Gaya Belajar Anak

Tanggal Diskusi     :  4 November 2016
Tema Diskusi         : Gaya Belajar Anak
Nara sumber          : Rini Setianingsih
Moderator               : Mba Nina Dan Mba Hana
Notulen                   : Silvia Rahayu

BIODATA NARASUMBER

Nama                                   : Rini Setianingsih
Ttl                                        : jakarta, 4 september 1990
Domisili                             : jakarta
Pendidikan                         : s1 psikologi ui, S2 profesi psikologi pendidikan ui
Pengalaman pendidikan : Indonesia Mengajar 7 Aceh Utara, dan berbagai pelatihan guru
Status                                   : lagi mencari calon suami shaleh, baik hati, baik budi, baik akal, baik ucapan. Mohon doanya 🙏🏻🙏🏻🙏🏻

PENGANTAR DISKUSI

Pengetahuan Terkait Gaya Belajar

photogrid_1478508691612.jpgSetiap anak memiliki gaya belajar yang berbeda-beda dan akan mempengaruhi material pembelajaran dalam pelatihan yang tepat untuk masing-masing anak. Menurut Rita Dunn (dalam Furjanic & Trotman, 2000) gaya belajar adalah cara seseorang dalam berkonsentrasi, memproses, menginternalisasi dan mengingat sesuatu yang baru dan sulit terkait infromasi akademik atau kemampuan. Meskipun kita bisa menangkap informasi dari berbagai cara, namun setiap individu memiliki preferensi dan cara yang paling membuatnya nyaman dalam belajar.

Terdapat tiga ciri anak berdasarkan jenis gaya belajarnya :
1.      Pembelajar visual
Anak ini paling nyaman dengan gaya belajar visual (penglihatan). Cara efektif untuk membantu anak ini belajar adalah dengan melengkapi presentasi verbal dengan tabel, grafik, gambar, video, flash card, ilustrasi, kode warna, highlight, flyer, dll. Anak ini akan efektif menggunakan mind map ketika brainstorming.

Anak ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
·      mencatat apapun yang dikatakan guru (tulis tangan atau mengetik)
·      meminta guru memperlambat perkatannya agar bisa mencatat
·      lebih banyak belajar melalui gambar atau foto dibandingkan kata-kata
·      berpikir dengan memvisualisasikan sesuatu
·      Mengucapkan kata-kata yang identik dengan karakteristik visual seperti “melihat”, “jelas”, “gambar”, “fokus”, dan sebagainya.
2.      Pembelajar auditory
Anak ini paling nyaman dengan gaya belajar auditori atau pendengaran. Ketika proses belajar, guru dapat melakukan metode bercerita atau mendongeng, diskusi kelompok kecil, debat, menggunakan rekaman yang dapat diputar, dan mnemonics. Mnemonics adalah cara mengingat berupa kata-kata atau kalimat yang secara otomatis terhubung dengan informasi lain.

Anak ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
·      Mendengarkan guru dengan seksama, belajar dengan mendengarkan
·      Lebih memilih mem-print handout dibandingkan mencatat
·      Merekam perkataan guru
·      Lebih menyukai stimulus suara (bunyi) dan menggunakan kata-kata yang menggambarkan karakteristik dari suara, seperti “mendengarkan”, “mengatakan”, “terdengar”, dll
·      Pembaca dan pembicara yang baik
·      Paham hanya dengan sekali instruksi
·      Lebih menyukai komunikasi tatap muka, dibandingkan melalui sesuatu yang tertulis
·      Mudah terganggu dengan suara yang tidak berhubungan
·      Mengingat dengan mendengarkan rekaman

3.      Pembelajar Kinestetik
Anak ini paling nyaman dengan gaya belajar kinestetik (gerakan). Anak ini akan  aktif dalam pembelajaran, dimana mereka harus belajar dengan praktek terlebih dahulu agar dapat mengingat materi pembelajaran. Guru bisa memfasilitasi anak ini dengan melakukan metode  praktek seperti games, bermain peran, simulasi, site visit (kunjungan), atau bekerja langsung dengan komputer.

Anak ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
·      Tidak nyaman duduk terlalu lama, dan ingin berjalan mengelilingi ruangan
·      Bergerak-gerak ketika duduk
·      Mengingat dengan melakukan sesuatu (misalnya mengingat nomer telpon)
·      Menggunakan kata-kata yang menggambarkan aktivitas sentuhan, rasa, bau atau emosi, seperti “menggenggam”, “melempar”, “mencium”, “merasakan”
·      Bisa belajar dalam keramaian dan keributan

Guru dapat memilih delivery pelatihan menggunakan metode yang memfasilitasi gaya belajar anak secara umum, dengan sebelumnya melakukan kuesioner yang sebelumnya sudah diadministrasikan ketika need anlysis. Jika waktu dan anggaran tidak memadai, guru bisa mempertimbangkan distribusi gaya belajr berikut :
Pembelajar visual        : 30 – 40 %
Pembelajar auditory    : 20 – 30%
Pembelajar kinestetik  : 30 – 50 %
Jika anak merupakan campuran dari semua gaya belajar, guru dapat melakukan hal berikut ini :
·      Mengidentifikasi gaya belajar sendiri dan mencoba gaya belajar lain
·      Pastikan suara bisa didengar dan peraga visual bisa terlihat sampai orang paling belakang
·      Fleksibel dalam mengubah gaya belajar menggunakan prinsip ESP berikut :
E – Explain dengan kata-kata
S – Show dengan gambar, grafik, tabel, dll
P – Practice dengan game, role play, dan aktivitas lain
·      Pastikan alat peraga visual jelas dalam tulisan, warna, dan lainnya
·      Tampilkan poin utama yang akan disampaikan pada slides / flipchart / papan tulis
·      Pastikan cahaya terang pada kondisi normal atau gelap ketika memutar video
·      Cepat ubah gaya penyampaian ketika anak terlihat kehilangan atensi

Best Regards,
Rini Setianingsih
Indonesia Mengajar | Profesi Psikologi Pendidikan UI | 085288978108

SESI TANYA JAWAB

P : Penanya
N : Narasumber

P : Bagaimana menyikapi dan mengarahkan anak [kelas VII SMP] yg memang dia tidak berbakat dalam mapel tertentu agar tetap mau belajar mapel tsb? (Mba Ayu Adityas)
N : Gak sukanya mapel apa ? Apakah sudah ditanya gak suka karena apa ?

P : Matematika,mbak
N : Coba dieksplorasi dulu gak sukanya kenapa. Karena susahkah. Karena gurunya kah. Karena temannya kah. Semua intervensi bisa dilakukan berdasarkan penyebabnya. Penyebabnya beda caranya beda 🙂

P : Kalo krn gurunya yg nggak cocok metode mengajarnya dg gaya belajar si anak , bagaimana solusinya ya mbak? Apalagi guru jadoel 🙈
N : Biasanya kalau ada kasus nilai gak bagus, psikolog tes iq dulu. Nanti terlihat profilnya intelektualnya bgmn. Apakah kurangnya karena masalah atensi, masalah konsentrasi, masalah disleksia, masalah fobia thdp matematika dll
Nanti di tes IQ ketahuan kemampuan berhitungnya bgmn. Kalau ternyata kemampuannya rendah, ya berarti lebih secara kemampuannya yg ditingkatkan.
Sekolah sd atau swasta ?

P : Negeri buuu
N : Anak ini bisa perkalian dan pembagian gak ?

P: Enggak bisa mbak.
N : Berarti dari dasarnya yg harus dibenerin. Ajarin perkalian. Konsep dasarnya. Perkalian itu pertambahan berulang. Pastiin anaknya paham konsepnya dulu. Kalau udah paham, baru masuk ke menghafal perkalian.

P : Apakah ada bedanya antara negeri dan swasta, Mba Rini?
N : Kalau guru negri susah untuk berubah hehehe. Siswanya aja banyak. Untuk memastikan tahu kemampuan masing2 anak agak susah.
Mending diberikan tambahan selain sekolah. Misalnya belajar bersama orang tua, bersama kakak, atau ada guru les privat

P : Berarti yg harus berubah si anak ya mbak. Jadi tiap pelajaran tersebut, anak itu tersiksa banget. Krn gak paham dan gak cocok metode  si guru
Nilainya utk mapel itu pasti pas2an
N : Menghafal perkaliannya juga gak langsung dipaksa sampe 100. Pelan2. Hari ini perkalian 1, besok 2. Trus diulang. Kalau udah lancar baru masuk perkalian 3. Diulang lagi, baru naik perkalian 4. Dst. Jika anak berhasil kasih apresiasi. Bisa pelukan, ucapan kata hebat atau snack yg anak suka. Semakin pengalaman berhasil muncul pda anak, anak smkin percaya diri
Ini pelajaran apa ?

P :  Matematika juga mbak
Harus les.. ??
N : Mbak udah lihat gurunya ketika mengajar ?
Gak harus les. Anak sebenarnya lebih seneng belajar sama ortu. Apalagi anak SD. Merasa diperhatikan dan disayang 🙂

P : Anak itu sudah SMP mbak. Berarti kita kudu neliti sampai ke metode ngajar gurunya ya mbak?
N : Maksud saya begini. Apakah anak ini gak bisa matematika bener karena semata2 cara mengajar gurunya yg gak sesuai metode belajar anak ?
Atau karena hal lain. Mungkin tingkat atensi anak rendah, atau anak gak bisa konsentrasi, atau anak selalu digangguin temennya kalau belajar
1478508239062.jpg
P : Mau tanya bgmn cara mengenali gaya belajar anak utk anak yg masih balita (TK A) /bayi? (Mba Yula)
N : Kalau anak paud masih eksplorasi. Biasanya belum ada kecendrungan gaya belajar. Terlihat kecenderungan ketika sd

P : anak saya yg nmr 2 umur 8 thn, kalo belajar itu lama pahamnya..harus diulang-ulang, gak bisa sekali dua kali, bagaimana cara mengajari yg efektif? (Mba Yanti)
N : Apa pernah tes iq mbak ? Saya sarankan untuk tes iq dulu. Agar ketahuan potensi intelektual, kelebihan dan kekurangannya apa :). SD mbak yg kecenderungannya mulai terlihat 🙂
Jadi sabar2 dulu ya mbaa biarin mereka expore 🙂

P : Mba nanya ya. Sejak usia berapa anak bisa kita amati gaya belajarnya? (Mba Siwi)
N : SD mbak yg kecenderungannya mulai terlihat 🙂

P : Mulai usia brp efektifnya test IQ? Bila anak test IQ dibawah usia 5thn, apakah harus diulang pd usia 5thn atau 10thn? Apakah betul test IQ utk anak dbwah 5thn adalah test griffit? Ataukah memang ada berbagai jenis test IQ mba?
Apakah test sidik jari efektif utk mengetahui potensi anak?
(Kata Mba Aulia : coba posting dulu, mudah”an masih relevan dan bisa dijawab)
N : Untuk masuk TK bisa tes iq. Pakai wppsi.
Sebenarnya hasil tes iq bisa berubah kalau sudah 1tahun, apalagi kalau sama anak. Bisa karena anaknya jadi lebih pinter atau ada masalah khusus jadi anaknya iq turun
Tes sidik jari itu psidopsience. Setau saya belum bisa dibuktikan validitas dan reliabilitasnya

P : Hooo gitu…ternyata bisa berubah yaa…itu td kan anak 5 tahun mbak….bgmn dg anak SMP/ SMA…sama gak sih  nama tes nya? Apakah hasilnya tetap konsisten utk tahun2 berikutnya?
Jadi sebaiknya test berkala ya mba Rini?
Hoo begitu ya mba. .tapi sdg marak ya mba skrg test sidik jari malah bikin penasaran hehehe
N :Beda. Tesnya berdasarkan jenjang usia. Berubah biasanya karena ada hal penting terjadi dalam hidup. Kalau udah SMA sampe kuliah relatif sama. Paling enggak range-nya masih sama. Waktu saya SMA kelas 2 iq saya 134. Pas kuliah S2 140 skala wechsler. Gak beda jauh

P : Kak Rini pinter banget :oops:👍🏻
N : Doa orang tua dan stimulasi yg apik sejak kecil. Terimakasih bapak ibuku 🙂

P : Naaaah bagi2 dong mbak stimulasi nya apa saja😄
N : Saya dari kecil hobi baca. Ibu saya kasih waktu belajar alias baca gt yg teratur sama saya. Saya suka baca hal2 baru macam sains dll. Masih sampe sekarang rasa ingin tahunya tinggi hehehe.

P : Mba Rini. . Sebetulnya apa pembeda macam2 test IQ ? Sblmnya sy dkasih tau griffith dari teman yg test anaknya di melinda 2 bandung . Eh ternyata utk tk sebaiknya wppsi ya mba. Jadi bingung .mohon pencerahannya mba .haturnuhun✌🏻
N :  Bedanya macam2 tes iq ? Bedanya pakai teori siapa heheh. Makanya biasanya hasil tes iq ada skalanya, menurut skala siapa. Skala wechsler, stanford binet, atau TIKI

P : Tes nya dimana itu mbak  rini?
N : Di psikologi UI bisa mbak. Di klinik terpadu

P : Ini anak teman yg test griffith juga usia tk mba😁
N : Griffith buat bayi. Tk harusnya wppsi

P : Mbak Rini mungkin nggak kecerdasan dipengaruhi oleh managemen emosi. Temanku wkt masih labil banget, emosian. Begitu lulus SMA jg lulus LIA toefl score 360. Sekarang setelah menikah alhamdulillah dia makin dewasa, nggak belajar2 jg toefl scorenya 550. Dan memang dia jauh lbh bijaksana thd masalah.
N : Waktu tes belajar gak ? Keseharian sering terpapar bahasa inggris gak ? Banyak faktor mbak.

P : Dr info waktu test belajar selewat aja mbak. Nggak jg. Cm setahuku memang dia seneng aja bahasa inggris. Maksudku hubungan mabajemen emosi sama kemampuan belajar. Dalam diskusi kali ini terutama pada anak2. Kl anak2 yg emosian meskipun IQ bagus , prestasi bisa jauh di bawah anak yg IQ 117 tp tekun, manajemen emosi dan pergaulan bagus. (Kisah nyata teman2ku)
N : Anak usia brp ? Anak tk, anak sd, smp dan sma core masalahnya beda2
Kalau anak smp wajar hahaha. Anak smp fokusnya ke pergaulan
Kalau anak masih PAUD stimulasi apa2 aja yg bisa ningkatin pengetahuan dia. Bisa lewat buku. Bisa diajak jalan2 ke tempat yg berbeda dan orang tuanya ngejelasin ttv tempat itu. Bisa dengak kasih mainan edukatif. Bisa kasih tontonan. Banyak hal deh. Tapi yg pasti harus menyenangkan 🙂

P : Wkt aku SMA kurleb thn ’98. Test IQ bbrp teman bocor… Ajaib. Teman yg 5 besar se-sekolah IQ-nya 117, 120. Hy 2 org yg di ats 130. Sementara teman2 yg 30-45 besar malah IQ rata2 di atas 130, 135… Cm memang yg aku amatin teman2 yg 5 besar, tekun lbh bisa menjaga emosi, nggak labil lah. Faktor emosi perannya besar ya pd kemampuan belajar (read), prestasi akademis.
N : Iq gak serta merta menentukan prestasi mbak. Iq hanya potensi kecerdasan. Tergantung orangnya mau manfaatin potensinya atau enggak.
Jadi macam mangkuk di otak. Manusia dengan iq tinggi mangkuknya lebih besar daripada yg iq rendah. Enaknya mangkuk besar berarti bisa menampung makanan lebih banyak. Tapi ada suatu ketika meski mangkuk besar prestasi belajar rendah. Itu karena mangkuk besarnya tidak bisa diisi.

Ketika potensi intelektual tidak sejalan dengan prestasi akademik, namanya underachiver

P : Mbak boleh kasih bocoran nggak…Mangkuk yg tidak bisa di isi itu krn apa sajah?
N : Seperti yg saya bilang tadi. Kasih berbagai stimulus yg variatif memacu visual, auditori dan kinestetik dia. Jadi jangan cuma buku aja, kasih jalan2 juga. Kasih musik juga. Kasih dongeng juga.
Karena motivasi. Gak mau ngisi. Alias males hehehe.
Makanya pinter percuma kalau males hehehe
Atau hambatan dalam ngisinya. Misalnya ada hal traumatik yg bisa membuat dia tidak mau ngisi.
Misal :
Anaknya pinter, tapi nilai matematikanya jelek. Krnapa ya ? Pas diketahui dia ternyata pernah ditampar guru matematikanya krn gak bisa. Sehingga dia jadi gak minat matematika. Gak mau isi mangkok

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s