The Leader in Me

Tanggal Diskusi : 25 Agustus 2016, 21:00 –
Tema Diskusi      : The Leader in Me
Narasumber        : Teddi Prasetya Yuliawan
Moderator            : Anindya dan Nina
Notulen                 : Silvia Rahayu

**********************

PROFIL NARASUMBER

*Teddi Prasetya Yuliawan*

image

Teddy Prasetya Yuliawan

Suami dari Hijria Wimanda Rahma. Ayah dari Fayza Laiqa Riandi Putri dan Rayna Shafiya Riandi Putri. Campuran Kudus dan Pambuang Hulu, meskipun logat medhok saya sejatinya adalah ala Jogja. Sedikit-sedikit bicara Minang, sebagai hasil asimilasi budaya akibat menikah dengan mantan sahabat. lulusan SD Perguruan Rakyat 4-5 Jakarta. Lalu melanjutkan ke SMP Islam Al Azhar Jakapermai Bekasi. Kemudian menyelami pendidikan menengah atas di SMAN 81 Jakarta. Dan merantau ke Jogja untuk belajar di Fakultas Psikologi UGM.

Beberapa sahabat mengenalnya sebagai pembelajar Neuro-Linguistic Programming (NLP), akibat keisengannya dalam membuat milis dan situs Indonesia NLP Society. Sebuah komunitas virtual yang kini anggotanya berkisar 1000 orang. Sahabat lain yang ingin bertemu dan belajar bersama dalam kelas, biasa mengenalnya sebagai pendiri AntZ Institute, bendera yang menaungi kegiatan pelatihan Teddi Prasetya
Semenjak Mei 2005 hingga Februari 2012, ia tergabung di salah satu perusahaan asuransi kerugian terkemuka, Asuransi Astra. Dan per 1 Maret 2012, ia beralih karir menjadi full time facilitator bersama Dunamis Organization Services.

Buku yang pernah ia tulis ialah adalah “NLP: The Art of Enjoying Life”. diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama pada Mei 2010, kemudian direvisi dan diterbitkan kembali oleh Penerbit Serambi pada Januari 2014. Konon, karya sederhana setebal 500 halaman ini banyak digunakan oleh kawan-kawan pembelajar NLP sebagai referensi NLP berbahasa Indonesia.

September 2014, artikel-artikel terpilih di blog teddiprasetya.com telah diterbitkan oleh Penerbit Tiga Serangkai, dalam tajuk “#NasihatDiri: Menyelami Hidup dari Makna ke Makna”.
Bagi Anda yang senang berinteraksi di media sosial, mari berteman di Facebook, atau follow akun Twitternya di @teddiprasetya.

****************

image

The leader in me

PENDAHULUAN KULWAP

Resume Buku The Leader In Me

Banyak sekolah-sekolah di dunia yang telah menunjukkan peningkatan akademis yang baik dan mampu menghasilkan pemimpin-pemimpin berkelas dunia seperti A.B Combs Elementary, English Estates Elementary, Chestnut Grove Elementary, Dewey Elementary, dan lain sebagainya.

Setidaknya ada 3 (tiga) sifat universal penting yang melandasi hasil yang dicapai oleh sekolah-sekolah hebat di atas.
1.Prinsip kepemimpinan yang diajarkan di sekolah sejak dini.
2.Potensi unik anak-anak yang berbeda-beda yang digali dan dikembangkan.
3.Prinsip pendekatan di sekolah sama dengan pendekatan anak-anak di rumah, sehingga terjalin hubungan kemitraan orangtua-sekolah. Sehingga semua pihak, baik sekolah maupun orangtua akan bersinergi dalam meningkatkan potensi anak.

Sekolah-sekolah diatas telah membentuk kepemimpinan murid-muridnya. Bagaimana ini bisa berhasil? Sekolah secara rutin mengadakan pertemuan dengan para orang tua untuk meminta masukan dan berdiskusi tentang apa yang sebenarnya mereka inginkan dari pendidikan anak-anak mereka. Masukan-masukan ini akan sama-sama didiskusikan untuk mencari jalan keluar yang terbaik.

Selain itu, agar sekolah menjadi magnet bagi siapa saja dan dapat menjadikan murid-muridnya menjadi pemimpin yang luar biasa, sekolah-sekolah di atas juga meminta masukan dari kalangan bisnis tentang bagaimana cara mereka mendidik murid-muridnya agar sejalan dengan kemauan bisnis. Dari cara ini, sekolah akan mendapatkan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan dunia bisnis dan dapat disisipkan di materi-materi sekolah seperti integritas, inisiatif, keterampilan berkomunikasi, kerjasama tim, etos kerja, dan keterampilan analitis.

Namun, kedua hal diatas tentu akan menambah beban bagi guru, sebab ia akan melakukan hal ekstra di luar kewajibannya mengajar. Namun para guru di sekolah-sekolah diatas tidak merasakan hal ini sebagai beban, melainkan tantangan untuk meningkatkan diri dan kreativitasnya. Hal ini berhubungan erat dengan minat para guru untuk mengajar dengan tulus dan membuat perbedaan.

Sekolah-sekolah diatas sadar betul bahwa sekolah harus memahami betul apa yang diinginkan para siswa mereka, keinginan yang tidak terpenuhi di setiap rumah mereka. Sekolah-sekolah ini tidak saja mengajarkan keterampilan yang akan berdampak pada masa depan para siswa, tapi juga mengajarkan keterampilan yang akan berdampak pada masa depan para siswa dan prinsip yang memberi dampak langsung. Sekolah-sekolah ini berhasil karena mengerti betul apa yang diinginkan oleh pemangku amanah, orangtua, guru, kalangan bisnis, dan murid itu sendiri.

Visi sekolah ini adalah hidup, mencintai, belajar dan meninggalkan warisan.

Pertanyaannya, bagaimana A.B Combs mampu mencetak para pemimpin kepada siswa usia lima tahun di sekolah mereka?.Banyak cara yang dilakukan A.B Combs Elementary Schools untuk mencetak pemimpin-pemimpin hebat, diantaranya adalah:
•Mensosialisasikan visi sekolah di media-media sekolah yang mudah dilihat para siswa seperti ubin, mainan anak, dan lain sebagainya.
•Melakukan pendekatan pendidikan dengan mengajarkan makna 7 Habits karya Stephen R. Covey misalnya dengan mengubah lirik lagu, dll.
•Sedari dini, anak-anak diajarkan menggunakan tools-tools Problem solving seperti Force-Field Analysis, Lotus diagram, Fish bone, dll.
•Bercerita tentang pemimpin-pemimpin hebat di dalam kelas.
•Para siswa diminta untuk memantau kemajuan yang mereka capai dengan menggunakan data buku catatan, seperti membuat tabel kemajuan kelas untuk melihat prestasi mereka sebagai tim dalam meraih target kelas, dll.

Kesuksesan A.B Combs dalam membentuk anak-anak menjadi pemimpin adalah dengan menyelaraskan semua pemangku kepentingan dengan Misi, Visi dan strategi Perusahaan sebagai berikut:
1. Mengikutsertakan orang
2. Menyelaraskan struktur sekolah supaya cocok dengan strategi
3. Melatih staf 7 Habits dam prinsip kualitas
4. Menyelaraskan sistem pemberian penghargaan agar dapat memberu dan mempertahankan hasil yang diinginkan.

Bila sekolah ingin sukses dalam menciptakan pemimpin, maka harus diperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Masing-masing guru memberdayakan potensi siswa di seluruh dunia, setiap anak satu per satu.
2. Upaya seluruh sekolah dengan melibatkan semua pemangku kepentingan dan memberi kontribusi.
3. Penekanan pada fokus tentang apa yang paling penting untuk diajarkan.
4. Penekanan pada pengajaran prinsip yang tak kenal waktu dan keterampilan yang relevan dengan realitas global saat ini serta persiapan untuk apa yang akan ditawarkan hari esok.

Faktor kunci lain yang ditekankan dalam buku ini adalah:
1.Mendengarkan apa yang diinginkan pemangku kepentingan di sekolah dapat memberikan wawasan berharga tentang kebutuhan yang ada dalam ekonomi global.
2. Orangtua dan pemimpin bisnis menginginkan diajarkannya karakter dan kompetensi di sekolah.
3.Tema kepemimpinan dapat membantu meningkatkan kesuksesan akademis dengan menanamkan rasa percaya diri pada siswa dan dengan menciptakan lingkungan belajar yang aman.
4. Pendekatan ubiquitous dapat memasukkan karakter dan kompetensi ke budaya sekolah.
5.Penyelarasan semua hal yang terlibat dalam proses belajar-mengajar mendahului pelaksanaan dalam urutan kesuksesan.
6.Data dan pertanggungjawaban adalah pendorong signifikan yang melandasi kesuksesan sekolah kepemimpinan.
7.Setiap sekolah harus memiliki ciri khas sendiri pada strateginya untuk menjadikannya relevan secara konstektual.

*sumber : http://kolomhr.blogspot.co.id/2014/09/the-leader-in-me.html

***************************************

Pembukaan dari Narasumber

Ok.. sip.. kita mulai ya.. bismillah..
Kenalan.. saya Teddi.. di atas profilnya.. yang di bawah hasil iseng2 nulis..

image

Hasil karya

Diminta Ola malam ini berbagi tentang The Leader in Me.. mungkin ada yang sudah baca bukunya?
Kebetulan saya salah satu TLIM Consultant, di Indonesia lisensinya dipegang oleh Dunamis Education.. tiap negara hanya ada 1 perwakilan.. pemilik asli sistemnya adalah FranklinCovey
Saat ini sistem ini telah dipakai di hampir 3000 sekolah di seluruh dunia, 25 di antaranya ada di Indonesia, tersebar di Jakarta, Tangerang, Bogor, Bandung, Palembang, dan Denpasar.
Agar paham gambaran besarnya, rasanya saya ceritakan sedikit sejarah lahirnya sistem ini ya..
Sejarahnya bermula dari buku legendaris 7 Habits..
Di era 90an, sampai sekarang sebenarnya, buku ini adalah pegangan wajib untuk pengembangan kepemimpinan di korporat. Pernah ada masanya di Astra dulu ini bacaan wajib
Karena memang merupakan sebuah skema pengembangan karakter yang simpel namun komprehensif
Singkat cerita, ada sebuah sekolah di North Carolina yang saat itu statusnya adalah magnet school, mirip sama almarhum RSBI dulu di Indonesia, yang hampir dicabut statusnya, karena kekurangan peminat.
Kepala sekolahnya, Muriel Summers, mendapat masukan kalau sekolah itu mau bertahan sebagai magnet, harus ada yang diubah.
Mereka lalu melakukan riset kepada masyarakat, dan bertanya: apa yang Anda inginkan dari lulusan sekolah?
Mengejutkan, ternyata tak satupun jawaban adalah tentang hal2 terkait akademik. Semua menyebutkan tentang karakter.
Kebetulan di masa yang sama Muriel Summers mengikuti pelatihan 7 Habits dari Dr. Covey, dan bertanya, “Bisakah ini diterapkan ke anak2?”
Jawab beliau, “Anak saya Sean menulis buku 7 Habits Teens.”
Muriel: “Maksud saya yang lebih kecil lagi.”
Covey: Usia berapa?
Muriel: Mulai dari 5 tahun.
Jawaban khas Dr. Covey, “Saya tidak melihat itu tidak mungkin. Cari tahulah.”
Singkat cerita lagi, berbekal hasil survei, mereka menetapkan tema baru sekolah magnet mereka, jadi: Leadership. Dan cara mengajarkan kepemimpinan adalah melalui 7 habits.
Setelah sukses dan mendapat banyak penghargaan, banyak sekolah ingin belajar dari AB Combs, nama sekolah ini. Maka Muriel berkata ke tim FranklinCovey, “You owe the world to spread it.”
Jadilah tim riset diturunkan untuk memetakan proses, dan lahirlah buku TLIM edisi pertama beserta sistemnya di sekitaran 2008.
Dalam waktu 8 tahun sejak itu, sudah hampir 3000 sekolah menggunakannya.
Sistem ini telah disempurnakan 2 kali, yang sekarang dipakai adalah sistem 3.0
Saya sendiri, dari 25 sekolah, saat ini menangani 12 sekolah.
Tujuan akhir dari TLIM adalah membangun sekolah yang semuanya adalah pemimpin. Karena itu, kami menggunakan definisi kepemimpinan yang unik, berasal dari Dr. Covey.
Bagi sekolah TLIM, “Kepemimpinan adalah mengomunikasikan nilai diri dan potensi seseorang, sedemikian jelasnya, sampai ia bisa melihat itu dalam dirinya.”
Dari definisi ini, terlihat jelas siapa yang paling berperan dalam kepemimpinan..
Ya, ada 2 lembaga, namanya lembaga rumah dan sekolah.
Hahaha.. baeklah..
Nah, berbekal definisi tadi, timbul pertanyaan, bagaimana riilnya kepemimpinan itu? Seperti apa pemimpin itu? Kita perlu framework.
Jadilah dipilih 7 Habits sebagai frameworknya..

Omong2, sudah tahu apa saja kah itu 7 Habits?

1. Proaktif
2. Mulai dr yg akhir
3. Fokus pada yg utama
4. Berpikir menang menang
5. Mengerti sebelum minta dimengerti
6. Sinergi
7. Asah gergaji

7 habits dipilih sebagai framework karena alasan kepraktisan dan kemenyeluruhannya. Karena dia lahir dari riset Dr. Covey tentang kebiasaan yang dimiliki oleh orang2 yang keberhasilannya berkelanjutan.
Maka beliau sendiri mengatakan, “I didn’t invent the habits.” Semuanya sudah ada di alam. Kita semua sudah tahu dari sana sini. Beliau hanya merumuskannya saja.
Kalau dilihat, 7 Habits itu niatnya mengajak kita untuk bertumbuh, menaiki tangga kematangan, yakni dari Ketergantungan, menuju Kemandirian, menuju Kesalingtergantungan.
Manusia lahir tergantung, ia berusaha menjadi mandiri. Tapi mandiri, rupanya bukan tujuan akhir manusia. Puncak kematangan adalah kala kita bisa berkolaborasi, yakni saling tergantung dengan orang lain. Bahu membahu saling mengisi.
Untuk naik dari tergantung menjadi mandiri, ada 3 kebiasaan yang dibangun, yakni:
1. Jadilah Proaktif
2. Mulailah dengan Tujuan Akhir
3. Dahulukan yang Utama

Sedang untuk naik dari Mandiri menjadi Saling tergantung, 3 kita perlu punya 3 kebiasaan lagi:
4. Berpikir Menang-Menang
5. Berusaha untuk Mengerti, Sebelum Dimengerti
6. Wujudkan Sinergi

Dan agar keberhasilan terus berlangsung, perlu kebiasaan ke 7, yakni Mengasah Gergaji.

Terus terang, saya tahu 7H sejak lulus SMA, baca bukunya beberapa kali, ikut pelatihan 3 kali. Tapi belum pernah merasakan manfaat yang luar biasa, sampai saya melihat sendiri bagaimana ia digunakan untuk membentuk sebuah budaya.
Tahun 2012 saya berkunjung ke dua sekolah TLIM, saya tidak menyangka akan bertemua para pemimpin yang kecil2, mengajak saya keliling sekolah dan menjelaskan banyak hal tanpa bantuan gurunya.
Kalau 7 habits itu bicara habits, di TLIM inilah nyatanya. Di korporat, saya masih banyak melihat 7H sebagai sebuah jargon, tapi di sekolah2 ini, semuanya benar2 jadi nyata.
Detil 7H silakan dibaca di bukunya ya, saya tidak bahas di sini.
Lalu, bagaimana teori 7H ini benar2 jadi kebiasaan bahkan budaya?
Rupa2nya ditemukan ada 6 hal yang dilakukan oleh AB Combs, sang inspirator
Di sekolah itu, 7H tidak saja diajarkan dalam bentuk pelajaran, tapi benar2 diintegrasikan dalam banyak hal.
6 Pilar Perubahan Budaya itu adalah:
1. Modeling
2. Environment
3. Curriculum
4. Instruction
5. System
6. Tradition
Iya, habit nya cuma 7, tapi ia ada di mana2.. bukan hanya di buku pelajaran.
Pertama, ia diteladankan. Para guru setiap tahun menetapkan perilaku apa saja yang akan dikampanyekan oleh guru, dan bagaimana mereka akan meneladankannya. Misalnya, keramahan. Maka mereka menetapkan standar bagaimana ramah itu, senyumnya seperti apa, jabat tangan seperti apa. Untuk ini mereka banyak belajar dari The Essentials 55-nya Ron Clark.
 Kedua, ia ditampakkan secara eksplisit di tampilan visual-auditorial sekolah. Segala display, pajangan, gambar, semuanya berisi pesan2 kepemimpinan. Tidak ada satu tempat pun yang dibiarkan kosong tanpa pesan kepemimpinan.
Ketiga, ia diajarkan secara langsung, ada pelajaran 7H, dan diintegrasikan dalam SELURUH pelajaran. ya, SELURUH. Tiap lesson plan harus punya integrasi dengan 7H.
Keempat, gaya mengajar guru divariasikan, dipastikan agar ia menumbuhkan 7H. Active learning sudah sangat selaras dengan ini. Mereka juga pakai quality tools ala Malcolm Balridge, yang dipakai oleh perusahaan.
Kelima, sistem aka aturan2 yang berlaku di kelas dan sekolah, ditinjau ulang, dipastikan selaras dengan kepemimpinan.
 Keenam, tradisi sekolah seperti kegiatan2 juga diselaraskan dan dijadikan ajang membangun kepemimpinan. Sekolah TLIM punya tradisi unik namanya Leadership Day. Semacam open house, yang ketika itu 100% siswa terlibat.

Rerata sekolah mencapai tahap kematangan budaya antara 3-6 tahun. Sekolah yang sudah matang nanti digelari sebagai Lighthouse School. Saat ini baru ada 179 sekolah di seluruh dunia dari 3000 itu. Dan 3 di antaranya ada di Indonesia.
Insya Allah akhir tahun ini akan bertambah 2 lagi yang mencapai status ini.
Nah, sekolah TLIM adalah sekolah pembelajar, maka ortu pun diajak untuk belajar.
Pas banget, Dr. Covey memang pernah menulis buku 7 Habits for Families.
Karena anak beliau 9 orang, jadi layak lah menulis buku tentang keluarga.
Buku ini jadi pegangan sekolah untuk mengajak orang tua menerapkan 7H di rumah
Secara teori, budaya terbentuk karena common language. Maka ketika di sekolah anak diajarkan bahasa2 7H, di rumah ortu pun diajari bahasa yang sama, agar terjadi transfer nilai.
Kalau bahasanya beda, meski maknanya sama, bisa nggak nyambung.

Nah, 6 pilar tadi, di rumah juga bisa diterapkan.
Pilar keteladanan, “Apa perilaku yang ingin kita hadirkan dalam diri anak? Dan bagaimana kita akan meneladankannya?”
Pilar lingkungan, “Apa yang akan kita pajang di rumah, yang mencerminkan visi misi nilai keluarga kita?”
Pilar kurikulum, “Apa saja yang kita pelajari dan mainkan di rumah?”
Pilar instruksi, “Bagaimana gaya mengasuh yang akan kita gunakan?”
Pilar sistem, “Aturan apa saja yang akan kita terapkan?”
Pilar tradisi, “Apa saja yang akan kita rayakan di rumah?”
Nah, ini semua diselaraskan dengan karakter yang ingin dibangun.
Sungguh aneh jika kita mau ajak anak kita senang belajar, tapi uang paling banyak buat beli tupperware, alih2 beli buku.

Sebab kaidah dalam membentuk budaya, anak akan menilai apa yang dianggap penting di rumah, dari 2 hal: Alokasi Waktu dan Alokasi Uang

Uang paling banyak untuk beli apa, dan waktu paling banyak dipakai untuk apa, itulah yang akan tertanam sebagai nilai.
Nah.. segini dulu deh kira2..

TANYA JAWAB

Q :  Hi Ted, ….Mo nanya ttg mapping potensi anak sebaiknya dr umur berapa ya? Trus alurnya gmn? Anak sy yg pertama sekolah di salah satu skul alam di ciganjur, menekankan pengembangan kpemimpinan anak n karakter. Tp kok aq blm sreg mrs anakku disitu ya, krn sekolah agak kurang tindak lanjut dg masukan ortu. Nha, dr sini aq pengen metain potensi anakku itu, trus bs ga dr hsl memetakan potensi td buat menilai ulang apakah mmg potensinya bs dikembangkan di sekolah tsb? Makacii Ted.
(Dewi nuring)
A : Terus terang, saya bukan ahli soal perkembangan anak. Saya ini bidangnya adalah pengembangan budaya organisasi. Dan di TLIM, yang dibangun adalah budaya. Jadi tidak mendetil ke pemetaan potensi. Pemetaan potensi bisa pakai banyak cara, salah satunya Multiple Intelligence.
Kalau yang dibayangkan adalah anak terpetakan sejak dini potensinya, lalu diharapkan akan langsung tergambar masa depannya, maka bukan itu inti membangun karakter.
Potensi yang dimaksud dalam TLIM adalah potensi untuk memiliki kebiasaan2 yang akan memandu hidup jadi efektif, apapun profesinya kelak.
Kebiaaan proaktif, misalnya, akan menumbuhkan potensi bahwa kita selalu punya pilihan, apapun stimulus yang datang.
Kebiasaan mulai dari tujuan akhir, contoh lain, akan menumbuhkan potensi bahwa kita bisa mengembangkan diri sesuai dengan imajinasi kita, tak terkungkung oleh masa lalu atau keadaan.
Dan seterusnya.
Nah, sejak kapan ini bisa diajarkan? Di sekolah2 TLIM, sejak TK. Tentunya dengan cara dan metode yang sesuai dengan perkembangannya.
Tujuan akhir anak TK mungkin bisa sesederhana memakai sepatu sendiri. Proaktifnya bisa sesederhana menghabiskan bekal dari rumah.
Sekolah alam ciganjur itu Citra Alam kah? Sekolah bagus itu. Memang mereka tidak menekankan akademik. Bagi mereka akademik itu bonus. Hehe..
Begitu lah kira2 jawaban sementara ini.. nanti kalau dapat hidayah ditambah lagi..

Q :  Momod.. maaf lgs nyerobot.
1. Mas ted.. unt tau kalo programnya berhasil atau gak drmn? Kan sifatnya personal.. nah kl bentuk klasikal gimana?
2. Kl diterapkan unt anak dgn homeschooling gmn?
3. Ada korelasi gak TLIM dgn islam? (Olla)
A : 1. Ada alat ukurnya. Salah satunya dipantau pakai Leadership Notebook.
2. Homeschooling bisa pakai penjelasan penerapan di rumah tadi.
3. Buanyak.. hehe.. sekolah Islam seneng banget karena sekarang ada skema yang sistematis.

Q: pak teddi, efektif atau tdk apabla 7 habits dterakpn hanya pda 1 lembga (lembga rumah)..karena tidak semua sekolah menekankan kepada pmbntkan karakter, mash akademik dgn mengejar UKM. (rayi fitriani)
A:  Bu Rayi: Justru harusnya mulai dari rumah. Karena rumah itu lingkaran pengaruh paling dekat dengan anak. Sekolah harusnya adalah ‘vendor’ nya rumah.

Q:  Leadership notebooknya udah disesuaikan dgn umur anaknya gak? Berhubung yg dihadapin kan anak (Ola)
A: Tentunya.. meski frame work nya sama, LN untuk level TK dengan SMA tentu beda bentuknya.. tapi kaidahnya sama..
Yang diajarkan di TLIM itu kaidah.. sekolah mesti mengembangkan sendiri sistem yang cocok untuk mereka.
Makanya kami sebut TLIM itu proses, bukan program.

Q: Sekolah kudu di training dulu dooong..
Mahal gak tuh dpt peltihannya? (Olla)
A :Ya mahal lah.. kalau ga mahal mana serius? Hehe..
Dari 12 sekolah yang saya pegang, ada 5 sekolah disponsori oleh perusahaan. Dari 5 itu, 3 di antaranya negeri, dan semangatnya jauh dibanding yang bayar sendiri.

Q: Mas Teddy.. apa bs budaya itu yg sudah ditanamkan waktu kecil tiba2 berubah drastis.. kan banyak tuh skg yg begitu.. itu lebih karna apa? *maap klo pertanyaanya dodol ya.. 😅
A: Ya bisa lah.. lawong buibu yang dulu rambutnya item aja sekarang tetiba jadi pirang gegara nontoh korea tiap malem.. hehe..

Q: Jadi gmn mempertahankan semuanya? Smua model harus tetap?
A :Yes.. makanya dinamakan proses, bukan program. Kalau program, sekali jalan bisa bubar. Kalau proses, yang dibentuk adalah habits. Makanya perlu waktu. Tadi itu, range nya 3-6 tahun baru stabil sebagai budaya.

Q : Beda ya dg yg katanya kebiasaan bisa diseting dlm waktu 3 bln?
A: Ya kalau kebiasaanya cuma gosok gigi sih bisa, tapi kalau karakter macam proaktivitas, tentunya perlu waktu lebih panjang, apalagi mau dijadikan budaya.

Q : Emang nggak sebentar kalau ngebangun karakter mah ye, Revolusi itu mah (Rita)
A : Yoi, seumur hidup.

Q : Tapi sih ada yang udah dibentuk lebih dr 6 th juga ketika SMA lhaaaarrr brubahh
A : Kalau bubar, berarti budaya yang baru lebih kuat. Ya macam rambut pirang itu lah. Hehe..

Q : Malam pak..mau tanya, misalkan di keluarga kami sudah menerapkan poin penting 7 habits itu di rumah. ga ngikutin banget sih, setidaknya punya sistem yg mirip2. nah, bagaimana caranya supaya ‘orang baru’ yang berada di lingkungan keluarga, rumah atau sekolah bisa paham dengan sistem yang di terapkan di rumah kita?
A:  Gimana caranya supaya orang baru bisa paham? Diorientasi. Dikasih MOS.

Q : gimana caranya supaya anak yang sudah terbiasa menerapkan 7 habits, ketika ‘dilepas’ keluar, tidak terbawa lingkungan yang belum menerapkan 7 habits? misal ketika anak mulai sekolah, usia 7 tahun.
A : Gimana cara supaya pas dilepas tidak berubah? Tidak ada jaminan. Makanya dibilang proses. Makanya shalat 5 waktu sampai mati, nggak cuma sekali terus beriman selamanya. Makanya puasa tiap tahun.

Q : : wow..MOS macam apa kalau ternyata itu ortu atau mertua. hehe.
A: La di perusahaan juga sama. Gimana kasih orientasi direktur atau komisaris coba? Emang gampang? Kagak lah. Makanya perusahaan gaji orang HRD mahal. Buat ngurusin yang susah2 itu. Hehe..

Q : MOSsion impossible? ?(Rita)
A :  Ngajarin ortu susah? Ya sama, dulu ortu ngajarin kite juga susah. Hehe..
It takes a village, to raise a man, kata sebuah nasihat.
Kita cuma bisa kasih satu potongan kebijaksanaan pada anak kita, tapi Allah punya pelajaran lain dari alam, yang mau tidak mau akan masuk juga.
Jangan berprasangka buruk pada alam, ia punya tempatnya sendiri dalam diri ananak kita.
Diajarin sopan, tapi anak itu pasti akan ketemu yang berkata kasar dan menyakiti hati, karena dia punya peran terhadap orang seperti itu nanti.

Diajari ibadah yang rajin, tapi anak juga akan ketemu yang ateis, karena itu ladang dakwahnya.
Diajari nggak pacaran, ya anak akan ketemu juga temen yang pacaran, sebab dia akan jadi guru mereka.

R: Bukan di sterilkan tp dikasi imun yaaak

Q :  Pak teddi, kalo yg org tua sj masih bisa diajarin, berarti tidak ada kt terlambat dong utk pendidikan karakter anak?
A : Bukan tidak ada kata terlambat, ya itulah kerjaan kita sekarang. Hehe..
Mendidik karakter ga akan berhenti, bahkan sampai anak menikah..
Cuma beda cara aja, waktu kecil kita pakai cara yang direktif, waktu dewasa pakai dialog
Di TLIM ini, sebenarnya mengajak guru kembali pada fitrahnya mendidik karakter, apapun bidang studinya.
Guru matematika itu nggak hanya mengajar rumus2, karena rumus2 itu akan usang. Ia harus mengajarkan karakter di balik rumus2 itu.
Guru olahraga itu nggak hanya mengajarkan lari dan main bola, tapi determinasi di balik olahraga.
Kita pun sama, gosok gigi itu bukan soal gigi bolong. Ia soal menjaga amanah berupa tubuh.

Q : 1. Menarik sekali sudah ada sekolah yang benar2 menerapkan sistem TLIM. Kalo ada  sekolah yg mau menggunakan sistem ini gimana caranya (gambaran umum saja, mau saya promosikan ke sekolah anak saya😁supaya bersinergi antara sekolah dan rumah)
2. Pertanyaan kedua sama dengan mbak mariana. krn begitu menginap di rumah nenek saja, walahhhh sering ga karu2an, habit yang dibangun jadi bubar
3. Bagaimana menjaga konsistensi dalam membangun habit yang baik dalam keluarga. krn kita pun sebagai orang tua ada kalanya saat2 “kendor”. padahal itu bukan contoh yg baik buat anak ya, khawatir anak2 juga kenjadi ga konsisten. (Silvi Nov)
A:  1. Kasih buku TLIM. Kalau minat, undang aye mendongeng, gratis. Hehe.. Atau ajak ke sekolah yang sudah pakai dan jadi. Ada Sekolah Perkumpulan Mandiri di Menteng, Sekolah An Nisaa di Bintaro, Sekolah Kreativa di Bogor, Sekolah GagasCeria di Bandung.
2. Nenek punya potongan kebijaksanaan yang tidak dimiliki orang tua. Yang pasti, cara ortu memperlakukan nenek akan dicontoh oleh anak.
Serius. Saya baru nyadar, cara saya memperlakukan ibu saya, dicontoh oleh anak2 saya.
3. Manusiawi aja. Kalau salah minta maaf. Kalau melanggar peraturan ya ambil konsekuensinya. Nggak mungkin jadi manusia sempurna. Pak Covey bilang, 90% waktu kita akna keluar jalur, tapi karena tahu jalur yang benar, kita bisa kembali.

Q: 1.  Untuk homeschooling, belajar habits ini Dari Buku 7habits for families dulu y pak? Atau Buku the leader in me sendiri bisa di konsumsi public?
2. Untuk sekolah yg baru TLIM berarti proses nya btulan panjang ya krn guru juga baru belajar, orangtua juga baru belajar, anak juga baru belajar. Berarti sekolah punya andil yg cukup besar untuk merangkul ketiga aspek td. Biasanya andil sekolah untuk Ortu sejauh apa? Ada pelatihannya atau bagaimana? Krn aspek yg dikembangkan di Rumah tentu beda dgn di sekolah y
A: 1. Homeschooling ya dari buku.
2. Betul. Seluruh prosesnya bisa 3-6 tahun. Namanya juga bentu budaya. La nurunin berat badan aja bertahun2. Hehe.. Pelatihan dasar diberikan ke guru dan manajemen. Ke ortu dilakukan oleh guru.

Q : 1. Dari pengalaman pengamatan mas tedi,apa yg membuat sekolah tmil ‘ bertahan’ menjalani proses perubahan budaya ini sampai kemudian bs berhasil? Secara waktunya ga sebentar ya..  36-72 bulan..
Dan utk lingkup keluarga, apa yg bs jd pertahanan ini?
2. Ketika itu konteksnya di keluarga..which one is better..bertahan dan fokus pada perubahan 1 perilaku
dan kebiasaan meskipun itu lamaaa ,atau dlm batasan waktu tertentu ‘ beralih’ ke fokus perubahan perilaku yg lain?
A : 1. Misinya. TLIM hanya alat untuk mencapai misinya. TLIM tetap dipakai karena misinya kan nggak pernah kadaluwarsa. Sebaliknya, yang gugur karena misinya nggak kuat. Hanya ingin bisnis saja.
2. Satu dan semua. Karena ga mungkin juga kita hidup hanya dengan 1 kebiasaan. 1 kebiasaan jadi fokus, lainnya business as usual. Nanti yang 1 itu kalau udah matang akan menggeret yang lain.

PENUTUP

Saya mau nutup dengan 1 kisah dari Dr. Covey. Kisah ini terkenal, namanya Green and Clean. Singkat cerita, Pak Covey ingin mendidik anak lelaki tertuanya bertanggung jawab memelihara halaman. Mereka membuat perjanjian dan panduan. Namun di lapangan, rupanya sang anak tidak menjalankan komitmennya.
Sebagai ortu, tentu geram juga. Sementara anaknya masih sempat bermain2. Dan di sini jebakannya. Beliau jadi terpancing untuk marah.
Tapi lalu teringat pada tujuan akhir. “Raise boys, not grass.” Saya menyuruhnya memelihara rumput itu bukan soal rumputnya, tapi soal mendidik karakternya.
Nah, ini yang kadang saya sendiri suka lupa. Fokus pada apa yang diperintahakan, lupa alasan memerintahkan.
Membangun karakter musti sering2 mengingat misi, mengingat filosofi di balik setiap kebiasaan.
Selamat istirahat.
Salam..

TANYA JAWAB TAMBAHAN

Q:  Adakah sekolah di Jawa Timur yg sudah menerapkan TLIM? Kalau iya, sekolah apa dan dimana saja? Terima kasih (Nurul)
A : Belum ada.

Q : Ketika diterapkan di sekolah indonesia, apa saja kendalanya? Karena kan kalau dilihat (secara subjektif) karakter dan kecepatan perkembangan anak2 luar dan anak2 indonesia agak berbeda.. apakah di sini jg bs diterapkan di anak usia 5 tahun? Atau bahkan lebih muda? Apakah 5 tahun adalah minimim usia?
A :  Kendala utama: komitmen manajemen sekolah yang rendah.

Q: bagaimana cara penerapan TLIH ini di sekolah indonesia? Apakah ada penyesuaian dan perbedaan dgn budaya dan kultur yg berbeda? Apalagi guru2 di sini kadangkala kesejahteraan minim, dan tidak semuanya berpikiran terbuka serta mau mendapatkan “peer tambahan”. Pelaksanaan kurtilas sj banyak yg mengalami kesulitan.
Daaan gimana caranya bikin ortu mau terlibat secara aktif?(Melinda)
A: Kurtilas banyak kendala? Iya lah.. lawong bikin dan nyiapinnya asal.. hehe..

Q : Ada pertanyaan dr temen, pat teddy, bisa ngga dicontohin penerapan kepemimpinan anak? (Lintang)
A : Misal.. kebiasaan proaktif dijabarkan jd perilaku seperti makan sendiri, meletakkan sepatu di rak, membawa buku. Kebiasaan tujuan akhir dijabarkan jd menyusun cita2.. mempelajari karakter orang2 sukses.
Silakan baca buku TLIM utk detilnya

Q : Pak Teddy, bolehkah dirinci framework leadership sesuai perkembangan usia (dini sampai aqil baligh)?.. terima kasih 🙏 (Artri)
A : Wah.. ya ga bisa di wa.. hehe.. puanjang.. mosok minta rinci di grup wa.. 😁

Q:  pak teddy mau bertanya 🙋🏻 saya masih single jd ga tny ttg anak gapapa ya 😁TLIM itu kan The Leader in Me. Brti siapa saja bs jd leader ya bagaimanapun sifat karakterny dia. Krn sy cenderung plegmatis ato suka cari aman. Hehe. Apakah berarti sy ga bisa jd pemimpin? Atau sy yg harus menambahkan sifat2 sbg seorang pemimpin k dlm diri saya? Misal di pekerjaan menjadi atasan atau nanti dirumah akan jd istri dan ibu yg memimpin anak2 juga. Krn byk org bilang gaya bekerja kita pasti sm dg dirumah. Kl di tempat kerja lelet,mngerjakan tugas ga beres2. Dirumah juga lelet,setrika harusnya selesai 1 jam malah jd 3 jam. Maaf panjang sambil curhat jadinya :mrgreen: (rizka)
A : Lah.. salah grup ini. Ini bukannya grup Emak2?
Ok.. di TLIM.. semua orang pemimpin. Krn pemimpin itu bukan hanya ketua kelas atau kepsek aja.. tp orang dg 7 karakter di 7H itu..
Di sekolah TLIM.. setiap peran diberi nama leader.. krn leader of cleanliness.. leader of praying.. dll..

Q : Pak Teddy,tentang karakter org2 sukses dan kebiasaannya yg kemudian dijabarkan dlm perilaku sehari2,kira2 apa saja ya? Yg paling menonjol? Atau ada di jabarkan di bukunya juga? (Ratna)
A :  Sila dibaca buku 7 Habits..
Ada 3 versi buku 7 Habits.. silakan dibaca ketiganya..
Untuk diajarkan ke anak2 ada versi cerita judulnya 7 Habits of Happy Kids
Semuanya ada edisi indonesianya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s