Meningkatkan Ketauhidan Pada Remaja

images-1🌿Narsum : Ustadz Harry Santosa

🕞: 22 Oktober 2016, 15.30WIB

🌿Momod dan co momod🌿
1. Mb elvira
2. Mb lissyari
3. Mb rita

Elvira: tema diskusi sore ini yaitu tentang meningkatkan ketauhidan pada remaja. Kepada ustadz Harry dipersilahkan untuk penyampaian materinya 🙂
Ustadz Harry Santosa: Terimakasih undangannya, kehormatan buat saya :)🙏

Bismillahirrahmanirrahiem

Dalam perspektif pendidikan berbasis fitrah, setiap anak pada fitrahnya sudah berSyahadah Rubbubiyatullah sejak di alam rahiem (QS 7:172).

Artinya mereka, anak anak kita sudah berTauhid Rubbubiyatullah sejak lahir. Tauhid Rubbubiyatullah adalah menjadikan Allah sebagai satu satunya Robb (Pencipta, Pemberi Rezqi, Pemelihara, Pemilik).

Itulah mengapa tiap bayi lahir menangis. Para ulama mengatakan karena para Bayi ketika lahir merindukan sosok Robb yang telah menciptakannya, memberikan rezqi, memelihara, melindungi dstnya.

Karenanya penguatan Tauhid Rubbubiyatullah pertama kali adalah pemberian ASI secara eksklusif. Dalam pemberian ASI semua kerinduan akan Robb itu terpenuhi. Karenanya pemberian ASI ini bukan sekedar pemenuhan nutrisi namun penguatan Tauhid Rubbubiyatullah.

Bukti lainnya bahwa manusia sudah berTauhid Rubbubiyatullah adalah tidak ada satu sukupun di muka bumi yang tidak punya tempat menyembah Tuhan Sang Maha Pencipta, Pemberi Rezqi dan Pemelihara.

Fitrah adalah Potensi, ibarat benih maka perlu penguatan pada tiap tahapnya untuk tumbuh paripurna. Penguatan Fitrah Keimanan ini dilakukan dengan Keteladanan dan Atmosfir keshalihan.

Pada usia 0-6 tahun, fitrah keimanan mengalami masa emasnya untuk dididik, ditumbuhkan sebaikn antusias baiknya. Esensinya adalah Tauhid Rubbubiyatullah. Penyimpangan fitrah keimanan atau melemahnya Tauhid pada masa Remaja adalah karena lemahnya penguatan fitrah keimanan ketika usia 0-6 tahun.

Dalam prakteknya, Tauhid akan nampak pada kuat dan lemahnya pada gairah dan antusias dalam ibadah dan menyeru kebenaran.

Anak remaja yang melalaikan sholat dan tidak peduli pada alHaq banyak disebabkan karena lemahnya penguatan fitrah keimanan ketika usia 0-6 tahun.

Antara usia 7-10 tahun, fitrah keimanan diuji dengan turunnya perintah sholat di usia 7 tahun. Ada masa selama 3 tahun untuk meningkatkan fitrah keimanan dari Tauhid Rubbubiyatullah ke Mulkiyatullah, sejak disampaikan perintah sholat dan boleh dipukul pada usia 10 tahun jika melalaikannya.

Artinya sebelum memasuki tahap Remaja usia 11-18 tahun (Islam tidak mengenal istilah remaja, dan memberi batas anak dan dewasa pada usia 15 tahun) maka fitrah keimanan harus tuntas di usia 10 tahun, karenanya boleh dipukul. Dan secara fitrah seksualitas, kamar sudah harus dipisah sebagai penanda fitrah seksualitasnya dalam peran dan identitas kelelakian dan keperempuanan harus selesai juga di usia 10 tahun.

Jadi sejak usia 10 tahun, Tauhid Mulkiyatullah (Allah sebagai satu satunya Zat Yang harus ditaat dan Yang Membuat Hukum) lebih meningkat ke Tauhid Uluhiyatullah.

Usia 11-14 adalah masa pre aqilbaligh, idealnya masa ini adalah penguatan Tauhid Uluhiyatullah bahwa Allah adalah satu satunya Ilah yang dicintai, ditakuti, diharapkan dstnya lebih dari apapun di muka bumi.

Maka jika tahapan tahapan ini terpenuhi, ketika usia 15 tahun, anak akan benar benar siap memikul beban syariah dan siap menjalani kehidupan sebagai seorang Hamba Allah dan Khalifah Allah di muka bumi dengan peran peran terbaiknya.

Setiap tahapan yang terlewat memerlukan recovery yang tidak mudah. ✅

🌿Tanya Jawab🌿

Rita DEK: Karenanya penguatan Tauhid Rubbubiyatullah pertama kali adalah pemberian ASI secara eksklusif. Dalam pemberian ASI semua kerinduan akan Robb itu terpenuhi. Karenanya pemberian ASI ini bukan sekedar pemenuhan nutrisi namun penguatan Tauhid Rubbubiyatullah.

Dari pernyataan Ustadz di atas, pertanyaan saya: bagaimana seharusnya pemberian ASI ekslusive ini bisa bernilai penanaman Tauhid?
Demikian Ustadz.🙏🏼

Ustadz Harry Santosa: 1⃣bunda Rita yang baik,
Para pakar menyebut peristiwa pemberian ASI sebagai pembangun Attachment atau kelekatan. Riset membuktikan bahwa pemberian ASI bukan hanya karena nutrisi namun membangun attachment, ini juga terjadi pada bayi kera.
Dalam perspektif Tauhid tentu saja attachment ini bermakna menghadirkan rasa nyaman akan kasih sayang, rasa aman atau telindungi, rasa terpelihara dengan baik dstnya.
Ketika menyusui dilarang menyambi apalagi kulwap, tetapi tatap matanya dengan penuh sayang, sentuh dan belai tubuhnya, ajak bicara dengan lembut, dekap dengan hangat, upayakan pertemuan kulit anak dan ibunya dstnya✅

Fitria Purnomo:

Assalamualaikum.
1. Ustadz, bagaimana cirinya anak usia 15 tahun yg sdh siap memikul beban syariah dan amanah sbg khalifah?
Krn melihat dgn sistem Pendidikan saat ini, usia 15th itu Baru SMP dan kebanyakan anak usia 15th zaman skrg blm siap menerima beban dan amanah tsb. Bahkan yg lulus kuliah dgn usia 20an thn pun msh banyak yg terlihat blm Siap.
Bgmn caranya kita sbg org tua menyiapkan mereka ustadz?
2. Jika anak yg sdh besar (katakanlah sdh lulus kuliah usia 20th an) ternyata blm Siap menerima beban dan amanah tsb, apakah msh bs diperbaiki ustadz?

Ustadz Harry Santosa: 2⃣bunda Fitria Purnomo yang baik,
1. Saya membaca beragam literatur bahwa sesungguhnya anak usia 15-17 tahun sesungguhnya sudah benar benar siap secara fisik maupun psikologis untuk menjadi orang dewasa seutuhnya. Di banyak peradaban bahkan Yahudi, perayaan anak menjadi dewasa di usia 13 tahun.
Robert Epstein berkenaan dengan bukunya yaitu “The case against adolescence: Rediscovering the adult in every teen” menyatakan bahwa anak usia 13 – 15 tahun sesungguhnya punya kompetensi setara orang dewasa jika diberi kesempatan.
Cirinya adalah sudah berani memikul tanggungjawab misalnya sudah tidak mau dinafkahi, sudah fokus mempersiapkan masa depan, sudah mandiri dalam arti luas termasuk mencari nafkah, siap menikah dsbnya.

2. Kata orang, menjadi tua adalah kemestian, namun menjadi dewasa adalah pilihan. Nah, Allah sesungguhnya sudah mempersiapkan semuanya, tinggal pendidikanlah yang mau mengaktifasi atau tidak fitrah kedewasaannya itu. Tentu saja selalu ada jalan untuk memperbaiki aspek fitrah agar menjadi dewasa dengan paripurna. Saya meyakini jika semua aspek fitrah tumbuh baik, maka kedewasaan adalah keniscayaan saja. Maka ulangi saja semua proses penyadaran tiap aspek fitrahnya, insyaAllah kedewasaan psikologis, sosial, spiritual dll akan datang dengan sendirinya.✅

Fitria M:

Apa saja yg perlu orang tua ketahui dan lakukan pada tiap fase pendidikan untuk memastikan parameternya terpenuhi? Terimakasih

Ustadz Harry Santosa: 3⃣bunda Fitria M yang baik,
Pertanyaannya pendek, tetapi penjelasannya bisa seharian. 🙂 Silahkan dilihat framewok FBE di bawah ini
image

Silvia : 1. Ust.harry,mengingat pentingnya rentang usia 0-6 th, boleh dicontohkan kegiatan praktis yg bs dilakukan ibu utk penguatan fitrah keimanan anak ( tauhid rububiyah)? ( kebetulan anak sy umur 4,5 dan 5,5 thn).

2. Apakah ada cara dan bagaimana untuk bs tau ( mengetes) bhw anak sy sdh kuat tauhid rububiyahnya ( indikator) ( mumpung masih di bawah 6 thn. ) atau mesti nunggu di usia 10 thn dulu baru bs ketahuan ?

3. Mhn dijelaskan ttg contoh bagaimana melakukan proses recovery pada fase yg terlewat yg ustd.sebutkan di materi.

Jazakallah khair..

Ustadz Harry Santosa: Bunda Silva yang baik,
1. Kegiatan praktis nya adalah membangkitkan gairah cinta kpd Allah melalui imaji imaji positif ttg baiknya Allah. Setiap menjelang subuh atau ketika malam langit cerah ajak anak utk melihat langit, bintang, bulan dll ceritakan ttg Allah yang menciptakan ini semua. Setiap pulang membawa makanan atau hadiah, katakan bhw tadi Allah menitipkan untuk ananda. Kisahkan indahnya syurga, tahan utk tdk ceritakan neraka, dajjal, perang akhir zaman dll,, gairahkan semangat sholat setiap adzan berkumandang (walau jangan paksa anak tidak sholat sempurna), gairahkan untuk beramal baik, suasanakan rumah dalam suasana keshalihan setiap saat dstnya
2. Indikatornya adalah bergairah pada alHaq.
Indikator finalnya adalah bahagia menerima perintah sholat ketika usia 7 tahun
3. Prosesnya diulang seolah masih balita, seperti no 1
Utk no 3 di atas, disarankan sejak usia 10 tahun ananda sebaiknya memiliki pendamping akhlak (murobby) dan pendamping bakat (maestro). Keduanya akan memberi keteladanan dan pengaruh yg besar dalam kehidupannya termasuk keimanannya, perannya dstnya

Artri:

Assalamu’alaikum

afwan Ustadz telat menyimak kulwap 🙏

ketitipan pertanyaan dari seorang ibu :

Assalamualaikum, setelah mengenal pendidikan berbasis fitrah, saya ingin memindahkan anak2 tingkat SMA yg sedang pesantren ke rumah (anak-anak sudah pesantren sejak tingkat SMP), tapi saya bingung selanjutnya bagaimana? Setelah di rumah apakah harus masuk ke sekolah negeri atau bagaimana? Saya ingin bersama anak2 dimasa SMAnya ini dg menerapkan metode fitrah, tapi masih bingung belum tergambar jelas..

Jazakillah khair Ustadz Harry..

Ustadz Harry Santosa: Bunda yang baik,
Saya bisa memahami keinginan bunda untuk membersamai anak anak ketika mereka kini SMA. Anak setingkat SMA dengan usia antara 15-18 dalam perspektif pendidikan sebenarnya sudah masuk dalam andragogi (pendidikan orang dewasa) bukan lagi pedagogi. Dalam Islam bahkan di atas usia 15 tahun dianggap sudah dewasa sempurna (aqilbaligh) setara dengan kedua orangtuanya dalam kewajiban memikul beban syariah termasuk nafaqoh, zakat, jihad, menikah dstnya.
Jadi pendidikannya berbeda dengan anak anak umumnya namun jika belum mandiri bisa disamakan dengan pendidikan anak pre aqilbaligh.
1. Tuntaskan Fitrah Keimanannya sampai ke aspek Tauhid Uluhiyatullah. Berikan pendamping akhlak (murobby) yang memberi keberkesanan mendalam kepada keimanan, keislaman dstnya.
2. Tuntaskan Fitrah Seksualitas. Bina kembali kelekatan (attachment) dengan anak anak walau mereka sudah “orang dewasa”, bisa jadi kelekatan ini terlewat selama mereka di pondok saat usia 11-14 tahun.
3. Kenali Bakatnya dan fasilitasi pengembangannya. Sibukkan ananda dengan memperbesar potensi cahayanya atau fitrah bakatnya. Berikan pendamping bakat (maestro). Anak atau pemuda yang “on track” dengan bakatnya akan jauh lebih produktif dan tidak mudah tergoda aktifitas yang tidak produktif alias mubadzir atau maksiat. Jika ananda suka perdagangan, magangkan dengan pedagang teladan dan berikan modal utk memulai bisnisnya, jika suka pertanian magangkan dengan petani teladan, jika suka pada ilmu alQuran magangkan dengan pakar alQuran yang bersanad dsrnya.
4. Fitrah sosialitasnya menghendaki peran peran orang dewasa. Beri kepercayaan untuk peran2 sosial. Jadikan mitra bisnis, mitra dakwah, mitra dalam organisasi sosial dll. Bikinkan passport, bukakan rekening, libatkan dalam organisasi sosial atau dakwah dll. Orangtua harus jadi raja tega pada tahap ini, namun ketegaan untuk dibenturkan pada realitas sosial dan merasakan serunya kemandirian.

Demikian beberapa aspek fitrah yang perlu diprioritaskan pada tahapan ini. Sibukkan dengan kebaikan dan cahayanya maka kegelapan tidak relevan.

Ayu Kusuma:

Ustadz Harry, mungkin sedikit menyimpang dari tema..
Hendak bertanya..
Selintas dalam konsep HE, guna memutus rantai pengasuhan yang keliru, orang tua sebaiknya tazkiyatun nafs. Mungkin bisa dijelaskan lebih gamblang?
Misal, saya dahulunya diasuh dengan pola2 tertentu dari ortu. Terkadang hal2 negatif pengasuhan dari ortu tsb muncul ketika saya mengasuh anak.

Ustadz Harry Santosa: Tazkiyatunnafs adalah bahasa alQuran untuk mentherapy secara alamiah dan fitriyah apa apa yang menyebabkan kita berperilaku buruk. Tiada cara yang baik dan mengakar kecuali memperbaiki jiwa sebelum memperbaiki fikiran dan amal.
Belum pernah ada surat di dalam alQuran dimana Allah bersumpah begitu banyak, sampai 11 kali, kecuali untuk pensucian jiwa “sungguh beruntung mereka yang mensucikan jiwanya” (surat asSyams).
Warisan pengasuhan masa lalu dalam dunia psikolog sering disebut Inner Child, kadang sehebat apapun ilmu parenting atau psikologi yang kita pahami, tetap saja di tataran praktis yang kita pakai adalah apa yang pernah kita alami ketika kecil. Misalnya, kita tahu membentak dan menjewer itu buruk, namun ketika kekesalan memuncak maka hilang semua pemahaman, yang ada lagi lagi membentak dan menjewer.
Ada terapinya untuk ini, namun sebaiknya kita menggunakan jalur alamiah dan syar’i yaitu Tazkiyatunnafs, atau pensucian jiwa. Ini perlu waktu, perlu momen, perlu keberanian utk keluar dari zona nyaman dan instan.
AlQuran juga mengingatkan bahwa sebelum ta’lim maka penting untuk tazkiyah lebih dulu. Dalam prakteknya paralel saja, karena begitu kita berniat sungguh2 mendidk anak sesuai fitrahnya maka sesungguhnya kita sedang tanpa sadar mengembalikan fitrah kita atau sedang tazkiyatunnafs

Dalam buku tarbiyah Ruhiyah, pensucian jiwa itu bisa dilakukan dengan 5 M

1. Mu’ahadah -mengingat ingat kembali perjanjian kita kepada Allah. Baik syahadah, maksud penciptaan, misi pernikahan, doa doa ketika ingin dikaruniai anak, menyadari potensi2 fitrah dstnya
2. Muroqobah – mendekat kepada Allah agar diberikan qoulan sadida, yaitu ucapan dan tutur yang indah berkesan mendalam, idea dan gagasan yang bernas dalam mendidik, sikap dan tindakan yang pantas diteladani. Allahlah pada hakekatnya Murobby anak anak kita, karena Allahlah yang memahami fitrah anak anak kita. Maka kedekatan dengan Allah adalah agar hikmah hikmah mendidik langsung diberikan Allah untuk anak anak kita melalui diri kita.
3. Muhasabah – mengevaluasi terus menerus agar semakin sempurna dan sejalan dengan fitrah dan kitabullah, bukan obsesi nafsu dan orientasi materialisme
4. Mu’aqobah – menghukum diri jika tidak konsisten dengan hukuman yang membuat semakin bersemangat dan semakin konsisten untuk tidak melalaikan amanah
5. Mujahadah – sungguh sungguh menempuh jalan sukses (fitrah) dengan konsisten, membuat perencanaan dan ukuran2 nya
Ayu Kusuma: Artinya tentu saja tazkiyatun nafs ini berkepanjangan sepanjang usia masih melekat di badan ya, Ustadz? 😅
Ustadz Harry Santosa: Ya pensucian jiwa ini memang terus menerus sampai insyaAllah kita dipanggil sebagai jiwa yang muthmainnah (jiwa yang ithminan atau tenang). Definisi bahagia dalam Islam adalah Ithminan.

🌿Cloing Statement🌿

Ustadz Harry Santosa: Para Emak Kekinian yang baik, 

Pada fitrahnya tiap anak sudah bertauhid sejak lahir, dan jika fitrah ini diperkuat dan dipandu dengan Kitabullah maka Tauhid ini akan mencapai puncaknya menjadi Tauhid Uluhiyatullah, yaitu menjadikan Allah sebagai satu satunya Zat yang dicintai, ditaati, ditakuti, diharapkan dstnya lebih daripada apapun di dunia dan di akhirat.
Pertanda bahwa fitrah keimanan menguat adalah ghairah dan antusias untuk terus mencintai alHaq (Allah, RasulNya dan Islam) dan beramal karena cinta itu.
Allah telah memberikan tahapan tahapan yang harus ditempuh, susui selama 2 tahun. perintahkan Sholat ketika usia 7 tahun, pisahkan kamar ketika usia 10 tahun dan pukulah jika meninggalkan sholat di usia 10 tahun. Lalu Syariah dan Siroh memastikan usia 15 tahun sebagai batas antara anak dan dewasa/pemuda.
Maka tugas kita adalah mendalami dan menjalani pendidikan untuk menumbuhkan semua aspek fitrahnya sesuai tahapannya, memandunya dengan Kitabullah sehingga InsyaAllah anak anak kita kelak akan menjadi pemuda yang berTauhid dengan kuat. Sebagaimana perumpamaan pohon yang baik.✅

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s