Berdamai Dengan Masa Lalu

2 Mei 2015

Moderator : mba Nina dan mba Dilla
Narasumber : Innu Virgiani
Resume : Silvia Rahayu

Materi Awal

Berdamai Dengan Masa Lalu: Memaknai Hidup dengan Menerima dan Memaafkan

Oleh Innu Virgiani

Teman-teman,
Teman-teman -semoga Allah merahmatimu- kehidupan ini adalah sebuah kesempatan yang sangat berharga untuk kita. Jangan sampai kita sia-siakan kehidupan di dunia ini untuk sesuatu yang sia-sia dan mendholimi kita. Karena hidup kita sebentar saja, bukankah demikian? Allah ta’ala berfirman

“Seolah-olah tatkala melihat hari kiamat itu, mereka tidaklah hidup (di dunia) kecuali hanya sesaat saja di waktu siang atau sesaat di waktu dhuha.” (QS. an-Nazi’at: 46)

“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56).

Teman-teman,

berbicara tentang makna hidup, Allah menciptakan kita untuk beribadah kepada-Nya, sesungguhnya bukankah demikian makna hidup kita yang sudah sewajarnya?
Wallohu a’lam.

Dalam psikologi, teori tentang makna hidup dikembangkan oleh Victor Frankl.
Makna hidup merupakan proses penemuan suatu hakekat yang sangat berarti bagi individu. Pertanyaannya, Apakah kita selalu memaknai hal tersebut dalam aktivitas kita sehari-hari?
Apakah kita merasakan bahwa kita mendidik anak-anak kita juga untuk beribadah kepada Allah?
Apakah kita menyadari setiap kali kita menahan marah kepada anak-anak kita, bahwa Allah menyukai kita melakukan hal tersebut, dan kita melakukannya untuk mendapatkan ridho-Nya,beribadah pada-Nya?
Apakah kita menghayati, dalam melakukan penerimaan, pemaafan, kepada diri kita, masa lalu kita, orang tua kita, kita melakukannya untuk mengimani ‘takdir’ kita, untuk ridha pada ketetapan Allah, dan untuk beribadah kepada-Nya?
Apakah, ketika kita memiliki masalah dengan suami, kita dapat tetap berlemah lembut terhadapnya, karena Allah menyukai hal demikian dan kita melakukannya untuk mendapatkan kasih sayang-Nya, beribadah pada-Nya?
Apakah kita setiap kali merasa kekurangan, uang, ditipu orang, didholimi orang, kekurangan waktu, perhatian dari suami, orang tua, keluarga, capek, lelah, bosan, marah, malu, kesal, sedih, sakit fisik, hati, dlsb..

namun kita tetap mampu tegar bersabar dan bersyukur, karena kita memaknai itu semua dengan baik, bahwa sebagai muslim, seharusnya kita hanya dalam 2 keadaan, yaitu bersabar dan bersyukur, sebagai kondisi yang Allah cintai, dan kita melakukan itu, juga untuk mendapatkan rahmat-Nya, beribadah pada-Nya..?
Merasa memiliki masa lalu yang kelam dan tidak menyenangkan?
Mari kita gali lagi, sedikit saja, tentang Penerimaan dan Memaafkan =))

A. PENERIMAAN

Definisi penerimaan adalah penilaian positif terhadap kondisi dan keadaan yang diri, dengan mengenali kelebihan ataupun kekurangan diri, lalu individu tersebut mampu dan bersedia untuk hidup dengan segala karakteristik yang ada dalam dirinya, dengan merasa merasakan nyaman dan puas terhadap dirinya, baik di masa kini maupun masa lalu, serta yakin akan kualitas yang dimilikinya dan memahami keterbatasan dirinya.

Ciri-ciri Orang Yang Memiliki Penerimaan Diri Baik
– menerima diri sendiri apa adanya.. termasuk kehidupan di masa lalu
– tidak menolak diri sendiri apabila memiliki kelemahan dan kekurangan, toh manusia memang ngga ada yang sempurna, kan..
– punya keyakinan bahwa untuk mencintai diri sendiri, maka seseorang tidak harus dicintai oleh orang lain dan dihargai oleh orang lain, seseorang merasa berharga, maka seseorang tidak perlu merasa benar-benar sempurna.. cinta itu tulus lho.. =))
– memiliki keyakinan bahwa dia mampu untuk menghasilkan kerja yang berguna.

Mengapa Penting?
Ryff (1996) menjelaskan bahwa penerimaan diri penting bagi terwujudnya kondisi sehat secara mental.
Menurut Hurlock (1974), penerimaan diri menjadi salah satu faktor yang berperan terhadap kebahagiaan (happiness) agar seseorang yang memiliki penyesuaian diri yang baik (well-adjusted person).
Rendahnya penerimaan terhadap diri dapat menimbulkan gangguan emosional (Corsini, 2002).

Bagaimana menghadapi masa lalu yang tidak menyenangkan?
terimalah.. ikuti prinsip2 penerimaan diri (perhatikan definisi penerimaan lebih detail)..
pahami bahwa penerimaan itu apa adanya..masa lalu baik dan buruk diterima..masa lalu kita berharga karena masalah-masalah itu sesungguhnya membentuk kita menjadi pribadi yang kuat…

Penerimaan diri kita saat ini belum baik?
gapapa.. semuanya proses..semoga proses yang kita lakukan menuju arah yang selalu membaik..yang penting, sekarang udah dapat masukan tentang penerimaan dan semoga bermanfaat dan dapat dimanfaatkan dengan baik masa lalu mau dihapus?dibuang?dilupakan?apa gunanya?

kamu akan terus mengingatnya kok.. 🙂
orang tua yang tidak ideal mau disesali? Suami tidak sesuai harapan? Keluarga ‘berantakan’? Anak-anak susah diurus? Dll dll dll? Merasa membenci? Ingin menjauh? Stres, depresi?

Allah sungguh tau kemampuanmu… luasnya hatimu.. sehingga memberikan cobaan-cobaan tersebut. wallohu a’lam jadi? terima diri, terima masa lalu, terima orang tua kita, suami, keluarga dan semua yang terjadi dalam hidup kita karena semua yang terjadi pada kita, atas ijin Allah.. bukankah salah satu rukun iman kita adalah menerima takdir?

“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” QS. At Taghabun: 11.

B. MEMAAFKAN
Prinsip mulia Islam dalam etika berhubungan sosial dengan sesama makhluk terutama dengan seorang muslim:
Memaafkan Sebuah Kezhaliman Lebih Baik daripada Mendendam Dibawa Sampai ke Akhirat “…. dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nur: 22).
Memaafkan Harus Dibarengi dengan Perasaan Lapang Dada
“…dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada…” (QS. An Nur: 22)

ﻓَﺎﻋْﻒُ ﻋَﻨْﻬُﻢْ ﻭَﺍﺻْﻔَﺢْ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳُﺤِﺐُّ ﺍﻟْﻤُﺤْﺴِﻨِﻴﻦَ ] ﺍﻟﻤﺎﺋﺪﺓ : 13 ] “…maka maafkanlah mereka dan lapangkanlah dada, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al Maidah: 13).

Dalam psikologi, memaafkan merupakan aktivitas yang penting dan bermakna positif bagi diri seseorang. Mengapa penting dan bermakna? karena memaafkan ini memiliki banyak manfaat bagi manusia.

Manfaat dari memaafkan antara lain:
Rasa marah kronis dan permusuhan berhubungan dengan penurunan fungsi kekebalan tubuh, depresi, penyalahgunaan zat, status kesehatan yang buruk (Zechmeister, 2004). Hal ini juga dapat berhubungan dengan tingginya tekanan darah, dan masalah jantung (Enright, 2005). Worthington (dalam Lucia, 2005) mengatakan bahwa setiap kali seseorang merasa tidak memaafkan, ia menjadi lebih beresiko terkena masalah kesehatan.

Memaafkan dapat menurunkan kecemasan dan depresi, serta bermanfaat bagi kesehatan fisik (Enright, 2005; Zechmeister, 2004).
Memaafkan dapat mengurangi resiko terkena masalah jantung serta mengurangi permusuhan dan distress yang dirasakan seseorang (Lucia, 2005).
Memaafkan juga bermanfaat sebagai mekanisme penyembuhan dan pemulihan trauma (Orcutt dalam Worthington, 1999).
Orang yang memaafkan lebih mungkin mempunyai hubungan romantis dan persaudaraan yang stabil daripada orang yang tidak memaafkan (Worthington, 1998).
Perasaan dendam dan sakit hati dalam suatu hubungan intim atau hubungan dekat dengan orang lain dapat mengganggu hubungan tersebut. Melepas rasa tidak senang dan usaha untuk memaafkan merupakan satu hal yang penting untuk mempertahankan kedekatan dan hubungan intim dengan orang lain (Corey&Corey, 2006).
Memiliki fisik, emosi, dan sosial yang sehat menuntun seseorang ke arah hidup yang lebih bahagia seperti yang dikemukakan oleh Konstam (2000) bahwa selain dapat memperbaiki hubungan interpersonal, memaafkan dapat meningkatkan kesejahteraan (well-being), dll.

Sebelum memasuki term memaafkan, kita belajar tentang menerima..
Menerima, belum tentu memaafkan.. Namun menerima dapat merupakan bagian penting dari proses memaafkan.

Menerima dan memaafkan ini, bila dapat kita pahami dan aplikasikan dengan baik, insya Allah akan sangat membantu kita dalam mengatasi masalah-masalah yang terjadi dalam keseharian kita.

Ada banyak definisi tentang memaafkan, namun dapat disimpulkan bahwa memaafkan bisa terjadi jika orang yang disakiti melakukan 4 hal, yaitu: Tidak berusaha untuk menghindar/menjauhkan diri dari pelaku ketika bertemu Bersedia untuk tetap berkomunikasi ataupun berdamai dengan pelaku Tidak ada/hilangnya perasaan negatif seperti marah, benci, marah maupun dendam Disertai dengan rasa cinta, kemurahan hati, tanpa syarat Ingat juga untuk memaafkan diri kita atas kesalahan-kesalahan kita sendiri.. jangan jadi makhluk yang mendholimi diri sendiri…

Semoga kita juga mampu memaafkan kesalahan-kesalahan orang lain yang pernah menyakiti kita.. itu lebih baik untuk diri kita.. namun, biarkan kita memilih dan berproses yang terbaik…!

Pertanyaan
Tadi begitu membc materi awal sy sangat tertarik sekali krn spt nya banyak dr kita memang ada yg masih sulit utk move on dari masa lalu. Tp memang hal tersebut sangat sangat wajar ya mbak innu…?

Jawaban
Iya Mba Nina.. Move on itu butuh waktu dan adaptasi.. Tapi bagaimanapun memang harus ada waktu untuk memulai dan memberikan fokus untuk itu Kalau ngga dimulai2, ngga move on 2

Pertanyaan
Kenapa berbeda2 bagi tiap individu utk move on ya mbak innu?
bagaimana sebaiknya menyikapi orang yg tidak mau memaafkan kita? kadang jadi greget sendiri hadapinya saat kita sedang berusaha memaafkan orang itu… terus juga kita melihar sodara kita seperti tidak dimaafkan oleh keluarganya, setiap kesalahan dia yg berhubungan dgn “leletnya dia” dibicarakan terus ketika muncul lg sifaynya. sebaiknya bagaimana sikap kita? walaupun kita tau kalo ada benarnya keluarganya ngomong gitu dan memang dr diri sodara kita itu hrs sedikit diubah

Jawaban
Mba Maryam: sebenarnya, yang butuh diberi fokus adalah bagaimana diri kita sendiri, Kalau kita sudah memaafkan, kita juga sudah minta maaf, insyaa Allah, sudah cukup.. Tentang orang lain, biarkan dirinya yang berdamai dengan dirinya

Nah, terkait masalah orang lain, sebagai orang di ‘luar’ yang bermasalah itu sendiri, kita juga harus pintar2 memposisikan diri Jangan sampai keberadaan kita malah menambah ‘panas/runyam’ masalah tersebut.. Kalau mau memberi masukan, dan mampu melakukannya, insyaa Allah bagus sendiri, Nasehati pelan2 kepada saudara kita agar ia dapat menerima dengan baik, semangati, dukung… Begitupun dengan pihak keluarganya.. Jika tidak mampu menasehati pihak keluarganya, gapapa, tidak perlu memaksakan diri, tidak perlu merasa bersalah juga.. Doakan saudara kita dan saudara2 tersebut..

tangapan
ooh jd kita juga sebaiknya jangan ikut2an nasehati kalo tambah runyam ya, sebab saya sering mendengar omelan dr keluarganya ketika orangnya tidak ada, dan saya seperti yg dibebani untyk bantu memecahkan masalahnya, pdhl saya tidak begitu paham juga karakter, latar belakang dan sebaiknya berbuat apa. terimakasih mba innu👌🏻
Hm …menerima belum tentu memaafkan ….berat…adakah tips2 nya mbak innu

Jawaban
Kalau memang merasa tidak mampu, tidak paham, mengakuinya adalah hal yang lebih objektif.. =) Katakan saja, maaf Saya tidak begitu paham dengan apa yang terjadi dan tidak tahu bagaimana memecahkan masalah ini.. Jika Mba Mau dan bisa, Mba Bisa bantu saudara untuk memetakan masalah nya (kira2 masalahnya apa saja ya..) dan mencari apa saja alternatif yang dapat dilakukan untuk mengetahui bagaimana solusinya, dengan memberikan pertanyaan2.. Jadi biarkan saudara sendiri yang mencari jawabannya dengan bantuan pertanyaan2 Mba =)) jadi, mba Maryam tetap bisa membantu kan 😉

Menerima sekaligus memaafkan Berbeda dengan menerima sekaligus melupakan
Kita punya kemampuan berpikir dan mengingat yang begitu luar biasa dari Allah, Apalagi pengalaman2 yang begitu melekat dengan emosi, masuk menjadi ingatan yang saaangat mendalam untuk kita =) Oleh karena itu, yang dibutuhkan adalah bukan melupakan Tapi deal.. Menerima bahwa itu yang memang terjadi.. Udah terjadi, ngga bisa diubah.. Ga bisa diapa2in lagi.. Tapi yang jelas, kita insyaa Allah akan punya masa depan yang lebih warna warni dan lebih baik lagi.. Yang juga nantinya akan menjadi bagian dari masa lalu kita (kalau sudah dilewati) Jadi, daripada menyesal2 dengan masa lalu, lebih baik ‘Berdamai’ Karena nantinya masa lalu yang ngga menyenangkan itu akan ‘hanya’ menjadi salah satu dari masa2 yang pernah kita lewati.. Karena dalam perjalanan hidup kita akan banyak hal yang kita lalui

Masa’ kita hanya mau fokus ke yang itu2 aja 😉 Yuuuuk yuuuuk move on.. Pindah fokus ke hal2 lainnya yang mungkin lebih indah.. Lebih positif, lebih membahagiakan, lebih mendekatkan diri kita kepada Allah
Semoga bisa cukup dipahami ya..

Mba Maryam… Solusinya, biarkan saudara kita yang berpikir terlebih dahulu… Kalau sudah selesai semua ide keluar darinya, Baru deh kita ikutan ngasih solusi.. Misalnya bilang: waah ide2 kamu bagus2 banget.. Semoga bisa ya ngelakuinnya.. Mungkin tambahan sedikit dari saya, mungkin kamu bisa melakukan ini ini ini.. Menurutmy gmn?

Pertanyaan
Mba Innu, kalau sampai punya ketakutan masa lalu itu akan terulang di hidup kita mendatang itu artinya gmn y? Meski udh menerima, memaafkan gtu

Jawaban
Ketakutan2 akan menghadapi hal yang sama, Mungkin cenderung karena traumatis Tapi kalau kita lihat dari sisi yang lain, daripada melulu kepikiran tentang takut hal tersebut terulang lagi, Kita bisa berpikir: oh dulu mah aku udah pnah pengalaman menghadapi itu, jadinya kalau akan terulang lagi, insyaa Allah lebih ‘ahli’ deh menghadapinya Karena kita udah tau masalahnya apa aja Udah tau apa yang kira2 menjadi penyebabnya dan apa yang bisa kita lakukan Jd ya kalau memang terulang lagi, namanya takdir.. Ya hadapi.. — Namun sebelum takut, Tentunya ada antisipasi2 yang bisa dilakukan Jadi, bagaimana antisipasinya itu dulu yang harusnya kita perhatikan.. =))

Pertanyaan
Oh ya mbak innu, dari definisi penerimaan diatas, apa beda mengenali kekurangan diri sendiri dengan memahami keterbatasan diri?

Jawaban
Mengenali kekurangan diri: mencari tau apa saja hal2 yang merupakan kekurangan kita (hal2 yang kita tidak bisa lakukan, hal2 yang perlu kita latih lagi, hal2 yang perlu kita perbaiki lagi Memahami keterbatasan diri: pada dasarnya sama saja.. Kita kenali dulu kekurangan diri kita, dan dapat menerima kekurangan2 kita tersebut serta tau apa yang dapat kita lakukan untuk mengisi kekurangan kita tersebut, dg fokus pada apa yang dapat kita lakukan

Pertanyaan
Mba Innu,
Apakah menekan perasaan sedih, kesal, marah dan negatif laiinya yg dilakukan terus menerus berbahaya? Saya jarang sekali curhat. Kalau ada masalah sy pendam dan selesaikan sendiri. Kadang sy hanya mengadu saat ibadah. Kadang gatal ingin curhat, tp sy tipe org yg jika curhat pd seseorang sy rasa tdk begitu signifikan dampaknya sy memilih diam. Sy jg orgnya sulit mempercaya siapapun.
Bagaimana cara mengobati luka hati krn disakiti scr non verbal? Mendekatkan diri pada Allah sudah dilakukan. Bahkan kejadian 10 tahun yg menyakitkan masih bisa diingat, setiap ingat ia pasti menangis. Sejauh ini suaminya sebenerny baik rp jik sudah marah semua kata2ny menyakiti, memojokan, merendahkan, menyalahkan. Hal yg membuat ia bertahan krn ada 4 org anak. Ia jg ga tau msh cinta atau ga dg suaminya, tp klo suaminya lg baik dia ky malaikat. Oya ga pernah ada kekerasan fisik.

Jawaban
Emosi sebaiknya disalurkan ya Mba.. Bukan hanya ditekan =) Yah sekali2 ditekan mungkin oke, tapi kalau terus menerus, ngga jadi oke 😘 Jadi cari cara2 yang sesuai untuk meyalurkan emosi yang sedang Mba rasakan.. Misalnya kalau marah, ngga bisa ngomong baik2, curhat ke suami, ya cari ketenangan.. Jalan2 sebentar atau baca buku, atau melakukan hobi yang kita sukai sampai kita tenang.. Merasakan Marah, sedih, cemburu, dll itu normal, ngga salah, ngga dosa juga.. Yang ‘salah’ adalah kalau kita menyalurkan nya dengan cara yang salah Misalnya banting, lempar, merusak benda.. Menyakiti diri, menyakiti orang lain dlsb
Jika memamg ngga suka curhat, ga masalah, ga perlu curhat.. Kalau memang ngga percaya orang lain karena punya alasan yang adekuat juga gapapa Yang penting kita yakin kalau memang itu yang kita butuhkan dan diri kita oke untuk itu.. 😘👍

Cara mengobati hati karena kekerasan non verbal: Tidak mengingat2 hal tersebut Fokus pada kelebihan2 yang dimiliki oleh orang yang menyakiti Ucapkan baik2 dengan sungguh2 di depan cermin dan dalam doa2 kita kalau perlu.. Kalau saya memaafkan orang tersebut.. Ya Alalh bantu saya untuk dapat lebih baik lagi dalam menerima dan memaafkan semua yang telah terjadi.. Ya Allah bantu saya untuk lebih fokus pada hal2 baik, kelebihan, kebahagiaan yang diberikan orang tersebut pada saya.. Daripada hal2 yang menyakitkan hati.. Engkau yang Maha Pembolak Balik hati, ya Allah.. Tetapkan hatiku dalam kebaikan dan jalan yang lapang dan lurus dlsb.. Misalnya…

Pertanyaan
Mba Innu, Bagaimana jika persoalannya ada antara anak dan orang tua. Kekecewaan anak thd orang tua yg sulit dihilangkan. Semakin belajar dan tau ilmu2 pengasuhan pendidikan anak semakin menyalahkan orang tua dulu melakukan hal yg jauh berbeda dr yg ‘seharusnya’. Sikap ini berbahaya kah mba? Padahal seharusnya selama ortu hidup kita berbakti.. tp nampaknya sulitt sekali krn perasaan kecewa ini. Seperti merasa ortu sperti itu tidak berhasil. Pdhl ortu sendiri.

Jawaban
Yup, cukup atau malah sangat berbahaya, Bunda…
Karena ilmu pengetahuan bertujuan untuk hikmah dan perbaikan diri yang jauh lebih baik lagi.. Bukan untuk sombong, sok pintar, atau malah menyalahkan orang lain yang tidak lebih tau dari kita =) Wallohu a’lam..
Karena bagaimanapun.. Tanpa alasan harus begini atau begitu, Orang tua sudah Allah berikan tempat yang sangat istimewa untuk disayangi dan dihormati oleh anak2nya… Ibu.. Ibu.. Ibu.. Dan Ayah..

Pastinya memang rasa kesal, benci, menyesali, marah tidak puas, muncul dari dalam diri kita Namun kalau kita telaah lebiiih dalam lagi, Sesungguhnya orang tua kita itu Memang punya banyak keterbatasan yang mungkin lebih banyak dari kita Kalau kita sekarang akses informasi dan ilmu2 yang baik cukup mudah.. Kalau jaman ortu kita dulu? Coba berikan banyak kelapangan dan pengertian untuk posisi mereka Tidak mudah, memang Sangaaaat sangaaaat tidak mudah Karena kekurangan kita secara tidak langsung, memang banyak dipengaruhi oleh orang tua kita

Tapi sekali lagi, ilmu seharusnya membuat manusia menjadi lebih ‘baik’ lebih memahami, lebih ‘manusia’…
Pelan Mba.. Pelan pelaaan saja.. Coba buka hati lebih lapang dan luas Lebih memaklumi orang tua Dan lihat banyak sisi positif mereka yang mungkin selama ini tertutup mendung di hati kita Lihat baik2 kerut2 wajahnya saat ini Yang mungkin kerut2 itu juga karena kita Karena mendidik kita semaca kita kecil Wallohu a’lam

Lihat lebih dalam lagi Kalau selama in Sesusah apapun mereka Mereka masih mau ‘menampung’ kita Membesarkan kita Bukan meninggalkan kita begitu saja Atau malah menghilangkan nyawa kita begitu kita lahir

Keberadaan kita saat ini Kehidupan kita saat ini yang mungkin jauuuuuh lebih baik dari kondisi orang tua kita Bukan tidak mungkin karena doa2 mereka untuk kita Yang kita tidak pernah tau
Orang tua kita mungkin tidak terbiasa mengucapkan perasaan kasih sayang, cinta, dukungan dlsb Tapi bukan berarti mereka tidak sayang.. Mereka hanya tidak tau.. Karena mungkinkehidupan yang keras membuat mereka tidak punya kesempatan untuk tau dan belajar tentang itu…

http://jendelaummahat.blogspot.com/2014/05/cerita-bunda-asih.html?m=1
Mungkib link ini bisa sedikit membantu.. 👆🏻 Semoga bisa dibuka ya Bunda..
Semangaaat…!
Barokalloohu fiiik…

Tanggapan
Jd kita yg sudah tau ilmu2 terbaru, harus yg bersabar dan bukannya jadi penuntut ya mbak…?

Jawaban
Iya Mba Nina.. Bersabar dan berdiskusi baik2 dengan orang tua.. Kalau tidak bisa, sebaiknya diam dan trus kuatkan kesabaran.. Ikhlaskan… Insyaa Allah akan lebih banyak pahala kebaikan untuk kita daripada menyakiti hati mereka..

Sulit mungkin tapi yakinlah insyaa Allah bisa…!!!

Pertanyaan
jd saya nih ceritanya rada sakit hati sama media2 di indonesia yg suka nyebar berita hoax, fitnah dan mecah belah. jd skrg saya rada skeptis dan udah mikir “hmm pasti ulah kelompok ini” dan traumatis krn keluarga sempat ada cekcok gara2 berita gak jelas2 begitu… jd sebaiknya sikapnya gimana ya? sama2 soal memaafkan juga bukan ya? ini penyakit hati juga bukan ya?

Jawaban
Jadi sebenarnya, ketika menghadapi lingkungan/ dunia kita, penting bagi kita untuk punya filter yang baik: Misalnya Ini masalah kita atau masalah medsos Ini masalah yang bisa dihindari keluarga atau masalah yang ‘dibuat2’ dalam keluarga =)
Nah karena sudah terjadi, Ya sudah apa boleh buat.. Coba deal dengan hal tersebut.. Dan minta maaf duluan (kalau Mba mau ya..) =))

Mungkin sekarang bisa lebih bijak lagi dalam membahas isu2 luar tertentu Karena sayang sekali kalau kondisi keluarga yang tadinya harmonis jadi kurang kondusif karena masalah hoax di medsos
Kalau sulit, mungkin bisa minta bantuan anggota keluarga lain untuk membantu mendamaikan..

Semoga masalahnya segera clear ya Mba 😘✅

Closing Statement

Alhamdulillaah kalau diskusi hari ini sudah selesai, Semoga ada manfaat yang bisa diambil.. Mohon maaf jika ada kekurangan dan kesalahan.. =))
Kita, Manusia Makhluk Allah yang paling sempurna dibandingkan makhluk lainnya, Namun sebaik2nya manusia, tetap saja tidak ada yang tidak pernah melakukan kesalahan Sehingga sudah sewajarnya jika minta maaf dan memaafkan..
Berdamai dengan diri sendiri dan orang di luar diri kita, menjadi bagian penting dan sulit dipisahkan dalam kehidupannya..
Memaafkan lebih baik daripada menyimpan benci dan dendam
Mengikhlaskan lebih baik daripada menghitung2 hutang dan menumpuk luka
Karena yang sudah terjadi, tidak bisa diubah
Namun masa depan bisa diubah Dengan tangan, kaki, mulut, dan hati kita sendiri
Trus semangaat Emak2 Kekinian
Semoga Allah mudahkan kita mewujudkan hidup kita yang benar2 kekinian,
untuk masa kini dan masa depan yang baik Bukan ‘kejadulan’ (karena masa lalu), dan masa kini dan depan kita pun malah menjadi cenderung suram Wassalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakatuh =)) ✅

Diskusi Tambahan

Pertanyaan
Mbak Innu mau nanya juga dong mbak. Sering sekali Dhian merasa ga suka sama diri dan sifat Dhian. Suka sebel sama diri sendiri. Apakah itu sehat mbak punya perasaan kayak gitu?

Tanggapan (Indra Fathiana)
Suka membandingkan dgn org lain kah mba dhian, Dulu saya gitu hehe.. skrg mayan membaik. Mba dhian dan zuhay coba cek konsep pribadi ideal atau self image ideal yg mba2
Kalau ada tuntutan ke arah sana dr external atau internal biasanya jd suka ga puas
Atau keseringan dpt feedback negatif yg tdk bs kita kelola
I was soalnya 😅
Oh hehe.. jgn lupa apresiasi diri jg ya mba. Iya.. kita eh aku deng terbiasa melihat sisi negatif bahkan ke anak jg jadinya Pdhl capaian2 positif jg perlu diapresiasi, sekecil apapun. dulu konsep diriku jd rusak.. jd minder akut
Misal kita larang anak2 naik2 sofa di rmh org. Lain kali pas dia duduk tenang, kita ga puji

Tanggapan (Dhian)
Jadi menurunkan kepercayaan diri efeknya. Kayak misalnya, duh kok aku shalatnya ga bener sih, kok aku ga sabaran sih jadi orang, kok suka banget ngomong ga enak ke orang lain. Terus takut banget besok punya anak sifatnya kayak kita.

Jawaban (Indra Fathiana)
Nah. Kenanya ke konsep diri tu. Mba dhian coba kumpulin pengalaman positif ada pastinya kan..Kalo blm bs coba minta teman dekat atau suami ngasi komen hal positif yg qt punya
Ada istilah learned helplessness.. Kalo kita berulang mengalami hal – dan pas kitanya fokus disitu trs, suka muncul rasa down

Tanggapan
Eh eh klo merasa gtu.. sbnernya bth g sih penghargaan dr orang utk akhrnya bs “ngeh” sm prestasi kita meskipun kecil? Orang jgn ngarep dr org mana mana.. org terdekat gtuu

Misalnya td mba dhian mrasa ih kok gw g sabaran bla bla bla. Tp org trdekat bs apresiasi dgn “tp km bs masak kok, rumah km rapih tuh, artinya km g sburuk yg km kira

Jawaban (Indra Fathiana)
Boleh aja kok mba. Ada yg namanya Johari Windows..
Jd diri kita itu terbagi jd 4 Bagian
yg aku tau, org lain tau..misal aku sadar aku jago nulis, dan org lain jg mengakui itu Aku tau, org lain gatau..
misal aku punya bakat masak, tp org lain ga byk tau Aku ga tau, org lain tau..
misal org melihat kita punya potensi dlm hal public speaking, tp kita blm sadar Aku gatau, org lain gatau..
misal ttg kematian

Jd memang kadang2 kita butuh org lain utk memberi masukan, nasehat dsb utk melihat sisi yg qt tak bs lihat
Atau sekedar butuh penguatan pun tdk

Jawaban (Innu Virgiani)
Assalamu’alaikum Teman2, maaf baru bisa bergabung lagi,
Masyaa Allah seneng banget baca diskusinyaa..
Mba Indra 👍👍👍👍😍😍😍 Mba Dhian: sering merasa ngga suka dengan sifat dan diri sendiri. Suka sebel sendiri. Apakah sehat punya perasaan demikian?
Nah, kalau Mba telaah lagi, yang Mba Dhian kira2 ngga suka, sebenernya, apakah memang sesuatu yang pantas disebelin apa ngga ya?
Wajar ngga kalau Mba suka dengan diri Mba yang begitu?
Misalnya: Ga bisa jaga omongan? Jari menyakiti hati orang lain?
Kalau itu, menurut saya masih sangat wajar..
Sehat ngga?
Insyaa Allah sehat..
karena Mba masih bisa berempati terhadap orang lain yang mungkin Mba sakiti.. Masih bisa cukup objektif menilai diri (sadar kalau salah), Dan mau berbesar hati mengakui kesalahan diri..
Alhamdulillaah Allah masih merahmati Mba Dhian dengan perasaan2 untuk mengkoreksi diri, ngga cuma perasaan sombong, benar sendiri, dlsb..
Dan semoga juga diiringi dengan perasaan dan perilaku untuk terus memperbaiki diri.
Sebel untuk sesuatu yang masih bisa diperbaiki dan kita mampu melakukannya insyaa Allah bagian dari proses belajar dalam hidup kita.
Karena belajar memang terus menerus. Kalau sesekali kepeleset lagi, kepeleset lagi, ya gapapa, namanya manusia.. =)
Namun, kalau sebel karena sesuatu yang tidak bisa kita ubah lagi, Misalnya: kenapa sih lahir dari ortu yang begini dan begitu, kenapa wajahku.. Fisikku kurang ini kurang itu dlsb, itu berarti kita masih butuh waktu atau kesadaran untuk menggali dan mengumpulkan syukur & hikmah yang masih berserakan..

—–

Hanya saja, kalau perasaan sebel Mba Dhian terjadi terus menerus tanpa ada perubahan sekeciiil apapun.. Sehingga Mba benar2 menjadi ngga berdaya..Merasa diri salah terus menerus, stres, sampe kehilangan energi, ngga semangat hidup, males makan minum, males beraktivitas, ngga produktif, ngga tidur2 atau malah kebanyakkan tidur, depresi,
Atau ngga seperti di atas
Tapi Mba pada akhirnya dikucilkan dari pergaulan sosial, teman2 menjauh..Mungkin Mba Dhian perlu melakukan suatu perubahan yang signifikan..

Kalau kita ngga bisa ngubah lingkungan untuk jadi yang kita mau, Berarti diri kita yang harus diubah… =)
——-
Namun apapun, yang sudah berlalu ngga bisa diubah..
Mau ngga mau, memang yang terbaik adalah menerima dan memaafkan diri..
Lalu punya makna yang POSITIF untuk itu: misalnya aq pnah salah tapi insyaa Allah itu merupakan kebaikan sebagai pengingat kalau aku musti ati2 lagi.. Dll dll Dan kalau ternyata hal ini juga berpengaruh thd kepercayaan diri, dan ngga bisa menghargai diri, dholim sama diri sendiri, takut kalau anak2 juga begitu.. seperti yang Mba Indra sudah bahas sebelumnya, mungkin Mba Dhian bisa memperhatikan tentang konsep diri.. Dan jendela johari juga..
Mungkin bisa lihat disini:
http://jendelaummahat.blogspot.com/2014/05/mengenal-diri-melalui-konsep-diri-dan_10.html?m=1
http://jendelaummahat.blogspot.com/2014/09/epilog-konsep-diri-membentuk-konsep.html?m=1

Tiap manusia punya kekurangan dan kelebihan..
Begitu banyak kekurangan kita, tapi pasti ada hal baik yang sudah kita lakukan juga
insyaa Allah Hargai diri sekecil apapun itu Kalau ngga bisa, Coba ganti sudut pandang melihat diri kita =) insyaa Allah bisa..
Kalau kita kurang2, perbaiki pelan2 Kalau memang kita salah, minta maaf..
Minta ampun sama Allah juga.. Semoga Allah mudahkan kita untuk memperbaiki diri.. Soalnya kalau cuma dipikir2in doang tanpa ada perilaku berarti yang nyata juga kurang oke.. Jangan ragu juga minta pendapat orang lain ttg kelebihan2 kita sehingga kita bisa lebih objektif menilai diri kita dan bisa bersyukur sehingga nikmat untuk kita juga lebih banyak dengan rasa syukur tersebut. Semoga cukup menjawab ya Mba Dhian =)) ✅

Pertanyaan
Mbak innu, bgmn cara berdamai dg diri bila masalahnya adalah suami yg diktator, beragam keputusan RT didominasi oleh suami. Suami pny sifat defensif pula. Akhirnya istri hopeless. Kapan kita hrs fight demi kewarasan kita dan kapan kita hrs berdamai dg takdir?

Jawaban
Kalau istri sudah sampai pada hopeless, berarti memang ada sesuatu yang ‘harus’ diperbaiki dalam diri suami. Dan dalam hubungan pernikahan, kebahagiaan memang buah dari usaha masing2 suami-istri, ngga bisa suami doang atau istri doang.. Tiap istri/suami, punya hak dan kewajiban yang sudah jelas walau ngga tertulis semua di atas kertas bersegel. Kalau suami sudah melanggar hak dan istri tidak bisa ditolerir, berarti sudah dholim, dan istri perlu memperjuangkan hak nya tersebut. Kalau istri tidak bisa memperjuangkan hak nya sendirian karena ‘keras’nya suami, minta bantuan pihak lain yang dianggap lebih bijaksana, adil, dan dihormati suami. Atau cari bantuan ahli jika dirasa butuh.. Konselor pernikahan, ustadz, ikut pelatihan parenting, dll — Kapan harus berdamai dengan takdir? Kalau dengan takdir yang sudah terjadi atau ketetapan2 Allah yang sudah pasti ngga bisa kita ubah (misalnya, ajal dll), kita memang ngga ada pilihan lain selain menerimanya Mba.. Berdamai.. Namun untuk hal2 di masa mendatang yang belum terjadi, yang bisa kita ubah dengan usaha dan doa demi perbaikan kualitas hidup kita di dunia dan di akhirat, kita masih harus terus mengupayakan semampu kita. ✅

Pertanyaan
ada sebuah kisah ttg seorang anak yg punya ibu yg luar biasa. Luar biasa sabarnya krn sejak awal menikah smp bercucu sll berhadapan dgn kebohongan suaminya. Mulai dr WIL yg resmi (suami nikah lg) dimana2 dgn lbh dr 5 org (gonta ganti maksudnya, patah tumbuh hilang berganti), kebohongan finansial (hingga spt layaknya sapi perahan bg suaminya)…suami pamit krj dimana2 tp hasilnya ga ada yg netes ke klg dll….kebohongan yg tak terhitung lagi. Suami adalah ayah yg baik bg anak2nya, sang anak sangat mengidolakan si ayah smp ketika mereka lulus SMU barulah terbuka kebohongan sang ayah yg di ungkapkan oleh tante nya (si ibu berhasil memendam rapat sgl kebohongan si ayah n sakit hatinya di telannya sendiri).
Smp akhirnya sang ibu sakit kanker n berakhir dgn wafatnya sang ibu tanpa perawatan yg optimal dr suaminya slm sakit. Hanya anak2 n saudara yg optimal mendampingi sang ibu slm beliau sakit hingga hatus bolak2 di rawat belasan hingga puluhan hari di RS setiap bulannya.
Ketika sang ibu wafat, si anak merasa luka sang ibu begitu dalam merasuk ke jiwanya. Sekalipun sang ayah tak pernah kasar n menyakiti anak2 nya, selalu terlihat baik.n sayang pd anak cucu, namun kepedihan hati sang ibu tak bisa terlupakan begitu saja seiring waktu berlalu.

Pertanyaannya adalah…
bagaimana agar si anak bs menghapus dendam masa lalu pd sang ayah yg seolah telah menorehkan kesusahan n luka yg begitu dalam pd diri sang ibu dan perasaan itu seolah dirasakan jg oleh sang anak, pdhal si anak pribadi tak pernah ada masalah dgn sang ayah secara langsung. Sang ayah kini sdh menilah lagi n si anak menerima ibu tirinya dgn baik bahkan berterima kasih n sangat respect kpd ibu tirinya yg telah berkenan menerima n merawat ayahnya.
Bagaimana saran mb.innu untuk si anak??

Trimakasih banyak mb.innu🙏🏽🙏🏽🙏🏽

Jawaban
Bismillaah, mungkin anak bisa berempati pada Ibu..
Apakah itu yang Ibu inginkan.. Agar anak dendam pada ayahnya? Apakah ibu bahagia jika anak merasa seperti itu pada ayah? Padahal bertahun2 ibu telah berusaha semaksimal mungkin menutup luka dari anak2nya agar anak2nya tetap bahagia.. Tetap bisa berhubungan baik dengan ayahnya.. Karena kebahagiaan anak adalah kebahagiaan ibu.. Sehingga Ibu selalu ingin anak2nya baik2 saja..

Saya cukup paham jika anak tentunya sangat mencintai ibu sampai akhirnya bisa merasa demikian.. Tapi bagaimanapun kita perlu lebih objektif dalam memilah suatu masalah Apakah masalah itu adalah masalah kita atau bukan Dan dalam hal ini, yang bermasalah adalah ibu ayah.. Bukan anak-ayah

Secara umum, Mungkin Allah tidak akan menghukumi apa yang ada di hati kita ya.. Jadi kalau kita merasa dendam pada ayah namun perilaku kita tidak demikian secara tersirat, sebenarnya tidak apa2.. Wallohu a’lam Namun, gangguan yang ada pada hati bisa sangat mempengaruhi kondisi fisik kita.. (Sudah saya lampirkan di materi) Sehingga luka ini sebisa mungkin perlu disembuhkan dengan melihat sisi2 positif ayah.. Bukan hanya fokus pada besarnya kesalahan ayah kepada ibu.. Kesalahan ayah biarkan ayah yang bertanggung jawab dan menerima segala konsekuensinya Tugas kita sebagai manusia, bukan menilai orang lain baik/buruknya.. Tapi melakukan apa yang sudah sewajarnya kita emban.. Mungkin saat ini, anak tersbut sudah menjadi seorang istri dan ibu juga.. Sehingga fokus pada kebahagiaan hidupnya saat ini dengan pasangan dan anak2 insyaa Allah jauuuh lebih baik daripada ‘membenci ayah’ dan lebih sesuai dengan harapan2 Ibu… Wallohu a’lam.

Tanggapan
Mbak innu ada lagi pertanyaan yg mirip dg yg diatas. Tp figur ayah ini melakukan kekerasan verbal ke anak. Apakah tretmentnya sama atau berbeda mbak? Sebentar sy copaskan yaaa

Saya punya ayah yg sudah berpisah dengan ibu sejak saya masih berusia 4 tahun. Persoalan KDRT dan tidak menafkahi. Bukan hanya ke ibu saya, tp ke kami juga, anak anaknya. Hak wali anak jatuh ke ibu. Sejak berpisah, bisa dihitung jari ayah kami menemui kami. Nah setelah sekian lama, ayah saya sudah menikah lagi, ibu saya juga demikian, namun kenapa rasa sakit hati krn tidak diinginkan dan diabaikan masih ada sampe sekarang ya? Padahal saya sudah berusaha menerima ayah saya apa adanya, berusaha memaafkan. Tapi sampe sekarang ayah saya tetap ga peduli dengan kami. Setiap kami berkunjung ke rumah ayah, selalu yg diceritakannya kenangan buruk kami, ttg kenakalan masa kecil kami. Kayaknya di mata ayah ga ada yg bagus dr kami. Hal ini menyulut sakit hati lagi dan membuka luka lama. Di sisi lain ada kewajiban birrul walidain. Tapi hati rasanya masih marah. Ada semacam dendam, ketika ayah meminta tolong utk membantu anak dia (adik tiri saya), di batin saya “dulu kemana pas kami butuh bantuan? Kenapa sekarang disaat butuh baru datang?” Gimana ya caranya mengatasi ini? Sampai detik ini ayah ga sedikitpun peduli, meski hanya utk tanya kabar soal cucunya.
😬 sudah menjd masalah ayah- anak yg kronis
Akut malah…

Tanggapan(Indra Fathiana)
Ada akhwat yg mengalami hal sama. Tapi dr ibunya. Dia gatau teknik apa yg bs bikin damai. Cuma berdoa sepenuh hati dan pasrah, “ya Allah ajarkan aku mencintai ibuku dg tulus”

Jawaban (Innu Virgiani)
Mungkin pada dasarnya cukup sama ya Mba.. Memilah milih lagi apakah hal tersebut merupakan masalah kita/bukan.. Karena kalau dilihat2 yang bermasalah sebenarnya memang ayah, yang suka membuka luka lama di saat kita berusaha keras untuk memaafkan

Kalau di teori tentang makna hidup, dalam situasi apapun, termasuk situasi sangaaat sulit sekalipun manusia tetap punya kemampuan untuk memilih merasa bahagia atau tidak.. Dan bagi kita, Umat Islam sudah Rasulullaah berikan petunjuk, kalau setiap keadaan kita baik.. Di saat susah kita bersabar, itu baik bagi kita.. Di saat senang kita bersyukur.. Dan itu juga baik bagi kita.. Hanya saja memang untuk sabar, syukur, objektif, melihat segala sesuatu dengan positif ngga selalu mudah.. Butuh faktor2 pendukung.. Dan juga mungkin seringkali ada ‘ujiannya’ juga.. yang ujian itu yang seringkali sulit sekali untuk kita lalui.. Sehingga sabar dan syukur itu ngga sesederhana kalo kita tulis di facebook Makan malam dengan keluarga #bahagiaitusederhana

Kalau tentang problem solving Mungkin kita bisa fokus pada masalah saat ini.. Tanpa melibatkan masa lalu — Ayah minta bantuan? Fokus mikir kesana.. Bisa bantu apa ngga? Kalau bisa.. Bantu.. Ikhlasin aja.. Semoga Allah berikan pahala kebaikan yang banyaakkk Kalau ngga bisa.. Ya bilang ngga bisa.. Tanpa perasaan beban ini dan itu.. Kalo bisa, tapi ngga mau bantu? Ya gapapa juga.. Bilang aja ngga bisa ada kebutuhan penting lain (yah, ngga bohong juga kan.. Makan anak2 sehari2 juga penting).. Daripada bantu, ngga ikhlas, kita yang rugi juga 😘

Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya, memang butuh teknik juga, ya Mba Indra.. Gmn teknik berkomunikasi efektif, Manajeman stres, manajemen marah.. Manajemen memaafkan.. Keterampilan intrapersonal, interpersonal, empati dlsb.. >tapi mungkin ngga segitunya juga, kalau kita bisa objektif memetakan masalah Siapa yang bermasalah-kapan-apa yang harus dilakukan dlsb

Yang bisa saya share sedikit disini mungkin lebih ke teknik memaafkan diri sendiri dan orang lain Yaitu dengan relaksasi (membuat tubuh kita nyaman) Dan memberikan keyakinan pada diri sendiri di depan cermin..
Ucapkan.. Dengan senyum..
Misalnya: aku oke kok karena…………..
Atau aku dan ayah sebenarnya baik2 aja kok..
Mungkin ayah bermasalah.. Tapi aq tidak..
Aku bahagia dengan hidupku yang sekarang..
Dan ayah bukan orang yang bisa mengubah kebahagiaanku..
Masih ada suami, anak2 dll yang Allah kasih buatku..
Allah sayang aku dst dst dst…
Atau aku tidak suka ibuku karena………….
Aku kecewa ibu…….
Aku marah………….
Aku kesal ibu……
Aku merasa tidak dihargai………….
Aku benci ibuku……..
Tapiiiiii……
Ibu udah merawatku walau mungkin ga dengan didikan yanh sempurna..
Ibu masih bertanggung jawab……….
Ibu udah melakukan…………..
Aku menerima ibuku..
Ya Allah.. Mudahkan aku dan ingatkan aku selalu untuk lebih kuat lagi menghadapi ibu………….

Coba ‘sugesti’ diri dengan kata2 positif Kalau sesekali kita lupa, salah, gapapa.. Bangkit lagi.. Berjuang lagi.. Masa lalu ngga bisa dihapus dari ingatan.. Tapi kita bisa menerima dan mengambil hikmah dari itu semua insyaa Allah.. [

Kalau perlu, Kita bisa menulis untuk menterapi diri kita sendiri.. Menulis hal2 baik, positif.. Biar kalau kita lupa, ada masalah.. Kita bisa diingatkan dengan tulisan kita tersebut.. Maaf kalau kepanjangan ya.. Semoga cukup bisa dipahami dan bermanfaat..

kalau butuh waktu untuk jaga jarak dulu, dan bisa melakukannya.. Itu juga baik Jadi pas ketemu lagi, kondisi kita sudah lebih siap menghadapi perilaku ayah/ibu yang tidak kita harapkan Bagaimana kalau serumah? Luangkan waktu baik2 untuk benar2 berpikir dan menyiapkan diri untuk menghadapi orang tua.. Ingat kalau kita ngga sendirian.. Pertolongan Allah begitu dekat.

Pertanyaan
Maaf agak out of topic nih mb innu. Ada seseorg yg merasakan gejala2 sakit fisik, mulai dr internal sampai syaraf. Tp hasil medis tidak menunjukkan itu. Sementara pasien tersebut jg tidak merasa punya beban pikiran yg mengganggu. Pertanyaaan nya adalah , apakah mngkin seseorg mengalami stres tp tdk disadarinya? [* mngkin maksud penanya apakah stres itu terselip dialam bwh sadarkah?😅……membahasakannya bagaimana ya… bingung…] [

Jawaban
Bunda XYZ, kalau di Psikologi ada istilah gangguan somatoform dan gangguan2 lainnya.. Yang intinya: ngerasa sakit fisik tapi pas diperiksakan oke semua..
Dan penyebabnya ngga hanya stres yang biasanya keliatan dari perilaku kita sehari2.. Tapi bisa juga masalah2 psikis2 lain seperti kebutuhan2/needs yang ngga disadari..
Misalnya: pengen diperhatikan.. Pengen punya ‘power’.. Pengen berprestasi.. Pengen lebih disayangi.. Atau ada masalah2 di masa lalu yang tyata cukuo traumatis/memberikan dampaknpada kita yang kita ngga sadar.. Musti digali lagi lebih dalam =)

Semoga cukup menjawab ya Bunda XYZ..

Semoga kita semua dikuatkan ruh keimanan ( terutama ttg qodho dan qodhar) dan keislaman nya, sehingga dpt menggunakan petunjuk2 yg ada dalam Alquran sebagai pengobat hati….aamiiinn…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s