Diskusi bersama Teh Kiki Barkiah

image

Diskusi pertama DEK – 3 Agustus 2015

Selamat Datang Teh Kiki

Teh kiki merupakan ibu yang menjadikan anak2nya sebagai guru. Semua anaknya homeschooling. Teh kiki pun aktif dlm menulis dan membuat lagu mengenai parenting.

Silahkan teh kiki untuk memberikan hal mengenai parenting.

Diskusi dibatasi sampai pkl. 22.00 WIB.

Teh Kiki Barkiah

Waalaikunsalam ibu ibu. Ibu ibu sehelum diskusi berikut saya sharing terlebih dahulu ya, silahkan dibaca baca

Membangun dan Meningkatkan Kesabaran Dalam Mengasuh dan Mendidik Anak

Oleh Kiki Barkiah.

Berikut beberapa prinsip yang perlu dipahami untuk membangun dan meningkatkan kesabaran dalam mengasuh dan menidikan anak. Prinsip tersebut terangkum dalam singkatan ANAKMU LADANG SURGAMU:

A— Anak adalah anugrah dari Allah serta warisan berharga yang akan menjadi simpanan kita. Tidak semua orang memiliki anugrah ini, maka perlakukanlah mereka diatas dasar cinta dalam keadaan dan perasaan apapun agar kelak mereka dapat menjadi simpanan terbaik kita

N— Nanti kelak apa yang ditanam akan kita petik hasilnya, maka pastikan selalu menanam kebaikan  kepada mereka dalam keadaan dan perasaan apapun.

A— Allah tidak akan memberikan amanah dan cobaan diluar kesanggupan hambaNya, maka dalam keadaan dan perasaan apapun,  yakinlah bahwa kita bisa melakukannya meski terkadang harus melipatgandakan kekuatan.

K— Komunikasikan setiap kesulitan dan permasalahan dalam pengasuhan anak kepada Allah, agar Allah memberi kemudahan dan petunjuk dalam penyelesaiannya

M— Mereka terlahir dalam fitrah kebaikan, jika kita menjaga kesucian dan tidak merusak fitrahnya dengan selalu mengajarkan kebaikan, insya Allah mereka akan selalu dalam kebaikan dan baik-baik saja

U— Untuk memilih sikap, manusia diilhamkan dua jalan oleh Allah, jalan fujur dan jalan taqwa, maka sangatlah wajar jika sesekali kita melihat sikap negatif anak kita meski kita merasa tidak mengajarkannya. Tetaplah istiqomah mengajarkan kebaikan dan meluruskan perilaku yang buruk tanpa peduli kapan nasihat kita akan benar-benar bekerja dan berbuah perilaku baik mereka

 

 

L— Lihatlah lebih dalam, apa motif dan alasan seorang anak melakukan sesuatu, sehingga kita lebih bijak dalam merespon perilakunya. Sesuatu yang mungkin terlihat salah dalam pandangan kita, bisa jadi merupakan sebuah pengalaman belajar yang mengesankan bagi mereka.

A— Atasi permasalahan anak sampai pada akarnya, karena biasanya sikap yang muncul ke permukaan belum tentu menggambarkan permasalahan yang sesungguhnya. Namun mengatasi permasalahan anak sampai pada akar masalah, insya Allah akan turut menyelesaikan permasalahan yang muncul ke permukaan

D— Dalam setiap tahapan usia, anak memiliki kapasitas intelektual dan emosional tersendiri. Memahami tahapan perkembangan kemampuan anak akan membantu kita menaruh ekspektasi yang lebih tepat.

A— Anak tidak terlahir seperti kertas kosong, anak terlahir sebagai karunia dengan potensi yang unik beserta tempramen bawaannya masing-masing. Memahami keunikan potensi anak serta tempramen bawaannya akan membantu kita lebih tepat dalam merespon dan membangun lingkungan bagi tumbuh kembangnya

N— Negasi dalam berperilaku terhadap apa yang diperintahkan atau dianjurkan oleh orang tua adalah sebuah kewajaran bagi seorang anak di awal-awal tahun usianya. Tetaplah konsisten dan istiqomah menegakkan aturan yang diberlakukan secara bertahap sesuai tahapan usia dan kemapuan anak serta terus menjelaskan sebab dan akibat sebuah aturan ditegakkan. Bila negasi terhadap perintah cenderung masih sering dilakukan saat anak-anak berusia lebih besar, maka perlu adanya perbaikan pola komunikasi dan hubungan yang dibangun antara anak dan orang tua.

G— Gangguan eksternal, ketidaknyamanan, perasaan tidak aman, perubahan suasana, serta tidak terpenuhinya kebutuhan dasar seorang anak seperti makan dan tidur, biasanya memicu munculnya perilaku negatif. Memenuhi kebutuhan dasar serta menjalankan rutinitas standar biasanya akan mengurangi munculnya perilaku negatif. Saat perilaku negatif muncul, coba perhatikan hal-hal sederhana di sekitar mereka yang mungkin menjadi penyebab munculnya perilaku negatif.

S— Sampaikan nasihat dalam suasana yang tenang dan penuh kasih sayang sehingga anak dalam keadaan siap mencerna dan menerimanya. Cari waktu dan momentum yang paling pas dalam menyampaikan nasihat

U— Upayakan agar dapat menghadapi anak-anak dalam keadaan melelepas semua beban permasalahan di tempat lain. Pilah masalah yang kita hadapi serta selesaikan secara terpisah sesuai skala prioritas. Jangan melampiaskan emosi negatif akibat adanya permasalahan lain yang sedang kita hadapi ke anak-anak.

R— Rekreasilah dan lakukan hal-hal yang dapat menambah dan memperbaiki semangat kita dalam menghadapi anak-anak. Perasaan bahagia dan kesehatan mental orang tua merupakan modal penting dalam menciptakan kesehatan pola asuh anak

G— Gunakan gaya komunikasi, pilihan kalimat dan nada komunikasi yang disesuaikan dengan usia, tempramen dan karakter anak serta kasus permasalahan yang dihadapi. Gaya komunikasi, pilihan kalimat bahkan nada komunikasi akan menentukan keberhasilan dalam proses pengasuhan dan pendidikan anak.

A— Agendakan secara rutin untuk berkomunikasi dengan pasangan terhadap perkembangan dan permasalahan seputar pengasuhan anak. Satukan visi misi, tingkatkan kapasitas ilmu bersama, serta bekerjasama secara harmoni dengan pasangan dan orang-orang  disekitar anak-anak kita. Perjuangan kita dalam mencapai visi akan sangat berat jika tidak sejalan dengan orang-orang disekitar anak-anak kita

M— Mudahlah dalam memberi maaf terhadap kesalahan yang bersifat tidak disengaja atau terlupa, karena Allah pun memaafkan dosa manusia yang dilakukan dalam keadaan lupa, tidak disengaja dan terpaksa. Hal terpenting dalam menyikapi sebuah kesalahan anak adalah anak mengerti dimana letak kesalahannya serta mendapat hikmah dari kejadian yang dialaminya.

U— Ucapkan doa terbaikmu untuk anak-anak saat engkau merasa telah mencapai puncak keasabaran dan sangat ingin marah, agar kata-kata yang engkau keluarkan menjadi doa kebaikan yang diijabah oleh Allah SWT

Batujajar, Jawa Barat

Dari seorang ibu yang Alhamdulillah masih Allah karuniakan kesabaran ditengah keadaan dan perasaaan yang dialaminya

 

PERTANYAAN

Bunda Dessy 🙂

pas bgt sekarang2 lagi banyak istigfar,, sampe2 berfikir klo apa anak ogo kaya gini karena kesalahan saya,, bagaimana mengolah emosi y? Mohon petunjuk. Terimkasih 👍

Jawaban

Banyak faktor ya anak melakukan kesalahan, diantaranya tidak atau belum tau, sudah tau tapi blm mengerti, sudah tau tapi belum mampu berfikir dan bertindak secara bijak, atau disebabkan hasil pengolahan dr informasi yg ia terima dari lingkungannya baik pola asuh orang tua maupun lingkungan. Sebagian bahkan muncul sebagai hasil dr tempramen bawaan yang juga berkaitan dgn keturunan. Sebagian bahkan disebabkan karena tercampurnya harta kita dengan sesuatu yang haram. Jadi ya banyak faktornya. Kalo yang alami atau bawaan kan hanya bisa kita atur bagaimana meminimalisir atau menghadapinya, sementara yg sifatnya masih bisa kita upayakan berubah ya kita upayakan. Nah… Tentang mengelola emosi, sebenernyatips diatas sudah akan banyak mempengaruhi managemen emosi kita saat menghadapi anak anak. Krn sikap yg muncul dr diri kita adalah buah dr pemahaman. Namun dilapangan, dalam hal managemen emosi ttp harus ada yg diupayakan, salah satunya kesehatan ruhiyah kita, seberapa kuat interaksi kita dgn Allah, juga faktor kesehatan emosional seperti kebahagiaan ketenangan, serts faktor fisik seperti kesehatan dan kebugaran

Pertanyaan

Krn emosi sampe sempat terbesit,, apa mungkin ada sempat masuk ke perutnya anak makanan yg tdk halal,, Yg akhirnya beristigfar lg, dan berpositif thinking bahwa penghasilan yg diberikan oleh suami adalah dari hasil yg halal. Nah klo sempat terbesit ini baiknya bagaimana? 👍

Jawaban

Terbesit terbesit ini kan alamiyah saja mbak, sebagai manusia kan sering mengalami bisikan syeitan, bahkan di al quran juga disebutkan kan manusia di ilhamkan dua jalan, jalan fujur dan jalan taqwa. Sesabar sabarnya orang juga pasti pernah marah, namanya juga manusia temoat lupa dan tempat dosa. Tp bahaimana kita berupaya agar emosional tidak menjadi kesan utama dan pertama dr anak anak terhadap kita, emosional tidak menjadi respon default dr setiap perkara. Ya kalo ada bisikan syeitan yg terbesit sesegera mungkin beristigfar, men time out diri supaya tdk sampai acting out

Perbanyak istighfar dan kembalikan lagi ke konsep anakmu adalah ladang surgamu.

Pertanyaan

bunda iriani

Assalamualaikum teh, saya punya satu orang putri umurnya 4,5 tahun sudah sekolah sejak 2,5 tahun keinginan anaknya sendiri, alhamdulillah tidak pernah malas ke sekolah,tahun depan rencananya masuk sd di umur 5,5 tahun sudah saya ajak tour ke sd nya nanti untuk memotivasi, tapi bgini teh biasanya anak saya yang minta belajar, tpi baru2 ini kdg kalau sudah malam waktunya belajar ada saja alasannya minum dulu, atau mewarnai dulu, belajarnya juga pilih suka2 dia saja materinya, bagaimana teh baiknya karena saya terkadang sering menyuruh dia belajar sesuai keinginan saya misalnya hari ini waktunya baca quran,besok membaca,dan sebetulnya berapa usia yang tepat masuk di sd? Karena kalau kembali ke tk saya takut anaknya jenuh krn kembali ke tk terima kasih teh,maaf kepanjangan ☺

Jawaban

Waalikumsalan teh indri, heehe sebenernya jawaban ini lebih cocok dijawab sama mbak ola psikolog. Gak nyambung sama tips kesabaran hehehe. Yg di alami mbak indri sangat wajat terjadi di usia ananda terlebih kalo anaknya laki laki, karena cenderung punya banyak energi, sehingha perlu banyak iklan untuk mengeluarkan energinya terlebih dahulu. Pesan dari saya mungkin sayu, jangan memasukan kaki kita dalam sepatu anak-anak kita. Dijamin kesempitan, kita berharapnya masuk sebanyak yg kita punya padahal kemampuan dan kapasitas yang mereka pubya masih sempit. Coa aja dilibatkan dalam memilih rencana belajar, at least di tanya mau yang mana dulu. Misal ada menu ilmu seminggu, dia bisa pilih mau ambil menu apa di hari senin,  selasa dst mau jam berapa, yg penting menunya habis dalan seminggu.

(jawaban dari uni Ola)

Untuk anak.umur 5 thn, masih masa bermain. Jd sangat wajar kalo belajar masih mood mood-an. Jd, sebaiknya mengikuti kapan mau anaknya belajar. Atauu.. metode belajarnya dibuat jd lebih menarik.

(tambahan dari Zuhay)

Yaaa anak umur 5th masih suka main. Kalau belajar lebih sering banyak mainnya dri pada belajar. Misal lempar2 bola sambil menghitung. Itu pengalaman saya ngajar bocah 5th 😂

Iya ada seribu jalan.menuju ke roma, untuk sebuah materi dan standar kompetensi yg sama kita punya banyak cara menyampaikannya

 

Pertanyaan

bunda astri

Asw. Saya Astri, anak saya 4 tahun dan belum saya sekolahkan karna berbagai pertimbangan. Rencana saya tahun ini mau saya stimulus di rumah. Sebetulnya saya ada basic guru tk. Tapi koq ya bingung ketika mau praktek pada anak sndiri? Memulainya dari mana? Hehe

Lalu Bagaimana praktek komunikasi yang efektif pada anak agar qt sbagai ortu tidak emosi ketika anak melakukan hal2 yang tidak benar?

Kadang masih suka spontan marah pada anak ketika anak melakukan hal2 yang kurang atau tidak baik.

Jawaban

Waalaikumsalam, mungkin bisa mulai dr menumbuhkan minat belajar, gak perlu kaku sama kurikulum yg dibuat atau yang ingin dikejar. Cara menumbuhkan minat belajar itu salah satunya dgn menjadikan mereka cinta buku. Mungkin bisa dibaca artikel saya di facebook yg berjudul PAUD tanpa PAUD

Praktek komunikasi yg efektif memang disesuaikan dgn usia, kalo usianya sdh 6 atau 7 tahun keatas mungkin sudah bisa diajak beranlisis lebih dalam. Sementara anak 1 2 tahun kan lebih singkat dan hanya berupa kesimpulan. Tp berapapun usia mereka yg cukup penting adslah bagaimana kita berbicara dan mereka mau listen gak cuma hear. Jd memabg harus dicari waktu dan momen yg tepat. Coba aja bayakngkan kita jd mereka, kondisi seperti apa sih kita mau mendengar perkataan orang lain. Biasanya kita seneng kan kalo.lawan bicara kita menghargai kita, mengerti dulu keadaan kita, mengerti oerasaan kita, barus bertahao memberikan pemahamannya dibanding langsung saklek menyalahkan mematahkan dll.

Ttg melakukan hal hal yg tdk benar pun tetep harus kita lihat motif, latar belakang, dan akar permasalahannya. Makanya kita pun harus meluangkan waktu untuk mendengar mereka bukan hanya menuntut mereka untuk mendengar kita

Jika ingin dihargai maka hargai dulu orang lain. Termasuk kepada anak. Harus peduli pada perasaan anak juga.

Jawaban Dari Nunuy

http://www.facebook.com/notes/kita-dan-buahhati/semuanya-ada-waktunya-/10153601794860657

Ikutan share ttg pertanyaan teh astri, isinya ttg waktu sekolah, belajar, membaca, dsb utk anak

 

Pertanyaan

Bunda Nuy

Bgaiamana mgatasi org lain yg kadang mengasuh anak kita tp krg sabar?

Misalnya kadang ada titip anak tp yg ngasuhnya sering mengancam atau selalu mengidentikan dg neraka kalau nakal.

Mis, ank sy 2.5 th mukul2 dia bilang nanti dibakar api neraka, malah makin menjadi mukul2nya..

Padahal sy mengatasi dg cara yg lain efektif, tdk perlu mengancam atau mengaitkan dg api neraka.

Namun, apakah benar cara saya apa memang perlu mengaitkan dg neraka setiap perilaku buruk dan surga dg setiap perilaku baik? Bagaimana baiknya mengenalkan surga dan neraka?

Jawaban

Teh nunuy, merancang visi misi itu termasuk bagaimana langkah kita meraih visi, termasuk bagaimana menciptakan lingkungan yg mendukubg ke arah visi tsb, begitu kita menemukan lingkungan yg tidak mendukung berarti kan harus ada yg kita lakukan, entah membuat libgkungan yg ada menjadi sevisi atau menciptakan lingkungan barubyg sevisi, atau bersedia merubah visi sesuai dgn libgkungan yg ada. Kalo ada akses untuk menasihati pengasuh, itu sangat baik, kalo tidak bisa, coba refleksi personal sama anak untuk meluruskan kalo ternyata pengaruh lingkungannya berefek besar, minta sama Allah ditempatkan di lingkungan yg lebih baik.

Untuk mengenalkan surga dan neraka mungkin perlu bertahap, lebih fokus pada membahas rahmat Allah dibanding murka Allah untuk awal awal tahun usia anak anak, contoh pesan pertama Allah mencintai orang orang yang berbuat baik, pesan kedua Allah membenci orang orang yang berbuat kemungkaran, pesannya dua duanya ada di al quran, tujuannya juga hampir sama, menyuruh org berbuat baik dan menibggalkan kemungkaran, tp kesan yg diterima anak akan beda. Sejalan dgn usianya konsep surga neraka akan bs lebih detail disampaikan. Krn dalam beragama kita yidak hanya butuh roja tapi juga khauf, tidak hanya butih harap tapi juga harus diimbangi dgn rasa takut. Keduanya harus seimbang

Jd Untuk mengenalkan surga dan neraka dimulai dari cinta, harap, dan takut.

 

Pertanyaan

Bunda Dila

Apa perilaku, sifat, sikap anak jg ditentukan dari setiap step pembentukan di usianya? Artinya saat dari usia 1-2 tahun sudah dibentuk perilaku manja dsb, apa akan berdampak pada perkembangan serta kematangan di usia berikutnya? Ada pula beberapa situasi dmn frame cara didik dan asuh kita dengan lingkungan bertolak belakang (di rumah mau dibentuk disiplin, sopan, dll. Tp tetangga, keluarga, justru sebaliknya) gmn menyiasatinya? Sedangkan anak tdk mungkin hanya di rumah bergaul dengan ibu/ayah nya saja.

Mungkin sederhananya bgm membentuk benteng terkuat sejak usia dini 1-2 tahun pada anak utk menghadapi lingkungan yg kesehariannya pun ada di kehidupannya.

Makasi teh kiki semoga paham hehe.

Jawaban

Hehe rada berkerut bacanya saking pinternya yg nanya. Mbak dila, sikap anak sangat ditentukan oleh awal awal tahun usia mereka. Bahkan 1 tahun pertama adalah saat dimana mereka membangun kepercayaan dgn dunia, kalo tdk diperlakukan dgn penuh kasih sayang dan kelembutan serta memberikan kenyamanan dan keamanan, anak akan cenderung tidak percaya dgn dunia, sehingga lebih banyak respon negatif yg muncul cmiiw. Masalah kemandirian juga cukup ditentukan oleh awal awal tahun usia mereka . Akan bs berdampak kalo tdk ada proses untuk merubahnya. Intinya mah kalo jalan sudah terlalu jauh berbelok diperlukan energi yang besar untuk kembali ke dalam trek yg seharusnya, makin jauh ya makin butuh energi untuk mengejar ketertinggalan. Tp bukan berarti tertutup kemunhkinan untuk diluruskan. Yg kita bangun bukan sterilitas dalam diri anak, tp bagaimana anak ttp imun ditengah lingkungan yang banyak penyakitnya  maka sesekali mereka perlu berhadapan dgn penyakit tersebut. Dgn bimbingan dan doa kita, insya Allah kita terus berupaya membentuk imun diri terutama saat berada diantara kaeasan berpenyakit. Sesekali mungkin perlu pertolongan pertama jika terjangkit penyakit yg ada. Yaaaa alamiah, yg tidak boleh kan jelas jelas dilepas dalam biang penyakit, tanpa ikhtiar perlindungan, imunitas serta cadangan obat

“Yg dbutuhkan bukan sterilitas, tp imun”

 

Pertanyaan

Kami spkt tdk mengenalkan TV pd anak (14bln), tp rencana km gagal ketika pulkam hmpir sebulan di rumah akung, uti dan abah amaknya. 😁😁😁

Abinya smpat menghindari, tp yaa tetep sj tv hampir nyala 15jam lbh dirumah. Mau ga mau anak sy jd dekat skali dg tv, tp sy amati hny awal2 aja, setelah itu dia ga terlalu memperhatikan (nampaknya krg tertarik, syukurlah)

  1. Apa kah mmg bs mempengaruhi perkembangan nya jika terpapar tv?
  2. Tak hanya tv, akung utinya semangat memberi stimulus lagu anak2, katanya anak sy didengarkan lagu cm diem aja beda dg reaksi anak pd umumnya yg lgsung joget2. (ya wajar krn blm terpapar sama sekali):mrgreen::mrgreen:Pdhal klo kita ngaji dia ikutin nadanya. Kami sepakat hanya murottal dan lagu anak2 yg tema sholawat dan islami sj. nah skrg anak sy jadinya denger lagu lgsung joget deh 😁:mrgreen:

Gpp kan teh? Msh dlm batas wajar kan? Kira2 yg bener seperti apa? Sekian trimakasih atas curcolnya. Maaf klau menyimpang dlm sub bahasan.

Jawaban

Bunda nindya mudah mudahan anaknya gak jadi terus kesukaan ya. Kalo jd kecanduan ya siap siap harus menyiapkan energi besar untuk menyiapkan tandingannya, sedemikian hingga pada akhirnya meninggalkan. Ya kalo pulkan kondisinya begitu, begitu balik rumah luabgkan waktu ubtuk brain wash saja heheheh di uninstall yg sempet mampir lalu install ulang sama berbagai macam kebaikan. Insya Allah. Tp pola seperti ini kan hanya bersifat obat sementara. Untuk jangka panjangnya, nenek kakek harus mengerti visi kita, apa yg kita harapakan dan cita citakan lalu libatkan mereka menjadi bagian dari perwujudan cita cita tsb. Contohnya, saya suka mengirimkan rekaman hafalan quran anak anak dalam group wa keluarga. Menunjukan prestasi baik yg membuat nenek kakek bangga, lama lama akan terbaca apa yg kita inginkan untuk cucu mereka. Jadikan partner dalam perbaikan generasi keturunan mereka

Biasanya lama proses penyatuan visi itu, sing sabar ya. Bagaimanapun mereka kaya akan pengalaman mendidik anak.

Hehe gak bisa tegas atuh kan ngomongnya sama ortu sendiri. Yg lebih tepatnya perlu kelihaian dalam memberikan “pesan dan harapan” kepada orang tua  bukan ketegasan

perlu kelihaian dalam memberikan “pesan dan harapan” kepada orang tua  bukan ketegasan

Pertanyaan

Terima kasih diberi kesempatan bertanya. Teh kiki, Anak saya yg pertama umur 8 thn termasuk tipe yg tdk mudah beradaptasi dgn suasana yg baru sptnya pengaruh waktu kecilnya jarang main keluar dgn seumuranny krn rmh kami dulu agak jauh dgn tetangga. pertanyaan saya bgmn menumbuhkan rasa percaya diri dan keberaniannya utk menghadapi hal2 yg mungkin buat dia tdk nyaman di suatu tempat yg misalnya di situ tdk ada teman sekelasny… pdhl saya menginginkan dia bisa beradaptasi segera atau mau berkenalan dgn teman yg baru di tempat tsb… pernah dibawa ke acara sanlat tp dia lht ngak ada temen sekelasnya akhirnya nangis minta pulang lagi hiks:|

Jawaban

Mbak sinta sebelum menjadi teman sekelas kan teman temannya juga irang asing yg tdk dikenal kan ya, saya juga punya tipe anak seperti itu, lalu saya dgn pede membangun pertemanan dgn calon calon teman anak saya. Dulu pernah punya kisah serupa (ada di episode 7 kisah di fb saya) saya yg kenan, saya yg titipkan anak saya ke remannya untuk diajak main, saya antar shafiyah beli hadiah untuk reman barunya, saya minta ia bantu menemani shafiyah dan mengenalkan dgn murid murid lainnya. Alhamdulillah seiring dengan waktu setelah pertama kali proses masuk ke libgkungab baru pernah ia lewati, maka energi aktivasi untuk kasus serupa di lingkungan baru lainnya tdk sebesar energi aktivasi yg pertama. Kenapa? Krn dia sudah pernah menaklukannya. Walau shafiyah ttp dgn karakter pemalunya, ia membutuhkan waktu yg lebih singkat untuk mau bergabung di lingkungan baru di indo saat ini. Faktornya bukan hanya karena gak banyak org ketika kecil atau tdk terbiasa bertemua orang, iya itu mubgkin juga mempengaruhi, tp secara tempramen bawaan dr sononya memang ada tipe tipe anak yg pemalu dan membutuhkan waktu lama untuks beradaptasi. Terhadap anak spt ini kita tidak bisa menaruh harapan seperti kita melihat diri kita yg mungkin supel. Tp ingatlah bahwa Allah menciptakan orang irang seperti itu untuk melengkapi kehidupan. Dan org org seperti itu ttp akan bs hidup sesuai dgn peran yang sesuai dgn caranya

Intinya sih keterlibatan kita untuk membantu mereka membangun pertemanan. Ibarat para pria introvert membutuhkan mak comblang untuk melamar akhwat ekstrovert hahaha  biasanya org org pemalu merasa cukup menemukan 1 atau 2 sahabat sejati, dan mereka akan cenderung setia sekali. Dr sahabat itulah ia bisa terhubung dgn pertemanan yg lebih masiv

Pertanyaan

bunda rizkiya

Assalamualaikum, saya mulai mengamati perilaku keponakan saya yg cenderung rewel dan manja berlebihan kepada eyangnya (mertua saya). Hal ini dikarenakan eyangnya yg terlalu memanjakan. Kakak ipar saya menjadi sering mengeluh karena perilaku anak yg berbeda ketika di rumah sendiri dan di rumah mertua (setiap hari keponakan akan bermain ke rumah mertua). Saat ini saya tinggal bersama mertua, dan saya sangat khawatir dengan tumbuh kembang anak saya. Padahal saya ingin anak saya menjadi anak yg mandiri dan tegar. Bagaimana menanggulangi permasalahan ini, teh kiki? Jazakumullah

Jawaban

Waalaikumsalam, cinta nenek oh cinta nenek. Perlu disadari bahwa cinta nenek sangat alamiah berbeda wujudnya dgn wujud cinta kepada anaknya di masa lalu. Mungkin bs dibuar batasan dgn perjanjian tertentu bersama anak. Batasan secara durasi dan wilayah wilayah kemanjaan hehe sambil terus mengharmonisasikan visi bersama mertua. Kalo anaknya sdh bs di ajak kerjasama, ya kita bs lebih fokus dalam penegakkan aturan yg telah disepakati bersma. Intinya mah, anak anak harus ttp mengerti bahwa kita punya “rules” keluarga

Tidak mudah memang, makanya perlu diupayakan supaya porsinya hanya menjadi bumbu penyedap saja hahahah. Sebab kalo cinta dalam wujud yang berbeda ini menjadi bahan baku utama, ya….  Perlu upaya lebih serius kali ttp mau meraiu visi yang sdh dipancang

Ajak nenek kakeknya belajar bersama juga, jadikan mereka bagiab dari pencapaian visi misi itu, kali sdh baik hasilnya mah semua juga bangga dan bahagia

Semua demi kebaikan anak maka butuh kerja sama dari berbagai pihak agar tdk terjadi perbedaan pola asuh antara orang tua dgn kakek nenek, yang nantinya akan membuat bingung anak.

 

Closing

Jazakumullah atas kesempatan di undang disini, semoga kita termasuj orang tua yang bisa bersabar atas segala tantangan yg kini kita hadapi, jika blm juga sabar, maka mintalah kekuatan, kemampuan dan kesabaran itu

 

Butuh kesabaran ekstra dalam mendidik dan mengasuh anak karena anak juga manusia dan bukan kertas kosong. Banyak faktor yg mempengaruhi perilakunya.

Jika kesabaran sudah mulai meredup maka ingatlah kembali bahwa “ANAKMU LADANG SURGAMU”.

Bukankah kesabaran itu tidak ada batasnya?

 

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tatkala Allah menciptakan makhluk-Nya, Dia menulis dalam kitab-Nya, yang terletak di sisi-Nya di atas ‘Arsy, “Sesungguhnya rahmat-Ku lebih mengalahkan kemurkaan-Ku”.(HR. Bukhari dan Muslim).

Begitu luasnya rahmat dan kasih sayang Allah Ta’ala. Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Aku belajar kesabaran dari seorang anak kecil. Suatu ketika, saat berjalan menuju masjid aku mendapati seorang wanita di dalam rumah sedang memukul anaknya. Anak itu menjerit, lalu membuka pintu dan berlari keluar. Wanita itu pun mengunci pintu.Tatkala aku pulang (dari masjid), aku dapati anak itu tertidur di depan pintu setelah menangis beberapa saat dan meminta belas kasihan ibunya. Melihat hal itu luluhlah hati sang ibu dan membukakan pintu untuknya”. Fudhail bin ‘Iyadh pun menangis hingga air mata membasahi janggutnya. Beliau kemudian berkata: “Subhanallah, kalau saja seorang hamba mau bersabar di depan pintu (rahmat) Allah, pasti Allah Ta’ala akan membukakan pintu rahmat itu untuknya!!”. (Ibnu Abi Syaibah, Mushannaf Ibni Abi Syaibah, 6/22).

Selalu menitik airmata tiap ingat kisah ini dalam makna sebenarnya KESABARAN..

Sesi bebas

Pertanyaan

Aslm. Teh kiki, punten saya mau tanya. Saya seorang ibu dengan 1 anak. Aktivitas saya, wiraswasta -masih ikut bisnis ortu-. Saat ini, saya bawa anak saya ke tempat kerja. Karena ada keinginan dr saya dan suami utk mengasuh anak sendiri dan membuat “ibu” sebagai sosok yg paling nyaman untuknya. Namun, lama kelamaan kok saya seperti tidak punya cukup waktu utk bisa terus meladeni si baby. Keinginan saya itu berdasarkan pengalaman saya pribadi yg dulu diasuh oleh pengasuh krn ibu sibuk sbg business woman. Saya merasa jauh dr ibu dan ga bisa terbuka dgn beliau. Bahkan sampai saat ini. Bagaimana ya teh cara menyiasatinya? Supaya bisa sama2 tercapai “kepercayaan” anak thdp ibunya dan “kesibukan” saya. Makasi banyak teteh.

Anak saya umur 7 bulan. Kerja masuk setiap hari kerja jam 10 pagi – 5 sore. Kadang di rumah juga mesti ada yg dikerjakan. Di kantor agak fleksibel, kalau anak rewel ya menyusui, gendong, nyuapin, dsb.

Jawaban

Berhubung usianya masih 7 bulan, perhatian yg dibutuhkan masih lebih bersifat kebutuhan fisik, dan ibu diijinkan untuk ke kantor membawa anak, yaaaa disukuri dan dinikmati saja mbak keadaannya tidak semua merasakan rezeki spt mbak. Nanti sejalan dgn waktu mbak akan merasakan bahwa kebutuhan mereka semakin kompleks tdk hanya makan minum dam urusan bak lagi, nanti dilihat lagi saja, di analisis lalu diistikhorohkan yg terbaik. Apakah masih ttp bekerja, bekerja dengan syarat atau pilihan lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s