Melatih Kendali Diri Anak Part 1

🌻Profil Narasumber :

Nama: Lita Edia Harti, S. Psi
TTL: Bandung, 14 Juli 1978
Pendidikan Terakhir: S1 Psikologi UNPAD
Aktivitas:
– Istri dan ibu dari 4 anak + 1 masih di rahim
– Konselor sekolah RA – SDIT Amal Mulia Depok
– Ka LITBANG yayasan Amal Mulia Depok
– Wirausaha Online

🌻Moderator: Zuhay dan Nina

🌻Notulensi: Dewi Aprilia K.

🌻Materi Kulwap

images

Membentuk Kemampuan Kendali Diri Anak

Kendali diri adalah kunci kesejahteraan seorang individu, dan juga menjadi ciri kematangan jiwa (dewasa). Betapa banyak yang mengalami permasalahan rumit karena tidak bisa mengendalikan dirinya.

Misalnya saja sulit mengendalikan emosinya. Cepat marah yang tidak sekedarnya, tetapi marah besar dengan fisik dan lisannya. Sikap seperti ini akan menimbulkan permasalahan rumit di rumah maupun lingkungan kerjanya.

Hal lainnya misal sulit mengendalikan pengeluaran keuangannya, sehingga ia banyak berhutang. Inipun menjadi masalah yang rumit.

Banyak hal lain lagi berkaitan dengan kendali diri seperti tidak bisa melawan rasa malas, kurangnya tanggungjawab sehingga tidak tunai amanah yang ia miliki.

Beberapa kali juga kita pernah mendengar individu yang baik ilmunya (akademik atau agama) yang tak kuasa menahan diri dari berbuat keburukan.

Orang yang memiliki kendali diri akan berhenti sebelum bertindak. Ada baik dan buruk yang ia timbang. Ada rasa tanggungjawab yang ia jadikan pedoman.

Kendali diri sangat penting dimiliki oleh seseorang terutama setelah baligh. Ketika dosa sudah diperhitungkan, dan sebelum masuk masa tersebut, adalah tugas orangtua melatih anak agar memilki kendali diri yang baik.

Caranya adalah:
1. Berikan pengalaman emosi yang baik di usia 0 – 12 tahun. Inilah masa emas perkembangan emosi. Harapannya setelah masa ini anak memiliki kematangan emosi termasuk kendali diri yang mencukupi.

Pengalaman emosi itu seperti apa?
Pertama adalah bagaimana anak bisa mengenali emosi yang ia rasakan.

Ada 6 emosi dasar:
Marah, Sedih, takut, jijik, bahagia, dan terkejut.

Beri kesempatan anak mengalami enam emosi ini dan bantu mereka mengenali emosi yang dirasakan.

Kedua adalah mengelola emosi hingga mampu mengekspresikan dengan tepat.

Terkadang ada emosi yang dihalangi orangtua untuk dialami anak. Misal anak takut ke kamar mandi, kita abaikan rasa takut itu dengan memarahi mereka dan memaksa mereka untuk melawan rasa yang mereka alami. Anak dituntut segera berani.

Padahal rasa takut adalah emosi yang penting sekali untuk masa dewasanya. Beberapa orang yang berani berbuat buruk padahal ia sudah tahu itu terlarang, karena rasa takut sudah mati di hatinya.

Pengalaman emosi yang beragam, bisa diperoleh melalui bermain dan sosialisasi.

2. Untuk anak di atas usia 2 tahun, jangan berikan apa yang anak minta dengan cara memaksa, mengamuk, rewel atau menangis. Berikan hal yang dianggap perlu, hanya saat ia bersikap tenang. Ukur dengan baik mana kebutuhan anak dan mana keinginan.

3. Latih anak untuk menunda memenuhi apa yang ia inginkan. Orangtua tidak selalu langsung memberikan apa yang anak minta. Misalnya saja dengan melatih menabung atau mengajukan syarat sebelum terpenuhi keinginannya.

4. Berikan kesempatan padanya untuk menyelesaikan tugas keseharian secara mandiri sesuai usianya.

5. Latihlah anak untuk menuntaskan aktivitas yang sudah ia mulai, termasuk membereskan perlengkapan atau mainannya kembali ke tempatnya.

6. Biasakan anak menunaikan kewajiban terlebih dahulu sebelum hak.

7. Buat aturan aturan sederhana sesuai usia anak. Bisa dibuat bersama anak dan menyepakati konsekuensi jika ada pelanggaran. Jangan biarkan anak melanggar aturan,walau itu fenomena umum, seperti menggunakan sosmed padahal usia belum mencukupi syarat yang ditentukan, naik motor padahal belum ada SIM.

8. Bangun konsep diri yang positif pada anak,. Agar ia mampu mandiri mengendalikan diri, tidak cepat terpengaruh orang lain. Di antara caranya adalah dengan menghindari label negatif dan mengapresiasi kebaikan anak.

Memiliki kemampuan kelola emosi, taat pada aturan, disiplin, terlatih untuk menunda memenuhi keinginan, memiliki konsep diri positif adalah jalan anak agar di masa dewasa ia memiliki kendali diri.

Memiliki kendali diri yang kuat akan membuatnya lebih sejahtera di masa dewasa dan bukan sekedar matang usianya tetapi juga matang jiwanya.

Salam hangat,
Lita Edia

🌻Zuhay : Mendidik anak tidaklah mudah apalagi saat menghadapi anak tantrum. Nangis kejer, teriak-teriak, ngamuk ketika anak tantrum sering membuat orang tua kesal, malu, bahkan Kadang kala memukul atau mencubit atau menuruti apa yg diinginkan si anak agar anak menjadi diam.
Lalu baiknya seperti apa? Apakah harus dimulai dari orang tuanya dahulu atau anaknya atau keduanya untuk dapat melatih kendali diri anak?

🌻Lita : Baik, pertama perhatikan usia dan kemampuan bicara anak. Untuk usia di bawah dua tahun, fokus kita adalah membentuk rasa percaya anak pada lingkungan, ikuti apa yang anak mau, selama tidak berbahaya.

Tantrum juga berhubungan dengan kemampuan bicara, semakin anak terampil mengungkapkan keinginannya lewat kata kata dan memahami perkiraan orang lain, tantrum bisa lebih dicegah.

Usia 2-6 tahun saat egosentris menguat, anak sulit memahami cara pandang orang lain. Inilah sebenarnya kesempatan emas kita untuk melatih anak mengelola emosi.

Kuncinya, Jangan berikan apapun yang anak minta dengan cara mengamuk agar ia belajar mengendalikan diri.

Kunci kedua, orangtua Jangan ikut Ikutan tantrum :).

Di dalam otak manusia ada yang namanya mirror neuron, akan mendorong anak meniru apa yang anak lihat

Zuhay : Terkadang tanpa sadar orang tua pun ikut tantrum 🙊
Lita ‬: Yap 🙂 biasanya begitu. Penting orangtua mengenali tanda kapan ia mulai terpancing. Tubuh akan memberikan tanda, segera relaksasi atau melakukan teknik agar tidak terlanjur ikut tantrum

🌻Tanya Jawab

1. Berikut pertanyaan dari bunda Elvira:

~Bentuk aturan dan konsekuensi apa yg tepat untuk anak usia 2 tahun?

Baik, Bunda Elvira, untuk anak 2 tahun perhatikan kemampuan bicaranya. Karena 2 tahun ini masih transisi ya. Apakah ia sudah bisa diajak “berdiskusi”, Jika belum, mulailah dengan mencontohkan. Kenali tugas perkembangan anak dua tahun. Aturan bisa dimulai dari sana. Misal, anak sudah mampu mandiri sederhana, kita minta ia buang sampah pada tempatnya, belum perlu konsekuensi negatif, karena masih tahap Pembiasaan. Konsekuensi itu bisa positif dan negatif ya Bun.

~Bagaimana teknik komunikasi untuk menunda keinginan anak agar anak tidak menjadi rendah diri krn kita menunda keinginannya?

Untuk anak balita sebenarnya anak mudah menyerap nilai dengan pembiasaan dan contoh. Selama dibiasakan untuk menabung, ia akan mengikuti dengan baik. Menjadi permasalahan adalah di orangtua. Rasa bersalah orangtua, misal karena sibuk, merasa Khawatir jika tidak memenuhi permintaan anak, akan menimbulkan luka. Rendah diri berkaitan dengan apakah anak mendapat apresiasi dari kebaikannya atau tidak.

~Jika yg bermasalah ibunya atau bapaknya dalam pengendalian diri 😁 tahapan apa saja yg perlu dilakukan untuk bisa lbh baik lg dlm pengendalian diri?

Jika masalah kendali diri dari orangtuanya, pertama, Kuatkan tekad untuk berubah. Hayatilah mengapa perlu berubah, ciptakan value. Kedua, kenali pemicunya. Jika ada akar pemicu yang berasal dari masa kecil, perlu diselesaikan. Ketiga, berlatih relaksasi

Mungkin masing masing kita punya cara ya, kalau saya, bisa memeluknya. Biasanya pelukan akan meredakan keduanya. Jika anak menolak (anak saya suka bolak nih), saya akan memisahkan diri dirinya, misal saya katakan “kakak Di sini dulu, silakan selesaikan nangisnya, ibu Khawatir ikut Marah, ibu mau duduk dulu di Teras. Kita bisa lanjutkan pekerjaan rumah dulu, dll selama anak mengamuk, sambil Cek apakah anak sudah siap bekerjasama

Nina : utk ortu, kata “diselesaikan ” itu bisa jd cari pertolongan ke psikolog ya mbak, kalo tantrum ortu nya parah banget.

Lita : yap

Zuhay : Ya Penting bgt role model orang tua yang berkualitas
Lalu bagaimana bun jika si anak bisa diajak diskusi? Apakah akan lebih mudah untuk bisa membentuk kemampuan kendalikan diri Kepada si anak?

Lita : Jika perkembangan bicara sudah baik, kita perlu mengingatkannya untuk menggunakan kata kata setiap kali ia mau menyampaikan kebutuhannya.

Kemampuan bicara dengan baik juga akan memudahkannya mengatakan kebutuhannya. Namun anak perlu dilatih, diingatkan karena meluapkan emosi itu sifatnya lebih spontan ya.

Dengan sudah bisa dialog, kita bisa mulai mengajak anak menghayati sebuah value.

Misal kita membacakan buku, atau berkisah,kita bisa ajak diskusi Tentang value yang ada dalam cerita.

Lalu melihat contoh baik dan buruk di lingkungan juga bisa menjadi bahan diskusi.

Saat menetapkan aturanpun bisa dua arah

Marlia Suminar : Assalamualaikum mba lita.. Siap nyimak.. 🙇🏻🙋🏻
Saya gitu jg mba lita.. Memberi waktu anak buat nangis dulu, sementara saya misahin diri. Biar ga ikutan marah. Etapi anaknya mesti nyusulin trs, gmn ya mba? 😅
Jd susah buat tenang 😞

Lita : Yang penting di jaga lisan kita dan bagian tubuh kita, banyak banyak mohon kepada Allah agar tidak terjebak syetan dzolim pada anak. Mungkin ada akhirnya kita hanya bisa terdiam, menahan diri. Ingatkan anak untuk menenangkan diri “kakak perlu bantuan ibu untuk tenang? Mau diambilkan minum? Mau tarik nafas sama sama? ”

2. Berikut ada pertanyaan dari bunda Siwi

Sejak usia berapa anak bisa kita latih pengendalian dirinya?

U usia 5bln apa yang bisa kita lakukan u melatih pengendalian diri.

Setelah 2 tahun, atau ketika kemampuan verbalnya sudah baik. Kita bulan tugas perkembangannya berbeda ya, lebih ke membentuk rasa percaya pada lingkungan.

Setiap usia ada tugas perkembangannya.

Pola asuh yang responsif pada bayi akan membentuk rasa aman dan percaya pada lingkungan. Ini menjadi fondasi dasar kematangan emosi anak kelak juga.

Zuhay : Wah setiap usia ada tugas perkembangannya 😃

Dan yang paling awal mempengaruhi perkembangan selanjutnya yaitu membentuk rasa aman Dan percaya di dalam diri anak Kepada lingkungan.

Lalu apakah jika fondasi tersebut terbentuk dgn baik maka tantrum pada anak pun berbeda atau bahkan mungkin kah anak tidak akan mengalami tantrum?
Lita ‬: Rasa aman dan percaya pada lingkungan akan menjadi fondasi untuk tahap berikutnya. Namun tetap perlu dipertahankan di tahap berikutnya.

Misal 0-2 tahun kita sudah responsif. Anak trust. Tapi di usia 2-4 kita memberi contoh tidak trust pada orang lain termasuk anak kita, misalnya melarang anak menolong dirinya sendiri seperti membersihkan diri, berpakaian dengan alasan “hasil kerja kamu ngga akan bagus”, selalu mengoreksi anak, mengkritik secara langsung Dan tidak langsung.

Bisa juga rasa aman itu tidak terjaga karena di usia selanjutnya kita tidak responsif terhadap perasaan anak. Misal mengabaikan rasa cemburu anak pada adiknya. Rasa sedih karena sedikit perhatian.

Mungkin anak tidak mengalami tantrum? Mungkin… Karena coping stress setiap anak kan Beda beda
Zuhay : Harus tetap konsisten ya terhadap pola asuh 📝
Lita : Betul. Ada tipe orangtua juga yang mempengaruhi, misal orangtua pencemas, orangtua perfectionist, bisa memberi contoh reaksi cemas pada anak. Jadi penting di sini kita menyadari apa type kita, dan apa yg bisa diperbaiki sehingga reaksi kita lebih baik. Anak seperti spon, mudah menyerap dan meniru

3. Berikut pertanyaan dari bunda greta mengenai tantrum.

Mau nanya.. Biasanya pd umur2 brp anak bs tantrum? Trs apa bs dr umur 1taun kita bs latih emosi nya? Gmn cara ngadepin anak yg lg tantrum.. Makasih Mba 😘

Usia 2-6 tahun. Di atas 2 tahun memulai melatih emosi. Jika di atas 6tahun masih tantrum, perlu dicek apakah penyebabnya
Tambahkan sedikit ya… Jika anak kita meledak ledak emosinya, kita perlu memperhatikan stimulasi yang sekiranya bisa membuat anak lebih relaks, misal melatihnya menggambar. Mengajaknya berolahraga seperti berenang dan berkuda. Lalu hayatilah hal apa yang dirasa kurang nyaman oleh anak
Perhatikan pemicu tantrum berulang seperti kurang perhatian, kurang Sentuhan (pelukan, belaian), kurang bercanda/humor, rasa cemburu, dll

Zuhay : Ya banget.. Karena terkadang ada orang tua yg kurang peka tentang hal tersebut.

Selain Itu orang tua jg harus tega ya ketika anak tantrum 😁

4. Anak saya Nadhira 5 bulan menjelang 2 tahun.
Dulu dia cheerfull sekali dan mandiri, entah kenapa sekarang cengeng rewel manja sekali dan jika keinginannya tidak dikasih tantrum (nangis kejer drama kumbara yg fake bgt) bahkan dia jago ngeluarin air mata buaya.

Semua bilang, maklum cucu pertama. Princess.

Pertanyaan, apa yg harus kami lakukan?

Menuruti semua maunya 100% hingga tiba2 ulang tahun lalu kita strict sama dia?

Atau dr skrg uda kita biarin gerung2 nangis2 sampe dia berhenti sendiri?

Lalu saat dia lagi tantrum kita gimana ya? Peluk2? Liatin aja tega2in? Atau ajak ngomong baik2 walau itu ga efektif krn dia lg tantrum? ( mbak ajeng )

 Biasanya kebutuhan anak di bawah 2 tahun belum banyak dan belum rumit. Seputar lapar, haus, ngantuk, perlu istirahat. Jadi bisa dicegah sebelum dia ngamuk, berikan apa yang ia perlukan sebelum anak ngamuk.

Cengengnya mungkin lebih ke arah banyak yang ingin disampaikan tapi kosa kata terbatas. Bantu anak menyampaikan kebutuhannya tersebut.

Semakin kita lekat dengan anak biasanya kita juga mudah mengenali kebutuhan anak Saat dia tepat 2 tahun tentu pola asuh disesuaikan secara alami saja, dilihat kesiapan anak, karena masih transisi ya.

Pola asuh bukan ilmu pasti, eksakta. Jadi kalem aja bun, coba intuitif kira kira apa yang tepat dilakukan. Misal anak baru disapih, sebulan rewel adalah Wajar, kita lebih toleran terhadap kondisi anak, tidak apa apa

5. anak saya 19 bln, suka melempar barang, nangis2 klo permintaanny gak diturutin…gmn sikap ibu seharusnya ya? (mba Nia)

Jika sudah polanya lempar barang, cegah sebelum terjadi. Di bawah dua tahun, kebutuhan anak belum rumit biasanya, jadi biasanya bisa kita kenali. Kita bisa gendong, atau tuntun ke tempat yang tidak terdapat barang yang bisa dilempar.

Jika sudah terlanjur di lempar, kita bisa refleksikan emosinya “Adek Marah ya, boleh marah, tapi ngga lempar lempar ya”

6. Kalau mengjadapi anak tantrum saat mau tidur atau terbangun tengah malam gimana ya?
Apalagi kalau tengah malam, si anak dalam kondisi yg sepertinya setengah sadar. Nangisnya bisa sampe 2 jam (Teh Vika)

Bunda Vika, jika mengamuk tengah malam, lebih baik bantu untuk menenangkan diri, jika masih 2 tahunan (biasanya ada masanya di usia 2 th 3 bulanan) digendong saja, Dipeluk, ayun ayun, untuk menenangkan, dan menidurkan kembali. Kalau usia lebih besar, kita bisa coba dibangunkan dulu anaknya.
Yang penting jaga diri kita, Jangan terpancing

7. Dari mbak marlia :
Pertanyaannya ,
Latihan kendali diri pada anak sudah saya terapkan seperti point2 yg mba lita share. Dan anak anak saya bisa mengendalikan diri kalo di rumah. Tapi kenapa kalo diluar rumah, misal lagi kumpul dgn keluarga besar, arisan dgn teman2 atau saat jalan2 di mall, anak-anak seringkali meminta sesuatu dengan merengek dan kadang sampe nangis kalo permintaan mereka ditolak. Bagaimana caranya supaya anak-anak jg bisa punya kendali diri ketika diluar rumah? Sikap kita harus gmn saat mereka merengek diluar rumah?
Terimakasih mba lita 😊
Sptnya anaknya nge tes konsistensi ortunya ya mbak lita

Wajar, anak mencari kesempatan untuk mencapai apa yang dia inginkan.

Karena jelas mengamuknya sebagai senjata, kita bisa tegas tidak memberikan yang ia minta, agar tidak menjadi pola. Lama kelamaan anak akan belajar bahwa dimanapun, kapanpun, sikap orangtuanya akan sama
Iya benar ngetes 🙂

Nina : Mbak lita bgmn tretment utk anak >12 thn yg tidak matang emosinya? Hrs dibw ke psikolog plus ortu nya juga kah

Lita : Seperti apa tidak matangnya. Lebih baik jika ada kesempatannya datang ke ahli (psikolog) untuk dibantu memetakan masalah dan solusi solusinya
Kalau tidak memungkinkan, coba Cek pola asuh apa yang menjadi sebab tidak matang, dan diubah pola asuhnya

Nina : Hal yg perlu diwaspadai mngkin ya terkait dg kematangan emosi

Lita : Pada Prinsipnya kita mendidik anak itu untuk menjadi dewasa ya? Salah satu parameter dewasa adalah kematangan emosi.

Di masa dewasa area masalah itu banyak yang berkaitan dengan aspek emosi. Misal dalam berkeluarga.

Jadi ketika ia dewasa dan tidak matang, maka hidupnya sulit sejahtera. Walau misal faktanya ia banyak harta
Atau faktanya ia lulusan terbaik misalnya. Banyak kasus keluarga yang akarnya di ketidakmatangan emosi

Di awal kehidupan anak, bagian otak yang berkembang adalah otak yang mengendalikan emosi. Jadi Idealnya fokus pengasuhan ada di aspek emosi Ini. Berikan pengalaman emosi sebanyak mungkin, termasuk pengalaman mengendalikan diri ini

Berkembang lebih dulu adalah otak emosi

Demikian, mohon maaf jika ada yang keliru dan tidak berkenan 👌

Nina : Alhamdulillah…kulwap kita cukupkan sekian ya bu ibu, jika masih ada pertnyaan bisa diposting di wall grup, insya Allah dijawab mbak lita seluang waktu beliau.

Insya Allah mbak lita masih disini ya mbak sampai besok sore?
Lita : Iya baik mba Nina
Nina : Jazakillah khairan katsiran ilmu nya mbak.

Sy tutup ya bu ibu…وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s