, dia kategorikan guru:
1. Guru bayar: cari kerja, tranfer materi, gak perduli murid paham atau enggak, bshkan gak perduli disukai atau tidak
2. Guru nyasar: ngajar bukan spesifikasi ilmunya
3. Guru sadar: menyadari perannya sebagai pendidik, up grade ilmu dst.

[01/02 19:02] Rita: Guru kategori 1 cenderung mmg akan bermasalah.

[01/02 19:04] ‪Mama Nanik‬: Kl membaca para ulama terdahulu mencari ilmu polanya memang “teacher center” bukan “student center”
Ulama yg merantau mencari gurunya, apapun dilakukan agar bisa berguru dgn ulama besar

[01/02 19:07] Rita: Tipe 2 juga akan bermasalah, tapi gak sefatal yg pertama, kecuali spesifikasi ilmunya ttg bab aqidah atau yg disiplin ilmunya menyangkut keselamatan jiwa.

Di pesantren, SIT, SA Sekolah Karakter, biasanya rekrutmennya mmg mendahulukan yg sejalan dg value lembaga.

[01/02 19:10] Rita: Tipe 3 ini biasanya memang bakatnya di dunia pendidikan, memiliki keilmuan dan memberikan ilmunya sejalan.
[01/02 19:12] Rita: Tipe 2 bisa mudah jadi guru Sadar, karena peran lembaga juga memfasilitasi up grade SDM.
[01/02 19:12] Rita: Sampai situ anggap masalah guru selesai deh
[01/02 19:13] Rita: Masalah lainnyaa. ….Jreeeeng
[01/02 19:15] Rita: Komplicated. 😅
1. Beban administrasi guru
2. Beban muatan pendidikan siswa
3. Beban operasional sekolah
4. Beban mental: murid, guru, sekolah dg kurikulum yg padat

[01/02 19:16] zuhay:

[01/02 19:07] Rita: Tipe 2 juga akan bermasalah, tapi gak sefatal yg pertama, kecuali spesifikasi ilmunya ttg bab aqidah atau yg disiplin ilmunya menyangkut keselamatan jiwa. 

Ya bgt mba dan kesadaran dari diri sendiri atas ilmu yg udh dimiliki.

[01/02 19:17] Rita: Biasanya yg berbakat jadi pendidik tapi spesipikasi ilmunya gak sesuai dg tuntutan kurikulum, ada di zona 2 ini.
Saya contohnya😬

[01/02 19:21] Rita: Saya dan srorang teman di lamar oleh pesantren yg ikut program pendidikan formal, ingin punya ijazah negara, gitu maksudnya.
Kami diminta ngajar pelajaran umum yg kami sukai. Gak diminta ijazah.
Yg diincar dari kami adalah standart moral.
Maka kamipun jadi guru nyasar. Kuliah apa….ngajar mapel apa😅
Tapi kami mencintai dunia pendidikan. Jadilah belajar keras memperbaiki diri

[01/02 19:22] zuhay: Mantap mba rita 👍🏻😍

[01/02 19:24] Rita: Saran saya, pilih sekolah buat anak yg mayoritas gurunya tipe 2&3.

[01/02 19:28] liya: Wah mbak @Rita 😍

[01/02 19:29] Rita:

[01/02 18:19] ‪Aris Wijiani‬: Bagaimana menyikapi anak yg suka mengeluh tentang sikap guru di sekolah y Bun..akhir2 ini setiap plg skul anak suka mengeluh dgn sikap guru yg menurut ceritanya nyebelin

Adapun standar nyebelin, kita koreksi bareng” sama anak. Masalahnya apakah perasaan anak saja atau fakta, trus nyebelinnya bab fundamental atau bukan.
Komunikasikan dg pihak kepala, kalau tidak ada perubahan lanjut ke yayasan.
Saya pernah ‘ngadu’ ke kepsek anak saya saat walikelasnya gak ramah anak. Bisa selesai dg baik.

[01/02 19:31] Rita:

[01/02 18:58] ‪Mama Nanik‬: Agar guru dimuliakan maka guru jg hrs punya ilmu dan adab sbgai guru....jadi seimbang

Di sekokah” atau lembaga yg baik, adab ini di up grade secara rutin biasanya. Dan ortu siswa/santri berhak tahu kegiatan semacam ini. Minta saja jadwal tahunannya.

[01/02 19:35] Rita: Bahkan lembaga yg punya visi misi kuat, menjadikan ini sbg prasyarat.

[01/02 19:37] Rita:

[01/02 18:34] ‪Maryam‬: Rasanya pas sekali obrolan magrib ini dgn keadaan di sekolah yg saya ajar.. supaya anak2 mau hormat dan memahami guru itu gmn caranya ya?

Yg ini tugas utamanya ortu. Mau di rumah, disekolah, dimanapun ortu dan anak sama” menjalankan prinsip : adab sebelum ilmu.

[01/02 19:37] Rita: Ortu meneladani. Gak bisa enggak. Wajib🎯

[01/02 19:44] ‪Athiyah‬: #ngejarnyimak

[01/02 19:45] Rita:

[01/02 19:04] ‪Mama Nanik‬: Kl membaca para ulama terdahulu mencari ilmu polanya memang "teacher center" bukan "student center"
Ulama yg merantau mencari gurunya, apapun dilakukan agar bisa berguru dgn ulama besar

Idealnya begini mmg nih.
Makin terkikis sekarang, meski masih ada dan bahkan mulai membuat dan menjalankn sistemnya .
Ustadz Adriano Rusfi jd konsultan pendidikan dg sistem ‘teacher center’.

[01/02 19:46] Rita: Pamit yaaaa. Anak” dah pd pulang dr Masjid:mrgreen:

[01/02 19:47] Rita: Maaf kalo ada salah” kata😍

[01/02 19:56] ‪Marlia‬: Alhamdulillah ini juga dilakukan di sekolah anak saya.. Tiap semester ada semacam raker buat guru, tujuannya buat upgrade ilmu dan adab. Dicantumkan dalam kalender pendidikan per semester dan dipublish di fb sekolah 🙂

[01/02 19:56] ‪Marlia‬: Terimakasih ilmunya bun rita.. Jazakillah khoiron katsiron :)🙏🏻

[02/02 05:45] Rita:

[01/02 18:19] ‪Silvia Nov‬: Seru nih.. Kajian bada magrib :).. # ikut nyimak ya mba rita..
Oiya, mau tny juga ' batas memuliakan guru/ sumber ilmu dg pengkultusan, bagaimana ya mba?

Kalau ini tergantung pemahaman orang memang, ada 4 kategori:
1. Muslim kultural : Muslim turunan, terima jadi gak membuka pikiran dan diri dengan ilmu, cenderung apatis.
2. Muslim emosional: Muslim yg punya ghiroh dan mengekspresikannya secara reaktif, mudah tersugesti, cenderung terjebak fanatisme.
3. Muslim intelektual: Muslim yg senang mengkaji sehingga apapun pilihan sikap hidupnya disandarkan pada keshohihan sumber dan pembawa ilmunya. Cenderung lebih berhati-hati namun karena sandarannya kuat, kuat pula keteguhannya.
[02/02 05:50] Rita: 4. Diluar kategori itu, terserah pembaca bikin kategori sendiri aja😬
* saya lg menunggu hidangan pancake buatan the girls☺

[02/02 05:55] Rita: Semoga kita terkategori 3, meski situasi bikin emosi dah di ubun” tetap sabar mengkaji situasi , menunggu dan mentaati fatwa guru pewaris risalah.💕

[02/02 05:58] ‪Vika‬: Mba @Rita ,

Rita : 
Jika kita lempeng" aja perasaannya meski ilmu dah numpuk, artinya kehilangan makna dan belum mendatangkn keberkahan.
Makanya ada orang pede, meski secuil ilmunya, gak punya ijazah mentereng, malah dikejar-kejar yg butuh ilmu.

Ini maksudnya gimana ya? Kok saya gagal paham. 😅🙏🏻

[02/02 06:14] Rita: Lempeng yg saya masuk ilmunya sampai di hapalan saja, sampai tahu, tapi gak terolah jadi hikmah. Sebab hikmah itu paduan ilmu, pengalaman, perasaan dan kehendak Alloh.
Misal bisa baca Al Qur’an, bagus banget tahsinnya, bahkan hapal. Tapi ghirohnya gitu” aja, gak ada peningkatan.

Artinya ada samething wrong. Mungkin di niatnya.
Hapal hukum archimides, tapi lihat kapal tanker bisa ngambang, bingung. Artinya sampai tahu saja, gak ada *upaya* lain setelah tahu.

[02/02 06:19] Rita: Sebaliknya, ada yg tahunya secuil ilmu, tapi diamalkan, jadi penguat perasaannya: lebih tenang, nyaman, percaya diri. Perasaan ini hadir biasanya setelah kita konfirmasi ilmu itu dg syariat .

[02/02 06:20] Rita: Kehendak Alloh itu saya nisbatkan ke syariat.

[02/02 06:21] ‪Vika‬: Ooh.. iya mba.. paham sudah.. makasih mba rita.. 😘😘

[02/02 06:24] Rita: Contoh dinisbatkan kesayariat: salah satu pelajaran ekonomi.

“Dengan modal sekecil-kecilnya, untuk meraih untung yg sebesar-besarnya”

Kudu di bedah ini, biar gak jd kapitalisme dsb.
Guru ekonomi nih penting, seperti para guru sejarah dan PPKN

[02/02 06:26] Rita:

[02/02 06:21] ‪Vika‬: Ooh.. iya mba.. paham sudah.. makasih mba rita.. 😘😘

Masama mba😘

[02/02 06:42] ‪Lintang‬:

[02/02 05:58] ‪Vika‬: Mba @Rita ,
Rita : 
Jika kita lempeng" aja perasaannya meski ilmu dah numpuk, artinya kehilangan makna dan belum mendatangkn keberkahan.
Makanya ada orang pede, meski secuil ilmunya, gak punya ijazah mentereng, malah dikejar-kejar yg butuh ilmu.

Ini maksudnya gimana ya? Kok saya gagal paham. 😅🙏🏻

Nah itu kmrn yang saya bingungin jg😂

[02/02 06:44] Rita: Bahasa saya dominan otak kanan ya😂

[02/02 06:47] ‪Didie‬: Bun Rita mantap euy….trmksh ilmunya….sy jd ngerti klo dikasih contohnya Dr hal yg sederhana spt ini….

[02/02 06:52] ‪Athiyah‬: Lanjut lagi mba Rita…

[02/02 06:52] ‪Athiyah‬: Butuh ilmu heuheu

[02/02 06:57] Rita: Iya mba D.
PR besar kita jd ortu adalah: anak bertambah wawasan, kaya pengalaman, kaya perasaan, bertambahlah keimanannya. Jadi dia berkarya setelah proses hikmahnya dia dapat, pastinya jadi maslahat, produktif.
Amal sholeh itu artinya amal yg produktif dg batasan: dilarang Alloh tidak?
Sholeh itu tidak sebatas santun. Jika output pendidikan sampai di sopan santun, belum tentu produktif.

[02/02 07:03] Rita: Kebayangkan udah gak sopan gak santun, karyanya juga gak produktif, cuma satu unsur saja misal; indah. Atau ; tambah kaya.
Okelah indah dan kaya itu bisa di bilang produktif, tapi pakai batasan syariat nggak?
Bimbing diri dan anak kesitu, lalu lihat ke atas apakah orang” yg bimbing kita juga ngajak kesitu atau enggak.
Simple sebenarnya.

***

RESUME oleh Silvia Rahayu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s