What is Autism (PART 1)

DEK 1st OPEN DISCUSSION

Tanggal diskusi     : 9 November 2016
Tema diskusi          : autism syndrome disorder (ASD).
Narasumber            : Fatharani Nadhira, S. Psi., M. Psi., Psikolog
Moderator                : Mba Dyas dan Mba Hana
Notulen                     : Silvia Rahayu

Biodata Narasumber

Name  : Fatharani Nadhira, S. Psi., M. Psi., Psikolog
Date of Birth : Jakarta, 15 August 1989
Gender : Female
Religion : Moslem
Marital Status : Single
Jakarta Selatan 16513, Indonesia
E-mail : fatharaninadhira@gmail.com

educational background
2012-2016
Master’s and Professional Degree
Universitas Indonesia, Faculty of Psychology
Field of Study : Clinical Psychology
Majoring in Child and Adolescent Clinical Psychology

2007-2011
Bachelor Degree
Universitas Indonesia, Faculty of Psychology
Field of Study : Psychology
Majoring in Human Development and Clinical Psychology

activity :
Therapeutic Riding Therapist in Pamulang Stable
Job Description : clinical assessment of children, creating
individualized program and report, therapist

MATERI PEMBUKAAN

Mendeteksi Autisme Sejak Dini

1478765375550.jpg– Anakku dikeluhkan sekolah, ngga ada kontak matanya nih? Autis ya jangan-jangan?
– Anakku kok ngga nyaut ya waktu dipanggil, cueek banget dari dulu..
– Anakku banget tuh, sibuk sendiri, apalagi kalau udah main gadget dan nonton TV, apa anakku autis ya?
– Oh iya suka jejer-jejerin mainan gitu autis ya?
– Aduh anakku udah umur dua tahun, tapi belom ngomong, apa anakku autis ya?
– Aku ngga mau anakku di vaksin MMR, nanti autis katanya
– Apa waktu di kandungan karena aku makan seafood ya waktu hamil ? Jadi anakku autis
– Katanya karena ibunya sibuk dan cenderung “dingin” ya anak jadi autis
– Sekarang makin banyak deh mba anak autis, karena udara ya? Atau makanan ya?
– Apakah bisa sembuh ?
– Katanya kalo anak autis pinter banget ya mba ?
– Tetanggaku anaknya autis deh mba kayanya, aku ngga mau anakku main sama dia ah, kan nular ya mba ?
Pertanyaan di atas, sepertinya hanya segelintir saja pertanyaan yang paling sering muncul begitu topik “Autisme” muncul. Tapi apa sih sebetulnya autisme itu ? Istilah autisme sendiri itu ternyata berasal dari kata Bahasa Yunani “autos” yang berarti “self”. Istilah ini pertama kali dikemukakan oleh psikiatris Eugen Bleuler pada awal abad 20 untuk menggambarkan adanya penarikan diri yang ekstrim dari kehidupan sosial pada beberapa pasiennya (Wenar & Kerig, 2005).
Lebih lanjut, autisme sendiri merupakan gangguan perkembangan yang ditandai dengan beberapa karakteristik yaitu adanya defisit pada komunikasi dan interaksi sosial, serta adanya perilaku dan ketertarikan yang tidak lazim (APA, 2013; Mash & Wolfe, 2010) :
1). Social impairments
Anak-anak dengan gangguan autisme mengalami kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain dan mengarahkan perhatian mereka pada stimulus sosial
è tidak responsif saat dipanggil atau diajak bermain, tidak menunjukkan kontak mata, tidak menunjukkan keinginan untuk berbagi kesenangan
2). Communication impairments
è terlambat berbicara atau belum berbicara
è Penggunaan bahasa yang tidak lazim, cenderung berulang-ulang, kaku, khas (stereotype) dan agak aneh (idiosyncratic)
è Tidak mampu meniru, bermain khayalan (make believe)
3). Repetitive behaviors and interests
è Rasa tertarik yang tidak wajar dari segi fokus dan intensitas pada suatu kegiatan khas
è Kebiasaan rutin atau ritual yang harus selalu diikuti, tapi tidak bermakna utk orang lain
è Rasa tertarik berlebihan pada suatu bagian khas dari sebuah benda, yang cenderung tidak lazin
è Adanya gerakan tertentu yang khas dan berulang-ulang

Saat ini masih terus dilakukan penelitian terkait dengan penyebab dari autisme. Disebutkan beberapa hal seperti komplikasi sebelum dan sesudah melahirkan, polusi lingkungan, genetik, keracunan logam berat, alergi makanan tertentu berkontribusi sebagai penyebab autisme. Akan tetapi memang belum ada penelitian yang menyimpulkan apa sebetulnya penyebab dari Autisme.
Gejala-gejala diatas biasanya mulai terdeteksi di usia 3 tahun, akan tetapi tidak jarang orangtua mulai melihat adanya keganjilan sejak anak berusia 9 bulan, dan mengamati adanya gejala-gejala autisme di usia 18 bulan, mereka melihat bayi mereka cenderung “berbeda” dari bayi lain. Bayi mereka cenderung minim kontak mata serta tidak bereaksi saat namanya dipanggil. Saat orangtua mulai melihat adanya gejala-gejala tersebut, penting untuk langsung mencari tahu, apa sebetulnya yang terjadi pada anak, apakah memang anak memiliki autisme, atau sebetulnya ada masalah lain pada anak. Setelah mendapatkan diagnosis yang tepat, tentu perlu diikuti dengan penanganan yang tepat, seperti mengikuti terapi dan melanjutkan kegiatan terapeutik di rumah, untuk membantu anak mengejar keterlambatan perkembangannya dan membantunya untuk  dapat berfungsi sesuai dengan usianya. Tidak lupa dukungan yang kuat diperlukan dari orangtua agak intervensi dilakukan secara holistik, yaitu tidak hanya ditempat terapi saja namun lebih banyak di rumah.

image

DISKUSI

ket :
M1 : Moderator 1 (Mba Dyas)
M2 : Moderator 2 (Mba Hana
P : Penanya
N : narasumber (Mba Nadhira)
T : Tanggapan

M1 : alhamdulillaah narasumber kita sudah bergabung
selamat malam, mba nadira.
saya dyas yang insyaAlloh akan memoderatori diskusi malam ini. berduet dengan mba hana

N : Selamat malam semua, salam kenal saya Nadhira..
Malam mba Dyas, malam mba Hana
M1 : terimakasih mba Nadhira sudah bersedia meluangkan waktu untuk berbagi ilmu mengenai autisme
M2: Hallo Mba Nadhira..

M2 : Antusiasme peserta tergolong tinggi nih Mba 👍
N: insyaAllah kita sama-sama berbagi ilmu ya Bismillah
M1: mendengar kata autisme, biasanya membuat orang tua langsung merasa takut. apalagi kalau anak tampak ‘istimewa’. hingga akhirnya menduga-duga. jangan-jangan… oh, jangan-jangan…
tapii… umumnya agak takut juga buat konsultasi ke ahlinya.

semoga diskusi malam ini bisa memberi gambaran dan informasi yang lebih baik mengenai autisme, ya.

N : ini cerpenku hehehe sudah diintip?
M1 : sudah, mba
sudah banyak juga pertanyaan yang masuk ke kami
N : boleh mba Dyas dimulai langsung tanya jawabnya
M1 : baik

P : Apakah autis itu turunan?
N : Memang faktor genetik atau keturunan itu disebut sebagai salah satu faktor resiko seorang anak memiliki autisme. Akan tetapi, dengan genetika, tidak ada suatu ukuran yang pasti

P : apakah autisme dimulai saat dalam kandungan atau saat anak mulai tumbuh?
N : Salah satu faktor resiko yang dapat meningkatkan resiko anak mengalami autisme, adalah komplikasi sebelum dan sesudah melahirkan yang kemudian mempengaruhi anak. Berpegangan pada hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa seseorang dapat beresiko mengalami autisme saat di kandungan. Akan tetapi, seperti yang saya sebutkan di cerpen saya, biasanya mulai “dicurigai” saat anak masuk usia 3 tahun

P : Apa saja yg faktor penyebab autis? bisa dari makanan juga kah?
N : Beberapa penelitian memang menyebutkan bahwa alergi makanan tertentu berkontribusi pada kondisi autisme seseorang, akan tetapi memang setiap kasus anak memiliki ciri khasnya tersendiri dari faktor penyebab, sehingga sulit untuk dipastikan apakah makanan selalu berperan dalam setiap kasus autisme

P : Kapan orang tua harus waspada kalau anaknya autis?
N : Sedini mungkin orangtua terus memantau perkembangan anak. Biasanya yang menjadi patokan adalah saat beberapa tahap perkembangan anak, tidak dilewati dengan semestinya, misalnya ada keterlambatan bicara dan yang paling penting dari autisme yaitu tidak ada keinginan untuk berinteraksi. Poster yang saya berikan bisa menjadi patokan yang baik utk lihat “red flags” pada anak kita

P :  
1. Mertua sy bilang kl anak sy itu autis dikarnakan disaat dia lg nonton tv sama mertua dipanggil2 gak nenggok tp disaat anak sy tidak lg nonton tv dipanggil dia nenggok, apakah anak sy autis ?
2. Apakah perlu anak sy di priksakan kdokter untung mengetahui apakah anak sy autis ato tidak ? (mba meivy)
N : Malam mba Meivy, kalau autis itu sesederhana lagi nonton tv dipanggil ndak nengok, sepertinya para ahli bisa kebanjiran klien 😁✌ saat anak menonton TV memang kecenderungannya menjadi sangat fokus dan menjadi tidak “aware” atau tidak “engeh” dengan kondisi disekitarnya, oleh karena itu memang menonton TV harus sangat dibatasi sehari-harinya, karena memang beberapa kasus yang saya dan rekan saya pernah tangani, ada beberapa anak yang di usia dini banyak mnonton tv tanpa pengawasan seperti menunjukkan simptom-simpton yang “mirip” autisme, tapi hanya “mirip” lho, karena sebetulnya dengan stimulasi yang baik, anak tidak apa-apa, dan menunjukkan minat utk berinteraksi, hanya karena asik nonton tv terus jadi tidak terstimulasi dengan baik. Apakah putra/putri mba Meivy menunjukkan keinginan bersosialisasi sehari-harinya? dengan ibu? atau ada teman-teman dekatnya? Kalau iya, tidak perlu khawatir tetapi lebih kurangi jam menonton TV, mertua juga boleh diinfokan soal poster atau cerpen saya 🙂

M1 : mba meivy ada tanggapan?
P :  Ada mba
N : Yang saya maksud simptom-simptom “mirip”autisme itu misalnya, dipanggil tidak nengok, minim kontak mata, anak seperti tidak fokus, perkembangan terlambat. Contoh yang saya berikan ini hanya kasus yang kebetulan agak “ekstrem”
P : Anak sy masi mau bersosialisasi tp kl ada org baru anak nya prlu adaptasi utk dekat dgn org tersebut
N : usia berapa ibu?
N : apakah punya teman dekat? biasanya kegiatannya apa dengan teman dekatnya?
M:  Anak sy usia 2th, disekitar rmh sy anak2nya usianya diatas anak sy. Anak sy udah mau main ama mereka tp gk diajak main dan ditinggal sndirian jd ny anak sy main sndr
N: Selama masih menunjukkan keinginan untuk berbagi (pulang sekolah, atau sehabis ada kejadian yang tidak biasa, menghampiri orang terdekat untuk share atau bercerita), menunjukkan kontak mata, tidak ada keterlambatan perkembangan, tidak menunjukkan perilaku stereotipik (mengibas-ngibaskan tangan, gerakan berputar), bisa diminta menirukan biasanya sih tidak dicurigai ASD
N : Boleh diajak playdate dengan teman seusianya misalnya ada teman mba Meivy yang anaknya sepantaran atau tidak terlalu jauh berbeda
M1 : oke, cukup ya pertanyaan mba meivy. kita lanjut pertanyaan berikutnya.
P : Ok, terima kasi jawab nya mba nadhira

M1 : dari mba rima
Apakah setiap anak Autis akan ngamuk?
Kalau tetiba diamuk anak Autis apa yang mesti kita lakukan. Disini ada kasus anak Bayi (6Mo) sedang tidur di gendongan ibunya tetiba di pukuli anak Autis.

N : Malam mba Mira, anak dengan Autisme biasanya akan mengamuk saat ada yang mengganggunya atau membuatnya tidak nyaman, akan tetapi karena kemampuan komunikasi mereka terbatas, mereka jadi ndak bisa curhat. Selain itu kemampuan mereka untuk meregulasi emosi mereka juga biasanya belum baik, sehingga akhirnya muncul lah “ngamuk” atau tantrum. Saat melihat anak dengan ASD tantrum, biasanya kita bisa bantu dengan menahan anak tersebut, yang terpenting adalah menahan anak agar tidak sampai menyakiti diri sendiri, apalagi orang lain. Ada triknya sendiri untuk menahan, seperti memeluk anak dari belakang sambil menahan tangan anak menyilang di dadanya, usahakan langsung bawa ke tempat yang lebih sepi karena kondisi ribut bisa membuat anak lebih stress. Saya akan lampirkan link youtube yang mengajarkan bagaimana menangani anak tantrum, semoga lebih menjelaskan
https://www.youtube.com/watch?v=yUDHTLY5m88
T : Lalu apa yg harus kita lakukan jika kita sebagai korban?
T : Maksudnya kita tidak mau melukai anak yg tantrum, tapi kita juga kan harus melindungi anak kita sendiri
N : Kalau kondisi memungkinkan, tentunya kita perlu menahan tangan anak supaya tidak sampai melukai anak kita sendiri ya mba

T : Baik, terima kasih penjelasannya mba:)

M1 :  baik lanjut ke bagian komunikasi dan pendidikan ya mba Nadhira
P : Bagaimana cara mengatasi/pendekatan yg dapat dilakukan terhadap anak yg sulit diajak komunikasi/ anak autis?
N : Pendekatannya tentu perlu menyeluruh (holistik), setelah mendapatkan diagnosis yang tepat, anak biasanya kemudian akan dirujuk untuk terapi seperti terapi okupasi, terapi wicara dan terapi perilaku. Dari ketiga terapi tersebut kemudian biasanya akan ada PR-PR atau latihan-latihan di rumah yang perlu dikerjakan orang tua. Biasanya yang perlu disasar awal adalah meningkatkan kepatuhan anak, kontak mata, kemampuan

P : Bagaimana cara penanganan anak autis yg dapat dilakukan di rumah?
N : komunikasi anak, dan kemudian kemandiriannya. Pengangannya seperti apa, akan sangat ditentukan oleh kondisi masing-masing anak

ini ada link video lagi yang insyaAllah bisa memberikan gambaran

P : Bagaimana pemilihan pendidikan yg tepat untuk anak ASD?Homeschool/ sekolah khusus/ sekolah umum? Apa saja kelebihan dan kekurangan nya?
N : Pemilihan sekolah, lagi-lagi sangat spesifik tergantung kasus, serta kebutuhan anak. Ada segelintir kasus anak dengan ASD yang sudah lebih dapat beradaptasi, biasanya dengan intelegensi rata-rata dan ASD ringan, dapat dimasukkan ke sekolah umum, dan kemudian dapat mengikuti kurikulum dengan baik. Akan tetapi lebih banyak kasus anak-anak dengan ASD masih membutuhkan pendampingan atau shadow teacher sehingga lebih dimasukkan ke dalam sekolah inklusi. Untuk homeschooling, yang penting orangtua perlu menyeimbangkan dengan memberikan anak kesempatan untuk bersosialisasi (dengan bimbingan) di kegiatan di luar sekolah (sebagai contoh, anak ikut kegiatan berenang, selama berenang, bimbing anak untuk bersosialisasi dengan anak lain, encourage anak untuk berkomunikasi dengan anak lain)

P: Pada kenyataannya banyak sekolah yang hanya berlabel _inklusi_ namun ternyata hanya sekedar label saja tanpa didukung dengan SDM yang mumpuni.
Apa ciri sekolah yang sudah menjalankan proses inklusi pada koridor sebenarnya?
Agar kami para orangtua tidak salah dalam memilihkan sekolah, mengingat sekolah untuk anak ASD masih sangat terbatas ☺
N : Tentunya orangtua perlu “cerewet” dan melihat langsung pada prakteknya, seperti apa sih praktek inklusi di sekolah itu. Idealnya, mereka menyiapkan kurikulum yang disesuaikan dengan kemampuan anak, serta menyediakan tenaga pembimbing atau shadow teacher yang memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai, atau telah menjalani pelatihan tertentu terkait penanganan anak dengan berkebutuhan khusus. Orangtua berhak untuk melihat langsung dan banyak bertanya mengenai sekolah, bahkan latar belakang pendidikan tenaga pengajar serta apakah mereka telah memiliki latar belakang yang tepat untuk menangani anak berkebutuhan khusus.
M1 : baik, semoga cukup ya mba restu
T :  Dari pengalaman sebelumnya, ada sekolah yang demi mendapatkan keuntungan mereka menyanggupi segala hal yang kami “butuhkan” untuk perkembangan anak kami. Termasuk IEP dan shadow teacher
Namun setelah kami bergabung itu hanya sekedar “gombal” belaka

Oleh karena itu semoga kita para orang tua bisa lebih jeli lagi dalam memilih pendidikan demi perkembangan yang baik buah hati tercinta

Terima kasih banyak atas pencerahannya mbak Nadhira 🙏🏽👌🏽

P : Maaf Mbak Nadhira, masih mau tanya dalam pengenalan atau penegakan diagnosa ASD.
apa bedanya dengan PDD NOS dan syndrom asperger ?
apakah bagian dari ASS ? (Bu Ratmi)
N : Untuk bu Ratmi, saat ini para ahli berpatokan pada Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM) V untuk menegakkan diagnosis. Saat ini Autisme, PDD NOS, dan Asperger, berada pada satu payung besar yaitu Autism Spectrum Disorder.

P : Ada keponakan usianya belom 2 thn .. kmrn hasil diagnosa dokter autis, namun dokter menyarankan pemeriksaan lanjut juga ke psikolog. Secara fisik sehat.
Ciri2 ;.
1. Dipanggil namanya cuek
2. Klu sdh dg satu mainan, asyik sendiri
3. Usia hampir 2 thn belum.bisa berbicara hanya ngoceh
4. Suka melihat kebagian atas
5. Suka memutar2kan kepala
6. Suka memutar2kan badan
7. Klu menginginkan sesuatu, dia membimbing tangan ibunya utk mengambil barang yg dia inginkan

Klu memang autis mhn arahan bgm mengatasinya mba.. terima kasih
(Mba Luluk)
N : cara dia memainkan mainan seperti apa?
T : Kadang di putar2… dipegang saja
N : apakah sesuai dengan fungsi mainan? atau hanya dilihat satu bagian spesifik saja (misal hanya memerhatikan roda seharian)?
T : Satu bagian spesifik saja
N : apabila melihat poster 7 ciri utama, berapa banyak yang dipenuhi anak? (–lihat poster)
T : 2… 5 tidak
N : apa saja dari dua yg terpenuhi?
Biasanya saat memang ada kecurigaan, lebih baik langsung ke Psikolog, karena biasanya kami perlu mengobservasi langsung anak dan mewawancarai orangtua terkait keluhan
T : 1 dan 7
N : Sementara menunggu pemeriksaan, di rumah bisa orangtua melihat video yang tadi saya copy linknya untuk dicoba dilakukan di rumah. Video tersebut menjadi landasan bagus untuk pelatihan pertama anak berkebutuhan khusus
T : Ok
N :iya betul harus “super jeli”. semoga bermanfaat ibu
https://www.youtube.com/watch?v=EOgHdNEYbSI&t=5s

ini satu video lagi yang bisa dilakukan orangtua di rumah

M1 : baik
lanjut lagiii
Mba Audia
P :
Assalamualaikum,
Biasanya ada anak-anak teman berkebutuhan khusus yang belajar bareng saya. Metode yang saya pakai biasanya bermain, mendengarkan, bercerita dan sentuhan.
Saya belum PeDe menerima anak dengan diagnosa autis karena katanya anak tidak suka disentuh dan asyik dengan dunianya sendiri. Kebayang duluan semua metode andalan saya mental semua hehehe. Tapi terus terang saya ingin belajar lebih banyak lagi tentang autisme.
Bagaimana cara saya PDKT dan berinteraksi dengan anak ini? Apa yang mereka sukai dan apa yang harus saya hindari?

Terima kasih ☺
N :Malam mba Audia, wah salut, ada tenaga pengajar ABK, salam kenal ya mba 🙂 anak ASD tidak suka disentuh biasanya sangat per kasus, ada anak-anak yang sebetulnya malah cukup nyaman dengan sentuhan. Selain itu, sentuhan sebetulnya menjadi stimulasi yang baik untuk mereka, asal kadarnya pas, jadi diperkenalkan perlahan-lahan. Mereka memang asyik dengan dunianya sendiri, oleh karena itu memang jadi tugas kita para praktisi untuk membawa mereka melihat dunia luar. Kalau saya pribadi, biasanya akan tanya dulu sama ortunya, apa sih kesukaan anak, apa yang anak tidak sukai, dan mulai dari sana. Apakah anak ada sensitif misanya, dengan ruangan ramai, suara bising, dan kita kemudian bantu sesuaikan, sambil tetap membantu anak untuk lebih beradaptasi di lingkungan baru juga
N : ngomong-ngomong, mohon maaf ya saya banyak kasih link video, semoga sempat diintip, sepertinya kalau nonton langsung dan ada yang peragain lebih 👍 hehe semoga berkenan
M1 : mba audia ada tanggapan?
P : Alhamdulillah sudah terjawab mbak dyas. Makasih mbak nadhira 🙂

P : Maaf baru bisa bergabung mbak nadhira, terima kasih jawabannya ☺ Terkait PDD NOS boleh ikut nanya kah nanti. Dulu selama di klinik tumbuh kembang saya amati kenapa ada kecenderungan anak2 kebutuhan khusus yang tidak masuk sindrom tertentu lalu maaf agak mudah ujung2nya dimasukkan ke PDD NOS. Beberapa anak yang didiagnosa ini saya lihat ada yang masih bisa tatap mata, diajak komunikasi 2 arah dkk. Dan 1 atau 2 tahun terapi seolah kembali baik2 saja. Padahal satu payung dengan ASD ya?
Maksud saya apa kesalahan diagnosa yang dengan mudahnya dicemplungkan ke PDD NOS kah? Karena klo masih 1 payung ASD harusnya punya ciri khas dengan autisnya ya?
N : Sebetulnya banyak faktor ya, dan faktor kemungkinan adanya kesalahan diagnosis juga bukan tidak mungkin terjadi, dan sangat disayangkan tentunya.
tapi untuk saat ini dalam payung ASD kami lihat dari severity levelnya, atau derajat keparahan berdasarkan berapa banyak bantuan atau support yang dibutuhkan anak untuk dapat berfungsi sehari-harinya
T : Hiks habis ya.. hehehe mau ngelunjak minta perbedaan asperger, autis dan PDD NoS 😅🙏🏼🙏🏼🙏🏼
T : Yang PDD NOS saya masih blank 😬
N :  “The new classification system eliminates the previously separate subcategories on the autism spectrum, including Asperger syndrome, PDD-NOS, childhood disintegrative disorder and autistic disorder. These subcategories will be folded into the broad term autism spectrum disorder (ASD).”
N : “the revisions are intended to more reliably capture all those who would have legitimately received a diagnosis of ASD under DSM-IV. The intent is not to exclude or reduce the number of individuals being diagnosed.”
T : Asperger bukannya yang IQ biasanya normal atau malah tinggi ya mbak? Bisa menghafal quran 30 juzz di usia 5 tahun dkk. Verbal biasanya juga ga masalah. Tapi memang kendalanya di dunianya sendiri yg jadi ciri khas ASD?
N : Asperger itu biasanya paling mudahnya, anak itu ada keinginan untuk bersosialisasi, tapi tidak tahu bagaimana caaranya, jadi kadang terlihat kikuk, karena mereka kesulitan untuk memahami norma sosial. Jadi mereka mau bergaul, tapi jadinya dinilai “aneh” dinilai “tidak bisa bergaul” sehingga kadang jadi menutup diri. Untuk yang intelegensi diatas rata-rata, biasanya hanya segelintir kasus saja mba, mereka bukan sebagai mayoritas
T : Owh begitu.. terima kasih pencerahannya mbak nadhira
N : Alhamdulillah semoga jadi makin semangat untuk berkarya membantu anak-anak spesial kita ya mbaa
T : Insya Allah mbak nadhira, semua spesial sebenarnya hehehe makasih ya

M1: tenggang waktu sampai jam 21:30
M2: Selanjutnya Mba Dias akan memposting pertanyaan yg sudah masuk terlebih dahulu agar dapat ditanggapi oleh Mba Nadhira..

Seperti itu bukan Mba Dias?
M1 : kita lanjut, ya mba nadhira.
M1 : mengenai disleksia dan autisme
Apakah anak disleksia itu autis?

▶pertanyaan Mba Irma
Apakah anak laki2 usia 6 tahun yg belum bisa membaca lambang bilangan angka dan huruf2 (suka terbalik2 bacanya) bisa dikategorikan disleksia?
Anak ini juga bicaranya masih cadel dan kadang tergagap2, apakah dikategorikan speech delay?
Anak ini bermain biasa dgn teman2nya
Ada eye contact
Kata guru TKnya, kalo dijelaskan sesuatu cepat paham tapi gampang terdistraksi sesuatu
Terima kasih:)

▶pertanyaan Mba Elsie
Anak saya ada gejala disleksia…sekarang sdh berumur  9 tahun. Bisa membaca tapi sering tersendat2 terutama untuk kata yg rumit. Klu diberi perintah lebih dari satu sering bingung. Tapi anaknya aktif dan tidak bisa diam. Sekarang sekolah di kuttab al fatih. Alhamdulillah perkembangannya bagus karena sering membaca al qur’an dan hafalan…anak saya lebih fokus. Kadang saya sering menegaskan dlm hati mungkin al quran terapi terbaik untuk anak2 yg unik.

N :mba Irma, itu bisa menjadi salah satu simptom disleksia, tetapi perlu pemeriksaan lebih lanjut.
Yang dimaksud tergagap-gagap seperti apa? KAlau anak tetapi sudah mengucapkan kalimat bermakna di usia 6 tahun saya rasa bukan di speech delay masalahnya. Tergagap-gagap mungkin kah karena dia terburu-buru mau menyampaikan pikirannya tetapi secara kemampuan belum bisa berbicara secapat itu, atau malah karena anak sedang cemas jadi tergagap-gagap?
Disleksia dan Autisme adalah dua hal yang berbeda, akan tetapi bukan tidak mungkin anak dengan Autisme juga menunjukkan kesulitan dalam membaca.

T : Ya mbak, dia suka terburu2 bicara
Plus jg adek sy wkt kecil jg kek anak saya ini
T : Mungkinkah faktor genetik?

N :  kita yang perlu bantu ibu, ingatkan untuk perlahan-lahan, dibiasakan bahwa tidak boleh terburu-buru
T : Itu sudah kami cb terapkan akhir2 ini
Untuk kemungkinan simptom disleksia, pemeriksaan lebih la jutnya dgn cara apa ya?
N :  tidak menutup kemungkinan ibu, tapi memang kemudian perlu penanganan. Sebetulnya usia 6 tahun itu kan usia normalnya anak baru belajar membaca mba, jadi sebetulnya cukup wajar saat angka masih terbalik, beberapa huruf masih terbalik. boleh coba dibantu dengan gunakan sensori anak misalnya latihan menulis menggunakan pasir, atau foam, atau finger paint, untuk melatih di huruf yang terbalik. buat huruf di punggung anak dan minta anak menebak, kemudian bergantian dengan ibunya.

N : Mba Elsie, alhamdulillah berarti insyaAllah anak mba sudah menemukan Al-Quran sebagai salah satu cara untuk “menenangkan” diri, meregulasi diri sehingga bisa lebih fokus. Mungkin bisa digunakan Al-Quran sebagai media melatih baca anak utk kata yang sulit, misalnya dengan bersama ibu membaca arti ayat-ayat tertentu. Jangan lupa untuk menggunakan tulisan yang besar untuk membantu anak sehingga tidak mudah lelah juga baca tulisan kecil-kecil

M1 : sudah jam 21:28
M1 :  mba Nadhira, terima kasih atas waktunya. respon yang sangat cepat jadi menambah semangat ibu-bapak yang mengikuti sesi kulwap kali ini
seluruh pertanyaan yang masuk ke saya dan mba hana sedang kami rapikan untuk dipost di sini dan kemudian dijawab narasumber sesempatnya.
M1 : saya dan mba hana sebagai moderator diskusi malam ini mohon maaf masih banyak kekurangan.
M1 : terimakasih banyak atas animo yang diberikan :):):)
N : Saya juga mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan, atau kurang memuaskan jawabannya dan kurang cepat responnya jadi terbatas pertanyaannya. InsyaAllah ya besok saya luangkan waktu untuk balas, tapi mohon maaf kalau ada yg terlewat. Oh iya, materi untuk hari ini (poster dan link video), saya punten minta tolong bantu disosialisasikan ya, supaya ilmunya bisa mengalir terus 😇 senang sekali malam ini melihat antusiasmenya, semoga kita semakin tercerahkan jadi semakin penasaran juga hehee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s