Healthy Inside, Fresh Outside

Resume kulwap ibu2 kekinian.
19 april 2016.
Tema : 💖” HEALTHY INSIDE, FRESH OUTSIDE”💪🏽
Notulen : Mariana

Berikut biodata nara sumber kita pagi ini :

Nama     : Anindita Citra 
Pendidikan : S1 Psikologi UI angkatan 2006, S2 Profesi Klinis Dewasa Psikologi UI angkatan 2010 (KLD-17).

Kantor : Praktek di klinik Lighthouse, pusatnya di Kebayoran Baru, yg fokus ke masalah obesitas dan gangguan makan.

Kegiatan after office hour  : biasanya nge-gym, ikut kelas yoga, zumba, dan body jam (mirip aerobic). Suka jalan2 dan wisata kuliner . Sesekali jadi narasumber di majalah dan TV

🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾

Pada kesempatan kali ini Saya akan membahas mengenai hal yg dekat dengan keseharian kita semua, tapi jarang sekali disadari kemunculannya atau dianggap sepele.
Sebelum Seya bahas lebih lanjut, Saya mau tanya dulu nih ke mommies…
Pernah ngga mommies merasa kepalanya nyut-nyutan kalau lagi kesal?

Badan terasa pegal-pegal atau tengkuk terasa kaku sehabis marah?

Dada terasa sesak setelah mendengar berita buruk?

Sakit perut atau maag kambuh ketika merasa cemas?

Naahh… Kalau mommies pernah ngalamin, bisa jadi itu psikosomatis.
Dalam ilmu psikologi, psikosomatis itu penyakit fisik yang disebabin sama masalah psikis atau emosi. Yang namanya masalah emosi antara lain: stres, depresi, kecewa, kecemasan, dsb.
Bagi sebagian orang, psikosomatis ini mungkin kedengeran lucu ya. Kok bisa sih sakit psikis ngaruh ke sakit fisik?
Tapi bagi yg udah pernah, atau bahkan sering ngalamin, pasti rasanya “gengges” alias mengganggu. 
Psikosomatis ngga cuma dialamin sama orang dewasa aja lho…Anak-anak juga bisa ngalamin.

Tapi eh tapiii….Buat tau kita bener2 sakit fisik atau psikis, sebaiknya dicek dulu. Seandainya mommies punya keluhan fisik, ngga ada salahnya diperiksa ke dokter. Siapa tau memang ada sakit fisik beneran  Tapi kalau ternyata hasil tesnya menyatakan kondisi fisik normal, baru deh… Kemungkinan besar yang dialami adalah psikosomatis.

Pernah denger ngga orang yang kena kanker ngga boleh banyak pikiran atau harus banyak ketawa?
Kalau dia sedih dan jadi depresi, justru sakitnya akan bertambah parah. Karena sebenernya tubuh punya kemampuan alami untuk mempertahankan diri.
Kalau kondisi fisik dan psikis drop, otomatis kemampuan imunitas tubuh juga drop.

Hati-hati lho mommies… Yang baru-baru ini kejadian ada orangtua yg kena serangan jantung mendadak karena denger anaknya baru lulus SMA melanggar aturan lalu lintas dan mengaku anak jenderal untuk menghindari hukuman. Saking viralnya beredar di dunia maya dan besarnya dampak psikologis ke orangtua yang bersangkutan. Kasihan kan…

Nah, dengan contoh2 yg pernah kita alami sendiri atau denger dari orang lain, kita bisa ambil hikmahnya. Bahwa masalah emosi harus segera diatasi, sebelum berkembang menjadi masalah yg lebih serius.

Bagaimana cara mendeteksinya?
Umumnya ditandai sama keluhan2 fisik, beragam memang untuk setiap orang. Keluhan yg sering muncul biasanya: mual-mual, muntah, sakit perut, gatel-gatel, pusing, dan macem-macem lainnya.

Gangguan psikosomatis sebenarnya adalah masalah emosi yang bisa kita ketahui penyebabnya. Kalau penyebabnya udah ketahuan, harus ditentukan penyelesaiannya.
Setiap orang pasti pernah ngerasain stres, misalnya stres dengan hubungan percintaan, perkuliahan, pekerjaan (baik di rumah ataupun di tempat kerja), kemacetan di jalan, dll…
Dalam keseharian kita juga ngga pernah lepas dari yg namanya tuntutan hidup, yg biasanya dipicu oleh perubahan, sehingga kita harus terus menerus melakukan penyesuaian/perubahan. Stres seringnya sih digambarin sebagai peristiwa yg negatif (contohnya seperti kehilangan pekerjaan, perselingkuhan, putus cinta/perceraian, kematian orang yg disayang, dll). Padahal perubahan yg positif dalam hidup juga bisa menimbulkan stres. Contohnya seperti pernikahan, kelahiran, mendapat pekerjaan baru, dll.
Kalau baby blues bisa jadi masuk ke perubahan yg positif dalam hidup kalau memang menginginkan punya anak. Biasanya wajar seorang mom yang baru memiliki anak merasa kewalahan dengan tuntutan baru dalam hidupnya, karena belum terbiasa atau belum terlatih.

Nah, untuk mengatasi situasi yg stresful… Ada yg namanya teknik stress coping.
Coping sendiri merupakan proses mengelola perilaku, kognisi, dan emosi dari situasi yg dianggap menekan atau mengancam. Tujuannya untuk menjaga kesejahteraan psikologis seseorang.

Ada bbrp cara yg bisa kita gunakan untuk mengatasi stres
👉Yang pertama, emotion focused coping. Tujuannya untuk mengurangi intensitas emosi negatif yang terkait dengan stres. Caranya dengan membuat diri merasa nyaman tanpa mengatasi sumber stres itu sendiri. Biasanya nih, emotion focused coping muncul ketika problem focused coping ngga berhasil mengurangi stres atau ketika sumber stres sangat besar sekali sehingga berada di luar kendali seseorang. Contohnya, ketika seseorang berhadapan dengan penyakit kronis atau kematian mendadak orang yang dicintai. Strategi emotion focused coping yg dapat digunakan antara lain:

– Menyibukkan diri untuk mengalihkan pikiran dari masalah (makan, nonton, ke salon, belanja)
– Melampiaskan rasa sedih/kecewa pada orang lain dengan curhat
– Berdoa kepada Tuhan untuk meminta petunjuk dan kekuatan
– Mengabaikan masalah dan berharap masalah tersebut akan hilang dengan sendirinya
– Mempersiapkan mental untuk kemungkinan terburuk

Strategi emotion focused coping sering juga dianggap kurang efektif ketimbang problem focused coping, karena ngga ngasih solusi jangka panjang. Contohnya, pengidap kanker yg cuek dan menyangkal dirinja sakit, terus nolak ngejalanin perawatan medis biasanya mengalami penurunan kesehatan yang lebih drastis daripada pengidap kanker yang mau menghadapi masalahnya. Namun demikian, kalau memang sumber stresnya udah ngga bisa diapa-apain lagi, maka emotion focused coping merupakan strategi yg tepat. Intinya, jangan menyerah dulu sebelum berusaha.

👉Yang kedua, problem focused coping. Tujuannya untuk mengurangi stres dengan cara menangani/mengatasi sumber stres. Nah, strategi ini memakai cara-cara aktif untuk langsung mengatasi situasi yg menyebabkan stres. Contohnya:

– Bekerja lebih giat
– Menganalisa diri dan situasi, terutama konsekuensi dari keputusan yg dibuat
– Mencari informasi lebih lengkap
– Komunikasi

Kalau mba yg tadi demam setiap kali mau ujian, mungkin gejala fisiknya bisa berkurang kalau persiapan belajarnya lebih matang/ngga SKS hehehe.
Secara umum, problem focused coping memang dianggap sebagai strategi yang terbaik karena dapat menghilangkan sumber stres atau mengatasi akar masalah, sehingga memberikan solusi jangka panjang.
Tapiii… Strategi ini juga ngga bisa dipakai di setiap kesempatan. Problem focused coping ngga akan efektif kalau diterapkan ketika seseorang dihadapkan dengan situasi yang berada di luar kontrolnya. Sebab, sekuat apapun upaya yg dilakukan, hanya akan menghabiskan waktu dan energinya.
Kira-kira demikian wacana mengeni psikosomatis dan stress coping ini Saya sampaikan, silahkan kalau ada yg mau bertanya atau sharing 🙂

Narasumber (N)
Penanya Pertama (R) :

R : Mba anin…anak pertama sy perempuan usia 11 thn. Setiap x anak sy merengek tuh sy suka langsung pusing. Darah rasanya langsung naik ke kepala. Bgmn cara nya yah mba spy sy bs tenang setiap menghadapi rengekan anak sy itu???
Jd si kk ini dr kecil intonasi suara nya itu slalu keterima sy itu ga enak…tinggi…pdhl si kk blg dia lg ga marah saat dia blg itu, dia pun lg ga merengek. Walhasil kita bdua sering banget bersitegang utk hal sepele sekalipun😭😭

N : sekarang sedang hamil ya mbak?

R : Iyaa mba..tp ini dr sblm hamil. Malah ketika hamil dan nge flek, setiap si kk ini merengek lsg flek ku jd deres.

N : Berarti ada perbedaan persepsi ya antara mba dan anaknya yg umur 11 tahun ini, kalau memang sudah di kroscek ternyata anaknya ngga lagi marah (memang biasanya intonasinya begitu), ada dua pilihan…

1. Meminta anaknya menurunkan lagi intonasi suaranya ketika berbicara dengan mba, mungkin memang mba sensitif dengan nada tinggi.

Atau

2. Mba secara emosi sedang merasa lelah sehingga stimulus netral diartikan sebagai stimulus yg mengancam, kalau condong ke sini, coba mba melakukan latihan menenangkan diri secara rutin, cukup bbrp menit setiap hari, seperti meditasi/latihan pernafasan. Kalau kita dalam state yg lebih stabil biasanya kita akan lebih kebal sama “gangguan” minor.

Oiya, biasanya psikosomatis juga dikenal dengan sebutan somatoform.

Penanya kedua (L)
L : Begini mb anin,saya sering bgt mengalami psikosomatis ketika berhadapan dg ipar..kami memiliki hubungan yg tidak begitu baik memang..
Karna saya sering merasa tersinggung karna sikap/kata2nya..jd skg klo tiap ada ipar rasanya itu deg2an gt..kyk mau perang..
Nah skg saya mau memperbaiki sikap saya jg terhadap dia,tapi gimana ya rasanya udah stress dluan gt mb..kira2 stress coping sperti apa yg hrus saya lakukan demi memperbaiki hubungan kami?

N : Menurut mba, masih mungkin kah hubungan ini untuk diperbaiki? Kalau iya, kira-kira bagaimana caranya?

L : Menurut saya sih masih mungkin. Tapi jg hrus ada imbal baliknya dr sana jg ya mb. Ga bs saya saja yg berniat baik. Sementara kita sama sama diem dieman.

N : Hubungan yg efektif memang harus ada timbal balik, suapaya adil dan sama-sama enak, tapi dalam situasi “konflik” harus ada satu pihak yang mengalah. Pertanyaannya, apakah mba atau kakak Ipar yg mau melakukan?

L : Melakukan apa mb? Oo..mengalah ya

N : Iyaa mba…

L : Insyaallah saya mau merendahkan ego saya mb. Kalau sama-sama diem ntar ndak ada yg mulai dong hehehe…Tapi ya itu..knp ya masih sebatas wacana..haha. Jd stress copingnya kudu apa mb?

N : Kalau saat ini masih sulit, mba bisa menggunakan emotion focused coping dulu untuk menenagkan diri. Misalkan masih bingung atau grogi mau ngomong apa ke kakak ipar.

L : Makin kesini saya merasa secara ngga sadar bersaing dg dia. ngrasa ngga ada hal yg bs diomongin🙈

N : Kalau suasana hati sudah lebih tenang, biasanya akan muncul insight sendiri bagaimana mau bertindak.

L : Emotion copingnya bs dg apa ya mb?

N : Mungkin setelah itu bisa sambil tanya kanan kiri, misalkan ke kakak kandung atau sodara lainnya, bagaimana cara mereka menjalin komunikasi. Apakah senengnya basa basi dulu dibawain kue/masakan, atau to the point langsung ke masalah.

L : Jd ini kita sama2 menantu sih mb..paSti ada rivalry nya jg ya didalamnya wlaupun tidak berniat.

N : Kalau untuk kita sendiri, emotion coping punya banyak banget alternatif. Dari yg sifatnya paling personal, misalkan kita punya hobi tertentu yg kalau dijalanin bikin enjoy dan tenang (masak, nyalon, baca buku, bikin kerajinan, berdoa). Atau yang umum, misalkan ikut kelas meditasi, yoga, atau latihan pernafasan. 
Nah, kalau mba merasa akar penyebabnya karena persaingan… Mungkin kalau nanti sudah lebih relaks, bisa diarahkan ke sana. Apakah penyelesaiannya mau dibicarakan atau langsung dengan tindakan, nanti bisa dipertimbangkan

L : Klo copingnya akhirnya menghindar gitu, sehat ga mba? Mis. Menghindar dr ipar

N : Apapun keputusan yg diambil harus siap juga kita terima konsekuensinya. Misalkan yg dipilih adalah menghindar, apakah upaya kita udah maksimal untuk “berdamai”?
Kalau tidak memungkinkan lagi, menghindar memang bisa jadi option. Buat apa kita capek-capek kalau usaha kita ndak dihargai. Yang ada nanti makan hati terus
Menghindar is fine… As long as we did our best to fix the relationship, if it didn’t work, it’s time to let go… Dia yg rugi… Hehe

Pertanyaan ketiga (E)
E : Hmm tanya sekalian curhat ya Mba ☺
Ceritanya, sy punya mantan pacar yg udah 5th lalu putus. Sekarang mantan sy itu baru saja menikah dg sepupu sy. Sy sendiri pun skrg sudah menikah. Nah setiap kali sy mendengar tentang mereka ingatan sy langsung kembali ke masa dulu, dada sesak, mual, kepala pusing… Nah flashback ke masa dulu, ceritanya sy sakit hati bgt sama mantan dn sepupu sy ini krn diam2 mantan sy suka dn pdkt ke sepupu sy, dn sepupu sy ini juga menutupi dr sy, tau2 lihat mereka jalan bareng, baca smsan mereka. Akhirnya si mantan ini menjauhi sy dn meninggalkan sy tanpa penjelasan apapun, setiap kali sy mengajak bicara diapun menghindar dn akhirnya sy terima kepergiannya tanpa statement apapun soal hub.kami. memang setelah putus dg sy dia tdk langsung dekat dg sepupu sy tp dia punya pacar yg lain. Nah setahun ini mereka dekat kembali dn akhirnya menikah. Sampe skrg rasanya berat buat sy harus bersaudara dg masa lalu yg menyakitkan Itu. Setiap kali mendengar namanya, melihat timeline medsosnya, sy langsung ingat kejadian dulu. Padahal keluarga besar sy cukup sering mengadakan kumpul keluarga, walopun hanya sekedar makan bersama. Ga kebayang rasanya kalo bakal sering2 ketemu dia. Bagaimana caranya keluar dr kondisi seperti ini Mba?

N : Ngga kebayang deh gimana rasanya ditinggal nikah sama mantan, apalagi tanpa penjelasan yg jelas dan nikahnya sama sepupu sendiri, bikin hati “nyeeesss”.
Mungkin dalam situasi ini mba masih sulit untuk move on ya mba… Gimana ngga sulit, baru mau seneng dikit eh keinget lagi sama kejadian masa lalu, berasa udah dihkianatin, sakit banget

E : Iyaa Mba, padahal kejadiannya udah lama bgt, skrg sih udah ga ada perasaan apa2, tp kalo inget tiba2 sakit hati lagi 😂

N : Pertanyaan untuk mba, apakah mba mau balikan lagi sama mantan mba yg udah pergi gitu aja dan (sepertinya) ndak merasa bersalah atau minta maaf?

Aku yakin jawabannya ngga. Walaupun memang rasa kecewa masih ada.
At the end, you have to accept that your relationship didn’t work out, apapun alasannya.
Fokus mba sekarang pada saat ini. Mba mau gimana?
“It’s okay you left me, but I can live happily”.
Inget mba, you are in control of your mood. You are in control of your emotions. You take responsibility for how you engage with life.
You see yourself as the agent of action, not the victim of the circumstance.

E : Tentu ga mau Mba, sy bersyukur sih ga jadi sama dia, sy juga bahagia dg suami dn hidup sy skrg. Huuuft kadang mikir seandainya bisa amnesia, mau diamnesiain bagian itu aja 😈

N : Seberat apapun rasanya, coba mba cari cara untuk nenangin diri, kalaupun belum kuat untuk ketemu mereka ya ndak usah dipaksain, ngga ada yg perlu-perlu amat kan?

Penanya keempat (G)
G : Tentang psykosomatis, anak saya mengalami justru bukan di suasana baru. Akademik bagus, gaul luwes, tapi kls 4 dah mogok sekolah, pindah sekolah, mogok lagi. Mogoknya tidak bilang “Ga mau sekolah”, tapi mules tiap dah pakai seragam. Dan terakhir sampai 1 minggu mules mencret nya… situasi nxacdahbdi luar kendali, jadi kita ambil keputusan dia untuk pamit dr sekolah formal. 
Eeh….sekarang adiknya gitu lg. Bedanya hanya hari tertentu….dan itu nenar” demam. 
Pertanyaan saya, ini karena kurangnya saya mendidik anak untuk kuat thd rasa tidak nyaman, atau memang gap dr perbedaan cara pendidikan di rumah dg di sekolah?
Kalau masalahnya pola pendidikan yg ga pas, adik” nya jg kurleb akan ngalamin bgt kan?

N : Anaknya udah ditanyain belum, apakah ada masalah atau hal yg bikin dia merasa terganggu? Apakah di sekolah atau di rumah?

G : Udah….di sekolah

N : Coba digali terus mba… Mungkin sambil diajak main, supaya ndak berasa lagi diinterogasi

G : Ttg melihat bulling. Salah satunya. Pindah sekolah….itu lg alasannya. About policy kayaknya

N : Ohh begitu, jd setelah melihat bullying dan ada peraturan tertentu di sekolah

G : Anak” saya ga di.bully, tapi temannya

N : Iya mba… Kalau boleh tau, apa pendapat anaknya mba stelah lihat temennya di-bully?

G : Jahat….jahaaat sekali itu. Gitu mba, dan ekspresi wajahnya masih saya ingat persis. Memalingkn wajah sambil menatap jauh. Lalu saya ajarkan dia untuk melihat sisi positif teman” nya. Bertahan.cuma sepekan.

N : Apa yg dilakukan anak mba sewaktu melihat temannya di-bully?

G : Dia ngajarin temannya untuk melawan, kalau laki yg di bully nya. Kalau teman perempuan, dia yg bantu ngehadepin.

N : Kalau waktu itu diam saja atau pergi dari lokasi (tidak terlibat langsung mengatasi masalah). Ada kemungkinan anak mba merasa dirinya gagal karena ndak bisa bantu temennya yg lg di bully. Sebagai bentuk punishment untuk dirinya sendiri, muncul lah gejala mencret-mencret (dengan catatatan sebelumnya ndak salah makan). Kalau anak mba sudah mencoba membantu temannya dengan mengajarkan cara tertentu untuk melawan, tetapi temannya tidak sanggup melakukan, maka hal yg sama juga berlaku.

N : Naaah…itu emang di sekolah baru mba. Belum kenal dekat. Baik yg ngebully atau yg di bully nya

G : Anak mba merasa gagal untuk memutus rantai bullying. Kalau yg terjadi seperti, yg bisa mba lakukan sbg orangtua adalah memberikan penjelasan. Bahwa tidak semua hal bisa kita kendalikan, “it’s okay for you to ask for assistance or help”. Kalau kamu sendiri merasa tidak mampu, cari orang lain yang berwenang di tempat itu, kamu bisa lapor guru. Dengan begitu kamu juga membantu teman kamu kok, sayang…

G : Masalah nya di daerah, guru” kayak bingung bedain mana bully mana iseng. Akhirnya…anak” saya di cap aneh. Sakit…terlalu berpikir mendalam. Gitu komentar wali kls di srkolah terakhir:(

N : Wah, sayang ya kalau guru2 di sekolah anaknya mba ndak peka dan sigap.

G : Ada yg bilang….nanti kalau anak ibu sdh sembuh, sekolah ini akan menerima kembali kok.

N : Sembuh apanya nih mba Rita? Dari diare atau ngadu ke guru ttg bullying?

G : Sembuh empati mendalamnya😁😂

N : Oohh begitu… 😅😅

G : Sifat gitu normalkan?😩. Ada yg ngerasa, ada yg enggak kayaknya

N : Empati itu sifat yg positif, kalau sesuai dengan kadarnya, tapi kalau terlalu tinggi mungkin butuh penyesuaian juga. Ndak apa-apa mba kalau anaknya punya empati yg tinggi, tapi harus tetap diberikan arahan dan penjelasan. Di dunia ini hidup memang ndak selalu berlaku adil untuk setiap orang. Yang perlu diberitahukan ke anaknya mba, dia ndak bertanggung jawab atas musibah yg menimpa temannya/orang lain. Masing-masing punya tanggung jawab untuk mempertahankan diri.
Anak mba sendiri pun ketika punya kesulitan, mungkin ada yg membantu (contohnya mba selaku orangtua yg menenangkan dan memberi pengertian), mungkin ada yg tidak membantu (guru di sekolah yg tutup mata dan tidak berbuat apa2). Live must go on, yang penting sudah melakukan usaha yg terbaik, begitu kira-kira mba.
Oh ya, kalau gejala mencretnya masih berlanjut harus tetap diperiksakan ke dokter ya mba. Bisa bahaya kalau sampe kekurangan cairan tubuh

G : Terimakasih mba. Dah berhenti diarenya sejak berhenti sekolah. Sekarang yg kls 4 HS

N : Iya sama-sama ya mba Rita, semoga sudah lebih clear ya dari sudut pandang psikologinya.

Jadi perlu terus diingatkan ya mba mengenai dua sisi kehidupan, supaya lebih seimbang dan anak mba siap memasuki dunia yg heterogen. Dari pengalaman jatuh dan bangun, justru mental anak akan terbentuk. Ngga mungkin kan seumur hidup “ngumpet” di rumah supaya ndak liat hal-hal negatif. Mba juga harus kuat ya, kadang memang sedih rasanya lihat anak ndak dpt dukungan di luar, tp mba juga harus siap lihat anak “jatuh”. Baik sekolah di luar ataupun di rumah, ke depan tidak menutup kemungkinan anak mba mengalami/menyaksikan ketidakadilan.

Life is not always filled with rainbows and butterflies, kadang kita juga harus menghadapi badai. Dari situ kita bisa tau kualitas dan kemampuan diri kita seutuhnya. Kata ustad harry santosa , imunisasilah anak bukan sterilisasi terhdp kehidupan.

wish all of you strenght to conquer your problems… 😇😘
Aamiin…..

-selesai-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s