Jadi mualaf di Indonesia with Katrin Bandel

DEK’s 5th OD

Tanggal Diskusi : 23 Desember 2016, 20:00 WIB
Tema Diskusi     : Jadi Mualaf di Indonesia
Narasumber        : Katrin Bandel
Moderator            : Mba Sun Asih
Notulen                 : Silvia Rahayu

BIODATA NARASUMBER

Katrin Bandel adalah seorang mualaf berkebangsaan Jerman yang masuk Islam sekitar 6 tahun lalu. Katrin lahir 1972 di Wuppertal, Jerman. Di masa kecilnya, dia sempat dibaptis (menjadi Kristen Protestan), namun keluarganya hanya “Kristen KTP”. Meskipun besar dalam keluarga yang atheis, di masa remaja Katrin mengalami fase pencarian yang cukup intens. Dia pernah aktif di gereja, mempelajari zen buddisme, dan pernah menganut agama Hindu. Tapi disebabkan image buruknya, Islam tidak dipertimbangkannya sama sekali untuk dianut.

Setelah memilih bidang studi Kajian Indonesia di Universitas Hamburg, sejak tahun 90an Katrin sering ke Indonesia. Mulai tahun 2002 dia menetap di Yogyakarta. Sejak 2005 dia mengajar di program pascasarjana Universitas Sanata Dharma. Hidayah datang relatif tiba-tiba tahun 2010/2011. Dalam proses belajarnya, Katrin sempat mondok di pesantren Al Munawwir (Krapyak) selama setahun, tahun 2015-2016.

Menjadi Muslim sebagai orang Eropa membawa tantangannya sendiri. Citra Islam sedang buruk-buruknya di Barat. Islam dipersepsi sebagai agama yang penuh kekerasan, dan sangat seksis (menindas perempuan). Meskipun Katrin tidak menetap di Eropa, persoalan itu tetap mewarnai pengalamannya, misalnya dalam komunikasi dengan keluarga.

Tulisan reflektif belio  dapat pula disimak  di sini –> http://www.mojok.co/2016/08/catatan-mualaf-mudik-ke-jerman/

SESI TANYA JAWAB

1. Assalamu’alaikum, saya novian di bandar lampung. Salam kenal…
Mau tanya nieh teh… bagaimana tanggapan pertama kali dari keluarga atau orang2 terdekatx saat tahu beliau masuk islam.
Lalu bagaimana cara beliau beraptasi dilingkungan yg mayoritas muslim?
Terimakasih…:)
Frau Katrin (FK): Terima kasih pertanyaannya. Saya cukup lama menunda memberitahukan keluarga. Kira-kira di tahun ketiga baru saya beritahu. Mereka kaget, dan sampai sekarang kurang bisa menerima. Ibu saya syok sampai sekarang, dan tidak bisa diajak membicarakannya.
Soal adaptasi saya, saya sudah lama tinggal di lingkungan bermayoritas Muslim, sekitar mulai tahun 2002. Tidak ada masalah. Saya terbiasa berkawan dengan orang yang sangat beragam sejak kecil, sehingga saya tidak kesulitan beradaptasi.
Tanggapan : Terima kasih atas jawabanx bu katrin,,,
Wahh berarti sampai sekarang keluarga ibu masih belum bisa menerima keputusan ibu untuk menjadi seorang muslim yaa,,, perjuangan yg berat tentunya ya bu.
Salut sama ibu katrin tetap pada keputusanx meskipun keluarga tidak mendukung👍🏻👍🏻
FK : Terima kasih. Yah, memang itu sudah risikonya bagi mualaf. Mayoritas mualaf mengalaminya. Ada yang sampai diusir dari rumah segala…

2⃣assalamualaikum saya ad pertanyaan utk sdri frau katrin
bagaimana cara dia meyakini bahwa Allah SWT tidak ada yg menciptakan?bukankah sulit diterima logika manusia kalau sesuatu itu tidak diciptakan? bukankah segala sesuatu itu pasti ada penciptanya?
nah, bagaimana frau katrin bisa menerima konsep islam yg itu? makasih ya mbak 🙂 (Dari RP di Jakarta Timur)

FK : Waduh, ini pertanyaan yang sangat teoritis. Hmm, begini: saat saya menerima hidayah, pikiran saya justru tidak banyak berperan. Rasio tidak paham apa yang sedang terjadi. Hati yang disapaNya, bukan rasio. Saat itu, saya sendiri bingung dan tidak paham apa yang sedang terjadi. Rasio saya tidak sampai, tapi sapaanNya begitu kuat sehingga saya tunduk dalam waktu hanya beberapa minggu. Hidayah itu membuat saya merasakan kehadiranNya. Saat itu saya tidak berpikir soal penciptaan, soal logis atau tidaknya kehadiranNya. Tadinya saya atheis, maka jelas sekali kehadiran Tuhan itu tidak logis bagii saya. Tapi meskipun tidak logis, ternyata Dia memang begitu nyata saya rasakan… 🙂

Tambahan soal pencipta… justru bagi atheis, tidak ada keyakinan bahwa segala sesuatu ada penciptanya. Alam ada begitu saja, sebagai efek dari sekian proses yang terjadi kebetulan saja…

3⃣ a.n. Rolla
A. Apa trigger bu Katrin mempelajari islam?
B. Sejauh ini apa yg bu Katrin pahami ttg islam itu sendiri?
FK : A. Tadinya saya tidak tertarik sama sekali mempelajari Islam, kecuali mungkin sedikit soal sejarahnya dsb, sebagai bagian dari studi saya di bidang Kajian Indonesia. Triggernya adalah hidayah yang datang tiba-tiba. Saat itu, saya “lompat” saja, nekat menerima Islam, meskipun tidak paham apa yang sedang saya lakukan. Lalu setelah menjadi Muslim, tentu dengan sendirinya saya perlu mulai belajar. Jadi intinya, saya jadi Muslim dulu, belajarnya belakangan.
B. Itu pertanyaan yang sangat luas. Mungkin secara singkat saja: Bagi saya, berislam adalah proses. Belajar berserah diri, belajar berkomunikasi denganNya. Proses itu insyaallah tidak akan pernah berakhir, dan perjalanannya penuh liku-liku.
Tanggapan : Semacam tdk sadar mba? Sama sekali tdk sadar dgn trigger nya seperti misalnya sdg baca buku apa tetiba ingin berislam
FK : Saya tidak membaca buku apa-apa, ataupun berbicara tentang islam dangen orang lain. Yang hadir di awal adalah kegelisahan soal berbagai masalah kehidupan, yang tidak ada kaitan langsungnya dengan agama. Lalu dari situ, mendadak saya jadi sadar bahwa saya punya kebutuhan spiritual.
M : Nah, kebutuhan yg tumbuh dr dalam hati… Demikian ya uni, smg cukup dg tanggapannya

4⃣a.n. Rika, Jakarta
1. hal apa dari islam yg membuat katrin akhirnya memilih islam sbg agama?
2. menurut katrin, jika ingin mengajak org non muslim tertarik dg islam, hal apa yg mjd titik pentingnya?
FK : 1. Sulit dijawab, karena seperti yang sudah saya ceritakan di atas, prosesnya tidak terjadi secara rasional, yaitu lewat pertimbangan logis dsb. Tapi meskipun begitu, dalam prosesnya sempat juga saya menimbang, kira-kira agama mana yang sebaiknya saya pilih. Apakah memang Islam, atau mungkin saya balik ke Kristen, atau Buddhisme… Yang saya rasakan saat itu adalah bahwa secara spontan saya nyambung dengan monotheismenya. Saya nyaman bersujud di hadapan Tuhan yang satu.
 2. Saya justru tidak pernah diajak siapa-siapa. Dan itu saya syukuri. Seanadainya ada yang mencoba mendakwahi saya, sangat mungkin saya justru akan mundur. Saya pikir, yang bisa dilakukan adalah hidup dengan baik sebagai Muslim, tanpa perlu secara eksplisit mengajak-ajak orang lain. Di saat Allah sudah menyapa hati seseorang, dan orang itu sendiri datang minta informasi, baru kemudian dibantu. Itu pun perlu dilakukan dengan hati-hati, yaitu dengan menghormati proses pencarian orang itu. Terus terang, saya sendiri justru sengaja menyembunyikan keislaman saya selama sekitar 2 tahun, karena saya takut orang lain langsung ikut campur dengan antusiasmenya, lalu apa yang tumbuh dalam diri saya akan rusak oleh campurtangan orang lain.

M : Anugerah yg istimewa: hati yg disapa oleh Allaah, smg kita semua jg memiliki hati yg demikian….

5⃣Assalaamu’alaikum, saya Rani
Apa yang paling berkesan dari Islam yg Katrin pelajari dan jalani?
FK : Hmm. Apa ya… Saya merasa bahwa Islam sangat menyeluruh dalam mengubah kehidupan saya. Lewat sekian aturan syariah, kita dibantu untuk terus-menerus mengingat Dia dalam kehidupan sehari-hari. Jadi agama dan keseharian tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Hal itu tentu seharusnya berlaku untuk semua agama. Tapi saya rasakan lebih sulit dalam agama lain.
Misalnya, saya pernah menjalani meditasi Buddha. Saat meditasi sih ada pengalaman spiritualnya. Tapi untuk menghubungkannya dengan keseharian, rasanya sulit. Kelewat abstrak.

Islam mengatur setiap hal kecil. Bukan hanya sholat 5 waktu, tapi soal ke kamar mandi, makan, menerima tahu,berinteraksi dengan orang tua, semua ada aturannya. Agama lain mana punya syariah sedetail itu. Misalnya orang Kristen berdoa kapan saja dia mau, tidak diatur-atur. Dengan demikian, kita disadarkan betapa setiap tindakan kita adalah interaksi kita denganNya. Bukan hanya saat berdoa saja. Saat minum dengan pakai tangan kanan misalnya, itu bukan sekadar minum, tapi tanda cinta untukNya, dengan mengikuti sunnah Nabi.
M : setiap tindakan kita adl interaksi kita dengan-Nya, noted in capslock and bold…

6⃣ a.n Yekti, Solo
Hal menarik apa yg menguatkan andà untuk menjadi muslimah? Setelah 6th,,semakin bàngga àtau biasa saja
FK :  Saya rasa, bagian pertama sudah terjawab di atas, kan? Lalu soal kebanggan setelah 6 tahun… Hmm, saya tidak bangga, dan juga tidak merasa biasa saja. Makin lama, saya justru makin malu, karena semakin sadar betapa saya masih begitu sering membangkang padaNya. Padahal dengan hidayah yang Dia berikan pada saya, bukankah sudah seharusnya saya luar biasa bersyukur, dan sepenuhnya menyerahkan diri padaNya?
M :kata kuncinya: bersyukur dan berserah diri ya… silakan ditanggapi bu Yekti :mrgreen:

7⃣ a.n. Fitri
ibu katrin…
Trimakasih sebelumnya sudah berbagi ilmu dan pengalaman…
Yg mau saya tanyakan:
1. Apa yang sangat dirindukan di Jerman?? Bagaimana ibu mengatasinya saat di Indonesia saat kangen dgn kampung halaman??
2. Yang paling membedakan culture masyarakat indo dengan jerman apa ya , dalam aplikasi keagamaannya dalam kehidupan sehari hari? Saya Penasaran dengan masyarakat jerman dalam hal toleransi beragamanya….
Trimakasih sebelumnya ibu…
FK : 1. Sebetulnya saat ini saya sudah jarang kangen kampung halaman. Kecuali tentu kangen keluarga dan sahabat-sahabat lama. Dengan keluarga, saya tetap komunikasi lewat chat atau email, sehingga kangennya terobati. Yang agak berat adalah ketika ada masalah atau ada yang sakit, dan saya tidak bisa berbuat apa-apa yang jarak yang kelewat jauh.
2. Soal keagamaan dalam keseharian, justru di Jerman agama hampir tidak memainkan peran dalam keseharian mayoritas masyarakat. Mayoritas atheis, atau beragama secara setengah2. Meskipun begitu, umumnya orang toleran terhadap keyakinan orang lain, namun kadang sulit menerimanya kalau keyakinan itu terasa “mengganggu” normalitas keseharian, misalnya kalau ada murid Muslimah yang tidak mau ikut pelajaran renang, kalau ada yang renang dengan pakaian tertutup, dsb

8⃣Assalamu’alaikum, saya Astari di Cirebon. Salam kenal…
Liebe Frau Katrin
Saya kebetulan pernah tinggal di Jerman untuk studi. Yg saya tahu budaya orang Jerman adalah minum minuman alkohol setelah pulang beraktivitas.
Jika saya sedang sosialisasi berkumpul bersama teman2, saya selalu ditawarin minuman alkohol, saya menolak dan jawaban saya tidak pernah memuaskan mereka, dan kadang berujung perdebatan.
Yang saya ingin tanyakan, ketika ibu Katrin sedang mudik ke Jerman dan dengan membawa identitas muslim, lalu mungkin bertemu teman2, apakah pernah menghadapi situasi serupa? Dan mungkin ibu Katrin punya jawaban yang bisa lebih dterima oleh komunitas Jerman jika menghadapi situasi serupa? Trimakasih:)
FK :  Benar, minum alkohol cukup lazim dilakukan di Jerman saat orang berkumpul-kumpul, ataupun di rumah, dalam keluarga. Biasanya bukan mabuk-mabukan, tapi sekadar minum segelas dua gelas. Karena itu dianggap wajar sebagai bagian dari pergaulan, maka kadang2 orang kesulitan menerimanya kalau ada yang tidak minum. Menurut pengalaman saya, respon orang sangat tergantung pada tingkat pendidikannya, dan keterbukaannya terhadap budaya lain, misalnya lewat travelling. Alhamdulillah mayoritas kawan saya sangat bisa menerimanya kalau saya tidak mau minum alkohol. Tapi saya sendiri juga merasa perlu toleran, yaitu misalnya saya tidak berkeberatan kalau kawan saya minum anggur atau memesan daging babi saat kami sedang keluar makan bersama…
soal jawabannya, bagi saya cukup dengan menjelaskan bahwa agama saya melarang alkohol. kalau orang sulit menerima itu, itu bukan tanggungjawab saya… 😄

9⃣Assalamualaikum, bu katrin. Salam kenal saya Novia dari Bandung. Saya ingin bertanya. Bagaimana cara ibu melembutkan hati agar ttap istiqomah? Satu lagi bu, ketika membaca al quran dan menemukan ayat yg menyatakan bahwa al quran membawa kabar baik untuk orang yang beriman. Apakah ibu merasa bahagia atau sedih? Jujur saya sendiripun masih belajar. Maaf apabila pertanyaan saya menyinggung ibu. Terimakasih
FK : soal istiqomah itu memang persoalanan mengerikan… Maksud saya, saya memang sering ngeri karena cemas, apakah saya akan bisa istiqomah. Saya rasa dalam hal itu, tidak ada yang bisa dilakukan selain selalu memohon agar Allah menjaga saya. Saya berusaha selalu menitipkan diri padaNya, sebab saya sadar diri saya tidak mungkin mempu menjaga diri. Pengalaman saya, dengan demikian ada saja pengalaman yang diberikanNya, yang selalu membawa saya kembali padaNya di saat saya lupa.
Soal ayat dalam Al Qur’an itu, wah, pertanyaan menarik. Antara gembira dan sedih sepertinya. Sedih karena saya sangat tidak yakin apakah saya termasuk orang beriman. Dan gembira karena berharap ampunan dan tuntunanNya, agar suatu saat saya bisa merasakan langsung kabar baik yang dibawa Al Qur’an tersebut.
M :Silakan menanggapi bu Novia :mrgreen: konsep menitipkan diri kpd Nya ini sepertinya menarik ya…

1⃣0⃣ Assalamualaikum.
Bu katrin, sebelum memeluk Islam apa yg anda ketahui Dan fikirkan tentang Islam?
-nurhayati, depok-
FK : Waktu kecil dan remaja, saat saya masih tinggal di Jerman, saya tidak tahu banyak, tapi kira-kira Islam terkesan agak menyeramkan dan dogmatis. Tapi tidak pernah saya pikirkan lebih lanjut waktu itu. Belum banyak berita soal Islam seperti saat ini. Lalu setelah mempelajari budaya Indonesia, otomatis Islam kadang2 ikut disebut, tapi tidak terlalu sering. Saya hormati sebagai salah satu agama yang dianut orang, tapi saya tidak pernah tertarik untuk belajar lebih dari itu. Lalu setelah 11 September, saya sering ikut geram karena merasa bahwa kaum Muslim diperlakukan secara tidak adil. Saya sering membela Islam saat itu, tapi atas dasar keadilan saja, bukan karena keyakinan.

M : berhubung sudah mau jam10, mohon maaf sekali jika ada sekitar 7 pertanyaan yang belum bisa ditanggapi oleh bu Katrin
M :  kami mohon maaf jika belum dapat melayani antusiasme para saudari muslimah di sini dengan baik 🙏
FK : Terima kasih banyak atas kesempatan untuk berbagi di sini. Mohon maaf lahir batin apabila ada jawaban saya yang kurang berkenan atau kurang memuaskan. 🙏🏼🙏🏼🙏🏼
M : silakan jika bu katrin ingin memberi penutup utk diskusi hari ini…
M :. Smg kami dapat memetik hikmah dr kehidupan dan pengalaman ibu. Sy pribadi merasa justru harus byk belajar dr ibu terutama perihal berserah diri sepenuh nya pd Allaah…
M :  Smg forum kita hari ini mjd majelis ilmu yg diberkahi Allaah dan didoakan para malaikat
FK : wah, apa ya… Semoga Allah menjaga dan merahmati kita semua, dan semoga kita semakin didekatkan padaNya. Dari pengalaman pribadi saya, saya sangat merasakan betapa bedanya punya Tuhan dengan tidak bertuhan. Sungguh kita sangat beruntung boleh mengenalNya. Semoga bisa kita syukuri dan kita manfaatkan dengan baik kesempatan yang diberikan pada kita.
M : Baik, terimakasih bu Katrin. In syaa Allaah ilmunya akan mjd amal jariyah dan makin bertambah-tambah
Mohon maaf jika dalam diskusi ada byk kekurangan dan kesalahan 🙏

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s