Delay gratification

Tanggal diskusi      : 19 Desember  2016
Tema diskusi         : Delayed Gratification
Narasumber           : Yurika
Moderator              : Risfi
Notulen                  : Silvia Rahayu

Opening Dari Mba Yurika
Sebelum tanya jawab ini, kta samakan persepsi tentang delayed gratificationnya dulu ya mba-mba.. 😄
Bahwa itu adalah salah satu bentuk pendidikan agar anak belajar mengendalikan keinginannya
Dan latihan paling efektif dimulai sejak lahir, sejak keinginan-keinginan pertamanya muncul
Lantas, apa jika sudah besar terlambat.
Jika tidak dilatih sejak lahir, efeknya pasti ada. Tapi bukan berarti ngga bisa diluruskan.. 🙂
Insyaa Allah jika masih dibawah 5 tahun masih cukup mudah meluruskan pertumbuhannya, itu fitrah dari Allah

Kalau ditanya, apa anak sy disapih dengan proses itu?
Ngga.
Kan diatas saya ‘cerita’ bahwa kisah diatas adalah refleksi di dua kekeliruan sy ketika menyusui dua anak pertama 😁

Jika sudah terlanjur, mulai latih anak menemukam rasa nyamannya sendiri
Biasanya anak2 yang macam ini akam mengalihkan kebutuhan kenyamanan psikologisnya dengan hal2 tertentu, misal pegang kuping, rambut, dsb
Ngga dosa,
Tapi harus dibimbing agar perlahan mandiri, karena ini ketergantungan yang ngga sehat.
Ibarat “empeng” yang mentransformasikan bentuknya

TANYA JAWAB

1. Fitri
Sebelumnya trimakasih untuk sharingnya mbak yuri…
Pas banget dengan masalah yang saya hadapi sekarang…
Anak saya pertama 5 tahun yang kedua 3,5 tahun…
Yang pertama asi hanya sampai 1tahun
Yg kedua asi sampai 2tahun3 bulan
Pertanyaan :
1. Pernah denger istilah kalo dengan asi anak lebih sabar dibanding dengan sufor? Karena cara bayi dalam menyusu… Benarkah mbak?
2. Kalo untuk anak nangis sy memang tidak membiasakan langsung menolong seperti jatuh atau mengambil sesuatu misal minum atau hal hal lain yg menurut kategori sy mereka masih bisa berusaha.
Dampak positifnya sy rasakan mereka ga gampang nangis jatoh bangun sendiri dan apa apa ga manja
Tp sy mendapat dampak yg lain
didepan saya mereka bisa paham…(istilahnya aturan rumah)
Tp kadang saat keluar rumah didepan eyang akung uti nya seperti berperan.. Mencari perhatian..
Biasanya ga akan nangis tp pas dirumah eyangnya jd nangis atau ngambek (Dlm hati lebay… Tp saya tau mereka cari perhatian aja sama yang kung utinya.. Tp sy yg kadang jd ngerasa apakah sy terlalu tegas/tega keanak)?
Udah coba kasih penjelasan ke akung utinya dengan aturan yg sy dan suami sepakati…
Tp balik lg… Akung dan utinya cuman bilang Kan jarang jarang kesini ga tiap hari…
Gimana solusinya ya mbak??
3. Anak sy yg pertama cuman setahun asinya karena terjadi kontraksi di rahim karena hamil jd sy putuskan lepas asi… Gampang nyapihnya….
Nah anak kedua (asi senjata ampuhhh) lumayan susah nyapihnya… Sampai sekarang maaf *masih mentil dengan tangan kalo mau bobo… Ga bisa lepas..
Gmn solusinya ya…. 😰😰😰🙈🙈🙈🙈

Mba Yurika :
1. Poin lebih sabar atau tidaknya saya belum ada ilmunya. Mungkin kalau lebih tidak tergantung dengan ASI bisa jadi.
Sebetulnya yang membedakan bukan tentang ASI atau sufor. Tapi tentang seberapa anak dilatih menunggu respon atas tangisannya. Yang semestinya juga bisa dilatih pada bayi ASI
Walaupun memang boleh jadi pada anak sufor rentang waktu antara tangisan dan respons lebih panjang (dibanding ASI yang tinggal lep), maka dari itu ambang batas tunggu mereka lebih lama
2.  Untuk perbedaam pola asuh dengan kakek-nenek, sepertinya tantangan orangtua sedunia ya.. Event kate middleton yang happening itupun pernah berselisih pendapat sm ratu inggris #apalahini 😂
Pun rasanya gemess ya pas kejadiannya di depan mata 😄
Tapi tenang, kalau sudah nemu polanya akan lebih mudah menanganinya.
Hitung frekuensi & durasi interaksi antara anak dengan kakek nenek, dibanding anak dengan orangtua
Jelas lebih lama waktu yang mereka habiskan bersama orangtua. Terlebih memang sdh fitrah dari Allah di usia 0-5 idola anak itu ayah & ibunya. Yang jadi modal utama membentuk mereka sesuai visi misi keluarga, bukan visi misi kakek nenek..
Jadi PeDe dulu bahwa kita punya POWER lebih untuk menguasai anak2, pun tidak dengan memaksa ya.. Karena tidak ada value yang ditransfer dengan paksaan

Tanggapan : Tidak ada value yg ditransfer dgn paksaan…
Waduhh PR bgt nie mbak buat saya….
Beberapa hal memang ada yg saya tekankan bahasa kasarnya sie maksa🙈🙈🙈

Mba Yurika : Yang kedua,
Tentu kalau punya “saingam pamor” harus dicari dulu apa yang bikin kakek-nenek lebih populer di mata anak daripada ayah/ibunya.
Umumnya yang bikin kangen dari kakek nenek adalah perhatiannya yang melimpah, hadiah2, keringanan2
Nah, sebagai bahan evaluasi diri, kalau diri kita terlalunketat, longgarkanlah.
Hanya larang hal2 yang membahayakan jiwa, akal & agamanya
Dan pastikan kita punya “nilai lebih”, yang ngga bisa dilakuin kakek-nenek, yang bikim anak2 cinta setengah mati sama kita..
Yang kalau sudah cinta & loyal sm ortunya, jadi modal untuk membentuk mereka.
Karena sudah fitrahnya manusia akan melakukan sesuatu yang disenangi oleh yang dicintainya.
Jadi modal di 5 tahun pertama mendisiplinkan anak memang bonding yang kuat antara anak & ortunya
Intinya ngga perlu panik sm pengaruh dari luar, selama bisa dipastikan bahwa kita punya waktu lebih banyak untuk mendetoksnya
Dan yang terakhir, minta bantuan sm yang membolak-balikkan hati..
Karena ikhtiar kita beserta segala tips m trik itu ngga ada apa-apanya kalau tnp kehendak Allah

Tanggapan ‬: Sip sip mbak…. “Nilai lebih” 🤔🤔👌👌:):):):)

3. Untuk proses menyapih, standar mba.
– Luruskan niat bahwa mencukupkan ASi 2th karena demikian manual book dari Allah mengajarkan
– Sounding sejak 6 bulan
– Kurangi frekuensi ASI perlahan
– bantu dia mencari aktivitas yang membuatnya nyaman & lupa waktu, story telling, menggambar
Terutama aktivitas relaksasi sebelum tidur (karena ini biasanya momen paling menantang sepanjang pengasuhan)

Dan untuk ketergantungan anak pada benda tertentu pemggangi asi, perlahan diberi dialihkan.
Kalau anak pertamaku, suka pegang2 tangan, yang mana juga sedikit mngganggu karena menghalangiku bergerak
Dikasih warning,
Misalnya awalnya dibatas 10 menit, berkurang ke 5 menit, lanjut ke 1 menit hingga akhirnya berat atau ringan anak setuju untuk ngga samsek
Pun disiplin, tapi selama proses soundingnya anak hrs tetap diyakinkan bahwa dia tetap disayang yaa
risfi: Catatan penting: dikurangi secara bertahap

2.  Pertanyaan :

Self shooting itu bisa dimulai sejak usia berapa ya?
Mbak punya contoh jadwal menyusui yang sesuai dengan usia anak tidak?

Mba Yurika : Kalau soal jadwal menyusui.
Mungkin teman2 penggiat mpasi lebih paham teknisnya mba.
Kalau sependek yang kubaca, start dari newborn jam-jam laparnya di kisaran tiap 2-3 jam. Nnti makin lama makin panjang seiring kapasitas lambungnya yang bertambah.
Dan nnti disesuaikan lagi dengan jadwal mpasi.

Tanggapan : Kalau untuk usia 0-6bulan gimana ya?
Tanggapan : Kalau yang 6m+ ada contoh jadwal nyusu di HHBF sih. Jadi ikutin itu aja ya?

Mba Yuri itu jdwl yg dr IDAI utk 6bln ke atas
risfi: Mau nambahin utk 6bln ke atas, delayed gratification (yg ini hubungannya sm pemberian ASI) berpengaruh sm pola makan juga. Aku pernah diomelin ahli gizi krn beranggapan it’s ok Gege ga makan asal nyusu. Terutama pas weekend, dengan anggapan dia aku tinggal slm weekdays.
Dan itu yg bikin Gege ga punya pola makan yg baik.
Dokternya bilang we have to take control of it.
Mba Yurika : 0-6M jika ngga ada masalah dengan pencernaan dan penyerapan mestinya per dua jam sekali cukup mba
Di luar durasi itu pun dia mangap ngga serta merta berarti lapar
risfi: Klo ga salah di AIMI diinfokan sekitar 2-3 jam sekali, mba.
Tanggapan ‬: Oh, jadi walaupun sudah 3 bulan ke atas tetep sebaiknya 2 jam sekali ya.. *lha nek ga terus mau makan apa emang yak. 😂

3. Mba Yurika, untuk mengatasi anak usia 5 thn yang masih nempel ke mamanya gimana ya?
Raisa klo lagi tidur siang sama aku, misal aku kebangun otomatis dia ikut bangun. Pdhl mamanya mau ngerjain yg lain. Atau misal dia lg main d kamar, aku ke dapur aja langsung diikutin. Aku nya suka jd gemes…. perilaku spt itu wajar apa nggak ya? Dan gmn cara mengatasinya
Raisa baru berhasil disapih usia 3 tahun
Tapi dia kalo nginep2 di rumah kakek neneknya udah berani sendiri
Terima kasih Mba Yurika

Mba Yurika :
Pengalaman anak keduaku tnp dikondisikan sejak lahir otomatis lapar per 2 jam. Malampun begitu
Namun seiring berjalan waktu dan aku menjadikan asi fasilitas untuk menyuapnya agar tetap tidur di malam hari, perlahan mulai mengembangkan kebiasaan ngempengnya

Tanggapan : Iya mbaaa.. suka jadi gemes kalo diikutin kemanapun pergi. Dari tidur bisa langsung bangun meski udah mengendap2 😅
Mba Yurika : Yang dirasa mengganggu apakah mba?
Maksudnya, jika dia hanya mengikuti masih dalam batas normal
Tanggapan :  Normal sih mba yg penting akunya kelihatan.. tapi klo misal dia tidur atau main aku nya pergi 5 meniiit aja ko ga bs ditinggal.. klo mandi aku juga dipesenin spy mandi bebek aja 😂
Wajar tapi perlahan diperpanjang rentang pisah dari ibunya mba. Di dalam rumah aja dulu,
Misalnya tinggal melakukan apa dalam rentang 10menit 20dst
Setelah beri penjelasan dan alternatif “aktivitas menunggu ibu”, biarkan dia menunggu kita sampai durasi latihsnnya slesai
Nanti perlahan semakin terlatih akan sadar bahwa ada aktivitas yang bisa tetap serudilakukan pun tnp ibu

Tanggapan :  Aku biasanya pas mandi..  bilangnya mandinya agak lama. Bisa 15 menit mba. Tp lama2 dia nangis di luar 😂😂😂
Tanggapan : Nanti aku coba ya Mba Yurika… makasih Mbaa 🙂

4. Mau tanya kalau masih bisa 🙈
1. Bagaimana membedakan ketika anak banyak nyusu karena memang sedang growth spurt atau cuma sekedar pengen?
2. Pernah baca teorinya Eriksson. Usia 0-1 tahun masanya krisis trust vs mistrust. Ketika nangis sebaiknya segera direspons agar anak merasa bahwa dunianya aman dan menimbulkan sikap optimis dan percaya diri di masa depan. Saya sih seringnya g langsung respon kalau sdg ngerjain sesuatu dan blm selesai, tp habis itu jd sering merasa bersalah sendiri 😅 lama mendiamkannya sebaiknya berapa lama kah yang aman? Apakah 5-10 menit tadi..?
Makasih sebelumnya mbak yurika.. 😄

Mba Yurika :
1. Menyusu karena lapar bisa dibedakan dengan ‘ngempeng’
Ada durasi menyusui efektif menurut AIMI, dari konselor laktasi yang kukenal kalau ngga salah kisar 15-20 menit semestinya sdh terpenuhi laparnya, #cmiiw
Selanjutnya ngempeng, dan ini bisa dilatih dialihkan

Risfi: Anak menyusu dan ngempeng itu beda. Bisa dilihat dr gerakan di leher dan pelipis mata. Ada gerakan menelan.
nah growth spurts sendiri kan terjadi ga setiap hari, ada di bbrp artikel yg bilang terjadi di waktu2 tertentu meski ga menutup kemungkinan bisa beda2 di setiap anak.
Biasanya usia 7-10 hari, 2-3 minggu, 3 bln, 6 bln, 9 bln. Bahkan ada artikel yg bilang smp masa pubertas juga kita akan alami GS
Nah ketika GS anak akan cenderung lapar. Jd bisa dipastikan menyusu dan ada gerakan menelan.
Berbeda dg anak yg sekedar pengen nempel sama ibunya.

2. juga alasanku fast response untuk tangisan/panggilan anak mba 😅
Pun ternyata memang belajar menunggu adalah pembelajaran penting di awal2 masa hidupnya.
Tentang ambang waktu tunggu tergantung seberapa urgent tingkat kebutuhannya.
Kalau untuk menyusui,
5-10 menit cukup.
Tapi selama ngga direspon, anak perlu yakin ya bahwa ketidakdatangan ibunya adalah karena ia diminta menyelesaikan sendiri, bukan karena dia diabaikan
Nah, itu yang perlu disampaikan ke anak..
Misal sambil bicara jarak jauh, “tunggu ya nak, ibu masih harus ini…. Itu,”
Jadi yang diabaikan tangisam dan rengekannya, bukan anaknya. Agar self esteemnya tetap baik
Tanggapan : : Oh iya ya itu bentuk pengajaran sabar.. Pantas aja alfath klo kartun kesukaannya lg dselingi iklan dia mrengek.. Hufh

TAMBAHAN

Pertanyaan 1.
1. Anakku usia 2 bulan. Apakah sdh mulai diterapkan delay gratification itu? Setiap nangis krn lapar, saya tunggu dulu sekitar 5-10 menit?
2. Dia suka sekali digendong. Klo buka mata, maunya digendong dan jalan. Ga mau klo diajak duduk atau berdiri diam. Dan dia punya posisi favorit, klo diubah posisinya ga mau >> nangis, minta ke posisi sebelumnya. Apakah ini masih wajar utk anak usia 2 bulan? Bisakah delay gratification ini dipakai utk mengurangi durasi gendongannya?
3. Klo nangis krn ga nyaman (ngompol >> basah). Apakah pake delay gratification jg?
Pernah dia agak lama diresponnya, jd pengen digendong saya, tapi saya biarkan digendong sama ayahnya.. (kasusnya dy lg rewel krn ngantuk) nangisnya jd lebay sampe batuk2 segala.. apakah ini wajar?
Maaf ya mbak.. banyak nanya🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Terima kasih

Ririn Febrina: Kalo saya selama ini penganut bayi nangis segera didiamkan, disusui atau digendong. Karena yg pernah saya baca respon kita terhadap tangisannya berpengaruh pada rasa nyaman dan rasa percaya diri si bayi. Ketika dia menangis langsung direapon, dia merasa aman, dia merasa percaya pada ibunya. Sebaliknya ketika bayi menganis tidak langsung direspon, dia merasa tidak aman, tidak percaya. Malah ini membuat bayi jadi nangisan. Krn yang dipelajari oleh bayi adalah : saya harus menangis kencang dan lama baru ibu saya menghampiri. Nah sedangkan bayi yang langaung diarespon kalo menangis tidak demikian, krn dia merasa aman, merasa percaya pada lingkungannya (terutama ibu), maka dia lebih anteng, krn dia tau tak perlu menangis untuk mendapatkan perhatian ibu, tak perlu menjerit jika merasa lapar, bosan, atau tak nyaman. Menangis bukanlah solusi. Kira2 begitu… Dan itu saya terapkan pada anak pertama saya, krn yang dimomong baru satu. Anak kedua dan ketiga mulai deh ibunya kurang responsif krn udah banyak kerjaan ini itu. Dan nyatanya anak sulung saya sejak bayi smape skrg usia 6 tahun paling tidak rewel, sama sekali tak mengenal tantrum, sangat mudah diajak negosiasi ketika keinginannya belum terpenuhi. Berbeda dengan adik2nya yang suka berteriak menjerit kalo keinginan tidak terpenuhi. Saya malah baru tau kalo ada anjuran dr agama untuk felay gratification:oops:

Ira Puspita : Itu juga yang saya alami mba. Perbedaan anak saya yang ga langsung respon ketika nangis, dengan keponakan saya yang selalu dapet respon cepet. Anak saya jadi suka nangisan dan lebih sering rewel dibanding keponakan saya.
Ririn Febrina : Kalo yang saya tau memang harus cepat direspon kalo bayi. Malah baru tau soal delay gratification ini. Apa memang diterapkan sejak bayi? Atau mungkin setelah agak besaran mungkin? Krn kalo bayi kan butuh banget rasa aman, rasa nyaman, rasa menjadi raja. Krn dia memang masih merasa “pusat dunia”. Kalo dibiarkan nangis kan kebutuhan itu ga terpenuhi. Masih bayi lho…
Ira Puspita : Punten, ternyata udah dijawab oleh mba Yurika. Jadi poinnya yang diabaikan itu tangisannya ya mba, bukan anaknya?
Oke noted. Intinya kita belajar kasih pengertian ya kepada anak? Betul begitu bukan mba Yurika?

Ririn Febrina: Kenapa bayi yg cepat direspon malah menjadi tidak terlalu rewel, adalah karena dia tidak merasa sendiri, merasa aman, nyaman, merasa dicintai, artinya seluruh kebutuhannya secara emosional terpenuhi. bayi yang duluan berkembang emosionalnya kan ya? Eh bener ga?😬
Ririn Febrina: Kalo anak2 setuju mbak, tapi kalo bayi? Saya masih belum paham…
Mba Yurika :  Saya tidak menyebutkan delay gratification anjuran agama mba ☺
Jelas disebutkan bahwa ini konsep luar.
👆🏼ini perlu diluruskan
Yang disampaikan secara umum diatas adalah, ada pendidikan jiwa, latihan bayi dalam menahan iradat (wants)-nya
Latihannya sejak bayi, bisa dimulai dengan memberikan ASI hanya saat ia lapar (bukan setiap kali anak menangis, krn tidak setiap tangisan bayi berarti lapar)
Betul jika nayi memang perlu diyakinkan bahwa dia direspons agar tumbuh kepercayaannya thd lingkungan.
Seberapa cepat responny?
Bergantung seberapa urgent kebutuhannya. Kalau jelas2 sebab tangisannya adalah sakit/jatuh. jelas harus langsung direspon.
Tapi tangispun ada ekskalasinya, ngga mesti setiap dia merehek-rehek (apa ya sebutnya, kita lgsg datangi macam petugas gawat darurat)
Karena ketika kita ajak dia bicara sembari menunggu (misal ibu mandi, makan, shalat), itu juga bentuk respons.
Dan selain menumbuhkan kepercayaan & rasa aman, ada yang lebih besar yang dia pelajari, kepercayaan pun sedikit lebih lama, saat ia menunggu, nnti tetap ada yang datang menolong.
Yap, saya alami sendiri bahwa anak yang langsung direspoms lebih jarang menangis, karena jauuuuh sebelum mereka mulai menangis kencang, sdh hadir penolongnya untuk membuatnya nyaman
Dia akan sangat percaya sm ibunya.
Tapi yang missed adalah kesempatan melatihnya menyamankan dirinya sendiri.
Karena ibu selalu datang segera tiap kali dia menangis,    Maka ia bergantung pada ibu untuk mendapatkan rasa nyaman itu. Yang jika ini berlanjut hingga besar, akan samgat besar ketergantungannya pada ibu & tidak terlatih menyamankan dirinya sendiri
Oiya,
Yang paling penting bersikap seimbang thd tangisan dan panggilan bayi.
Bijak memposisikan kapan harus say YES & kapan NO
Ngga semua kebutuhan bayi harus di-DELAY.
Juga ngga semuanya harus FAST RESPONSE
Ini pendidikan awal bayi bahwa yang akan serta merta dipenuhi adalah NEEDS-nya,
dan tidak semua WANTS
Mungkin drsears ini cukup mewakili tentang konsep delay ini :

“You may hear or worry that being nurturing and responsive to your baby’s needs might spoil your baby and set you up for being manipulated. This is why we stress that attachment parenting is _responding appropriately to your baby’s needs, which means knowing when to say “yes” and when to say “no.”_

Sometimes in their zeal to give children everything they need, it’s easy for parents to give their children everything they want.

Attachment parenting is a question of balance – not being indulgent or permissive, yet being attentive. As you and your baby grow together, you will develop the right balance between attentive, but not indulgent.

In fact, being possessive, or a “smother mother” (or father) is unfair to the child, fosters an inappropriate dependency on the parent, and hinders your child from becoming normally independent. For example, _you don’t need to respond to the cries of a seven-month-old baby as quickly as you would a seven-day-old baby._

As your baby grows, _you become more expert in reading her cries, so you can gradually delay your response._

Say, for example, you are busy in the kitchen and your seven-month-old is sitting and playing nearby and cries to be picked up. Instead of rushing to scoop your baby up, simply acknowledge your baby and give your baby “it’s okay” cues. Because you and your baby are so connected, your baby can read your body language and see that you’re not anxious, so you naturally give your baby the message, “No problem, baby, you can handle this.” In this way, you’re being a facilitator , and because of your close attachment you’re actually better able to help your baby delay gratification and ease into independence.”

Ririn Febrina : Oh iya iya hehehe… Tadinya fokus ke ustadz nya.
 risfi: Masih ada yg mau tanya lagi atau kita cukupkan saja sharing nya sampai di sini?
Lissyari ‬: Ada balancing ya dsini ga terlalu permisif juga tidak obsesif terhadap anak, ada close attachment juga sebagai prekondisinya.
Sedikit nanggapin ya mba mba, jadi kebutuhan bayi/anak itu ga cuma ASI/ makan. Mereka juga butuh diajak ngobrol, diajak main, dipeluk, dikasih ulik ulik wajah bundanya yang tersenyum sepenuh hati untuknya walau badai cucian dan peer beberes melanda.
Jadi ga semua kebutuhan tsb bisa direspon dengan ASI/makanan. Semakin kita pandai mengenali baby cries, semakin mudah kita tahu respon yg cucok juga kian rileks dalam mendelay respon.
Jadi ingat baby saya dulu yang kalau mau sampaikan sesuatu musti raih dan putar wajah emaknya.
Harus eye to eye. 😆
Mba Yurika :  👍🏼😍
Ira Puspita : 😍
Jadi PR banget ya. Supaya ga selalu bawa2 capek, lelah, emosi, mood jelek ke depan anak. Mungkin itu juga bisa jadi pengaruh anak merasa ga nyaman dengan kita ya mba?
Ira Puspita : Jujur sampe sekarang saya susah banget ngilangin kebiasaan bawa2 mood jelek saya ke depan anak dan kebiasaan selalu pegang hp setiap bareng anak. Apa karna itu anak saya jadi lebih sering nangis untuk minta perhatian ya?
Rita: Persis begitu👍👍👍😍

Dhita :  Makasih sharingnya Mba Yurika….
Hmm tanya masih bisa nggak ya??
Sy punya bayi usia 3bln (seminggu lagi sih)… Sy sering membuatnya menunggu kalo dia lagi minta asi, krn sy perlu waktu utk menyiapkan tisu, lap, sleber, pake breast pad utk PD ga disusu biar baju ga basah, semua itu lebih utk kenyamanan sy sih… Dan sy penganut banget jadwal lapar bayi 2 jam sekali, jd kalo dia merengek sebelum itu ga langsung sy susui, sy alihkan dulu perhatiannya dg main, tp kalo ga mempan berarti emng pengen nyusu jd sy susui… Nah sekarang, dia udh nemu pengalihan yg sepertinya sangat nyaman untuknya kalo sy ga segera meresponnya, dg ngenyut tangan kanannya… Sy agak kuatir kalo ini dibiarkan bisa jadi kebiasaan sampe besar krn dulu sy pun begitu susah banget disapih dr ngenyut tangan…. Gimana sebaiknya ya Mba?
Ira Puspita : Bukankah gerakan ngenyut tangan itu memang normal ada pada bayi yang baru lahir ya mba? Karna kebawa kebiasaannya ketika di dalam rahim? CMIIW
Dhita : Ooh gitu ya? Kebiasaan itu baru muncul 1bln ini sih…
Sy dulu sampe lulus TK ngenyut tangan, sembuhnya dimasukin pesantren 🙈 ponakan sy skrg SD juga masih ngenyut tangan 🙈 kan jadi kuatir ini jd kebiasaan bayi sy ☺
Ira Puspita: Anak saya muncul ketika usia 3bulan mba. Sekarang 4bulan saya alihkan sama teether. Plus kalo keliatan ngenyut tangan, saya alihkan dengan ngajak main. Tapi ga tau ini bener apa kagak, mungkin Buibuk yang udah pengalaman lebih dulu bisa bantu jawab 🙂
 risfi: Bahkan akan berlanjut smp nanti 2 tahun. Masih wajat
risfi: Cuma kalau mau dialihkan jgn langsung ditarik. Bs diajak nyanyi sambil pegang tangannya pelan2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s